Anca Laika mahasiswa FKM UNAIR mengikuti konferensi 'International Zero Waste Cities Conference' di Bandung. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Berkat kegigihan dan kepedulian terhadap pengelolaan sampah, Anca Laika mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) terpilih mengikuti konferensi internasional bertema kota tanpa limbah (International Zero Waste Cities Conference) di Bandung. Koferensi pertama yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu diselenggarakan 5-7 Maret 2018 lalu.

Untuk bisa mengikuti IZWCC, Anca dan peserta yang lain harus melalui seleksi yang ketat. Salah satu syaratnya yaitu peserta pernah berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan sampah di daerah asal, minimal telah berjalan selama tiga tahun. Selain mahasiswa, konferensi diikuti oleh dosen, pemerintahan, komunitas, dan para pegiat lingkungan.

Dalam konferensi itu, topik yang Anca angkat adalah pengelolahan limbah diaper melalui program bank sampah popok dengan sistem Lisa Kepo. Anca mengangkat topik itu berdasarkan makalahnya yang lolos pendanaan Kemenristek Dikti melalui Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat tahun 2015 lalu.

Ketika itu, judul yang ia angkat adalah Bank Sampah Popok Dengan Sistem Lisa Kepo (Beli Sayur Pakek Popok) sebagai Upaya Penanggulangan Pencemaran Sungai Di Surabaya.

“Sebanyak 37 persen pencemaran sungai di Surabaya disebabkan oleh sampah popok bayi. Pencemaran itu membuat ikan mulai mengalami kepunahan dan kelainan interseksual. Salah satu pemicu kepunahan dan kelainan interseksual tersebut karena tingginya kandungan bahan organik dalam air sungai akibat pencemaran popok bayi,” terang mahasiswa semester enam peminatan Kesehatan Lingkungan itu.

Dalam konferensi itu, lanjut Anca, banyak pembicara nasional maupun internasional yang terlibat. Salah satunya adalah Flor Berlingen, dari Zero Waste France.

“Hampir semua speakers menyampaikan tentang bahaya penggunaan insinerator (wadah pembakaran sampah, Red) sebagai alat pengolahan sampah domestik,” ujar alumnus SMAN 16 Surabaya itu.

Materi lain yang dibawakan para speakers yaitu Communities Campaigning Against False Solution, Flexing Youth Muscles For Zero Waste, Zero Waste In Health Care, Organizing Zero Waste Public Event, dan masih banyak lagi.

Selain konferensi, Anca mengaku senang karena usai kegiatan diajak untuk berkeliling mengunjungi beberapa kampung di Bandung yang sudah menerapkan prinsip Zero Waste. Ia dan peserta lain berkeliling mengunakan bandros (Bandung Tour on The Bus) yang disediakan pemerintah Kota Bandung.

Konferensi yang diadakan dalam rangka memperingati hari peduli sampah nasional serta tindak lanjut dari program ‘Tiga Bulan Bebas Sampah’ itu bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pengolahan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya KLHK, berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, Pemerintah Kota Cimahi, dan Pemerintah Kabupaten Bandung.

Mengangkat tema Circular City adalah Kota Masa Depan, konferensi ini diselenggarakan dengan tujuan menyebarluaskan pemahaman mengenai prinsip Zero Waste dalam pengelolaan sampah kepada berbagai pemangku kepentingan. (*)

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone