Dato'
Rektor UNAIR Prof. Nasih saat memberikan ijazah doktor honoris causa kepada Dato’ Sri Prof. DR. (H.C) Tahir, MBA., disaksikan langsung oleh Menristek Dikti dan Ketua MWA UNAIR. (Foto: Bambang Edi S)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Prosesi Pengukuhan Gelar Doktor Honoris Causa Dato’ Sri Prof. DR. (H.C) Tahir, MBA., berlangsung dengan khidmat. Pada pergelaran acara yang dilangsungkan di Aula Garuda Mukti, Kampus C, Universitas Airlangga, pada Kamis (8/3), Dato’ Tahir mendapat gelar kehormatan di bidang Ilmu Ekonomi dan Kebijakan Publik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR.

Karena itu, Dekan FEB UNAIR Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak., selaku promotor menyatakan bahwa gelar doktor kehormatan yang diberikan kepada Dato’ Tahir sudah tepat. Selain berangkat dari keputusan pemerintah, pemberian gelar doktor kehormatan kepada Dato’ Tahir itu dilihat dari berbagi kiprah yang telah dilakukan dalam menuntaskan berbagai permasalahan bangsa dan dunia.

“Bukan hanya itu, yang bersangkutan juga sudah pernah menjadi dosen luar biasa di FEB UNAIR. Dan, menjadi dosen tamu untuk mengisi kuliah umum kepada mahasiswa,” terangnya.

Kemudian, di hadapan para puluhan hadirin yang terdiri atas beberapa pejabat penting negara, Dato’ Tahir pada sela menyampaikan orasi yang berjudul “Menjadikan Ekonomi Indonesia Berdaya Saing Global dengan Mengelola Sumber Daya Secara Berkeadilan: Prespektif Resource-Based Theory”, juga mengulas beberapa hal seputar jalan panjangnya dalam menggapai kesuksesan. Meski bagi dia, kesuksesan adalah sebuah proses dan jalan untuk terus dilanjutkan.

“Bagi saya, hidup ini ibarat pendakian gunung. Badai harus terus dihadapi dan setiap fase kesuksesan merupakan sebuah jalan yang harus terus dilanjutkan,” ungkapnya.

Selain itu, Dato’ Tahir yang kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952, itu mengungkapkan bahwa anugerah gelar doktor kehormatan yang diberikan UNAIR merupakan sebuah penghargaan yang luar biasa. Pasalnya, darah Surabaya yang menjadi tanah kelahirannya erat berkaitan dengan keberadaan UNAIR yang juga berada di tengah Kota Pahlawan itu.

“Saya ini asli Surabaya. Rumah saya ada di pusat kota. Jadi, bukan sekadar Surabaya pinggiran,” ucapnya yang diiringi tawa seluruh hadirin.

Pada akhir orasi, Dato’ Tahir kembali menekankan pentingnya peranan filantropi. Bagi dia, filantropi bukanlah sedekah atau kegiatan tanggung jawab sosial. Namun, filantropi merupakan komitmen yang harus terus dipegang dan dilakukan.

“Apa  pun kondisinya, filantropi adalah sebuah komitmen. Upaya bersama untuk mewujudkan keadilan dan menjadikan bangsa ini semakin beradab,” tandasnya.

Seusai paparan dari Dato’ Tahir, Rektor UNAIR Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menyatakan bahwa hal-hal yang dikemukaan oleh Dato’ Tahir itu sejatinya sejalan dengan tekad UNAIR hingga lima tahun ke depan. “Bahwa kami juga berkomitmen untuk mewujudkan Indonesia yang Adil dan Beradab,” tandas Prof. Nasih

Penulis: Nuri Hermawan

Editor:  Feri Fenoria R

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone