“Ayo Belajar” 2018 Turut Beri Pendidikan Antikorupsi

UNAIR NEWS – Program Ayo Belajar BEM FISIP 2018 telah berjalan semenjak empat periode lalu. Sebelumnya, program untuk masyarakat itu berlokasi di Mojo. Pada periode ini, BEM FISIP menggelar program tersebut di Gubeng Klingsingan.

Ditemui UNAIR NEWS pada Selasa (6/3), perwakilan Kementerian Pengabdian Masyarakat (Pengmas) BEM FISIP UNAIR 2018 Kevina Agatha (Hubungan Internasional, 2015) memaparkan program Ayo Belajar pada periode 2018. Menurut dia, banyak masalah-masalah sosial di perkotaan karena tingkat pendidikan yang kurang. Melalui program itu, lanjut dia, kementerian pengmas berusaha memberi adik-adik tambahan pendidikan.

“Di sini, kami berusaha mencukupi pendidikan adik-adik. Perbedaan kami dengan bimbingan belajar lainnya adalah kami tidak sekadar memberikan pembelajaran akademik, tapi juga soft skill. Misalnya, pembuatan kerajinan, menggambar, mengaji, dance, dan games yang membangun secara sosial,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Pengmas BEM FISIP 2018 Gita menambahkan bahwa Ayo Belajar juga membekali pelajar dengan moral antikorupsi. Prinsipnya, korupsi sekecil apa pun harus dihindari.

Sasaran dari program tersebut, lanjut dia, adalah orang-orang di lingkungan sekitar. Pemilihan Gubeng Klingsingan didasarkan pada tingkat perekonomian penduduk sekitar.

“Kami di sini melihat adanya tingkat perekonomian yang tidak rata. Bahkan, ada yang kurang. Kita juga melihat respons serta antusias adik-adik dan pejabat RW,” ungkap Kevina.

Soal hasil program tersebut, Kevina berharap adik-adik lebih memahami pelajarannya. Juga mulai sadar mengenai permasalahan-permasalahan di sekitar, khususnya hal korupsi. Karena itu, pendataan akan dilakukan setiap pelajaran usai.

“Kita harus tentukan target untuk mengetahui capaiannya. Jadi, nanti didata kekurangan anak-anak. Misalnya, belum bisa perkalian-pembagian. Dua bulan ke depan pada periode pertama, kemampuan mereka diharapkan bisa lebih paham,” tambah Gita.

Gita mengungkapkan, Ayo Belajar juga memiliki pelatihan pengajar bernama Sekolah Mahasiswa. Pelatihan itu ditujukan untuk melatih pengajar agar lebih siap dalam menghadapi adik-adik.

“Kita mendatangkan psikolog anak. Nanti, teman-teman bisa sharing kendala di lapangan serta psikolognya bisa memberikan saran. Kami memberikan pembekalan gaya atau cara belajar. Ini agar teman-teman yang mungkin belum pernah mengajar agar bisa tau. Kan, masing-masing anak karakternya berbeda,” tutur Gita.

Melalui program pengabdian semacam tersebut, Gita berharap mahasiswa bisa mengasah empati. Misalnya, membantu hal-hal kecil di sekitar. ”Kita memfasilitasi teman-teman untuk berbagi, empati. Baik melalui uang maupun berbagi ilmu,” katanya. (*)

 

Penulis: Moh. Alfarizqy

Editor: Feri Fenoria