FISIP UNAIR Ambil Bagian dalam Perjuangan Perempuan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Women Day
Novri Susan S.Sos., MA., Ph.D., saat memoderatori diskusi publik memperingati hari perempuan internasional. (Foto: Siti Nur Umami)

UNAIR NEWS – Media sosial saat ini memiliki kiprah yang sangat penting dan perempuan memiliki andil didalamnya. Bertepatan dengan International Women’s Day, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Airlangga, menghelat diskusi publik dengan tema “Perempuan dan Media Sosial”.

Diskusi yang dilangsungkan di Ruang Adi Sukadana pada Kamis (8/3), mendapat apresiasi dari Wakil Dekan III FISIP UNAIR Prof. Myrtati Dyah Artaria Dra, M.A., Ph.D. Dalam sambutannya, Prof. Myrtati mengungkapkan bahwa isu kesetaraan gender masih sangat hangat bagi kalangan perempuan.

“Perempuan masih dianggap isu penting bahwa  masih banyak yang belum mengalami kesetaraan gender. Pada hari perempuan ini, yang harus kita angkat dan peringati adalah perjuangan perempuan,” ungkapnya.

Diskusi publik itu dihadiri para pakar dibidangnya. Mulai dari Pakar Sosiologi Gender Prof. Dr. Emy Susanti, M.A., Penelusur Informasi Perempuan Kontemporer, Dr. Tri Susantari Dra, M.Si., Pakar Media Sosial dan Perempuan  Dr. Liestianingsih Dwi D, M.Si., hingga Novri Susan S.Sos., MA., Ph.D., sebagai peninjau sosiologis.

Mengawali diskusi, Novri memantik dengan realitas media sosial dan perempuan saat ini. Ia menjelaskan, media sosial seharusnya menjadi panggung baru dalam mengakselerasi advokasi. Begitu pula dengan sistem partiarki yang sudah menyebar dalam media sosial.

“Sistem ini menempatkan perempuan setelah laki-laki. Artinya, laki-laki lebih dominan,” tutur Novri.

Sependapat dengan Novri, Liestianingsih memaparkan bahwa media sosial di era digital menghadirkan komunikasi tidak lagi satu arah, melainkan interaktif. Semua orang menjadi komunikan dan dapat mengunggah apa saja, bahkan ranah pribadi. Berbagai foto pernikahan, keluarga, kesedihan, dan kegembiraan menjadi milik publik, bahkan pertengkaran suami istri. Mirisnya perselingkuhan tidak lagi menjadi wilayah personal.

“Banyak pengguna media sosial yang mengunggah foto anak mereka, padahal foto anak-anak dibawah 10 tahun tidak diperbolehkan karena rentan kejahatan dan tindak criminal,” tutur Liestianingsih.

Pada fenomena pelakor, Liestianingsih menjelaskan bahwa di media sosial terdapat dua sisi, perempuan yang curhat sebagai “orang kedua” ditinggalkan pasangan atau perempuan yang dituduh sebagai “perebut”. Perempuan yang dituduh sebagai pelakor dibully oleh warga media sosial, tetapi sebagian besar berasal dari perempuan. Lantas, kemanakah laki-laki sebagai penyebab perselingkuhan?

“Sebenanya yang terjadi adalah pelakor merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan. Perselingkuhan terjadi karena perempuan merebut suami orang dan perempuan sebagai istri dianggap gagal mengurus social,” terangnya.

“Kita sepakat keadaan saat ini masih perlu diperjuangkan. Jangan menjadi kaum muda yang pasif, aktiflah dalam berfikir dan kita harus ikut ambil bagian,” tutup moderator.

Selamat Hari Perempuan Internasional, Ambil Bagian dan Terus Maju !

Penulis : Siti Nur Umami

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu