RS UNAIR
dr. Hari Paraton, Sp.OG(K) ketika menerangkan permasalahan resistensi mikroba pad One Day Course RS UNAIR. (Foto: Hilmi Putra)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Rumah Sakit Pendidikan Universitas Airlangga pada Sabtu (3/03), mengadakan Pelatihan One Day Course yang bertemakan ‘Kiat Implementasi Program Pengendalian Resistensi Antibiotika (PPRA) dalam Menghadapi Akreditasi RS (SNARS)’. Pelatihan itu diselenggarakan atas kerja sama Komite Nasional PPRA Kemenkes RI dan PPRA RSUD Dr. Soetomo. Acara tersebut menghadirkan 3 narasumber yaitu dr. Hari Paraton, Sp.OG(K), Prof. Dr. Kuntaman, dr., Sp.MK(K)., dan Mariyatul Qibtiyah S.Si, Sp.FRS, Apt.

Acara yang dilangsungkan di Hall Dharmawangsa Lt. 8 RS UNAIR itu diikuti sekitar 60 peserta pelatihan yang dimulai sekitar pukul 8 pagi. Di sesi pertama, dengan moderator dr. Khanisyah Erza, Sp. OG, Hadi menjelaskan sejarah mengenai kemunculan antibiotik dan menjadi marak digunakan seperti sekarang.

“Sir Alexander Fleming merupakan penemu antibiotik. Antibiotik sendiri dalam masyarakat sudah dikonsumsi untuk mengatasi penyakit infeksi secara luas di perang dunia. Sayangnya Sir Alexander Flaming tidak mengajarkan penggunaan yang benar sehingga banyak perbedaan cara penggunaan,” terang Hadi.

Hadi juga menambahkan bahwa hampir 60-70% antibiotik yang digunakan tidak wajar menyebabkan flora normal atau microba asli tubuh ikut mati dan tidak membunuh bakteri penyakit. Dampaknya, akan membuat resistensi terhadap antibiotik yang dikonsumsi itu.

Antimicrobial resistance disingkat AMR, tambah Hadi, akan menimbulkan masalah yang cukup besar. Contohnya adalah kegagalan operasi canggih dan kompleks, menimbulkan beban mordibilitas, mortalitas, dan kecacatan sampai kebutuhan pembayaran atau cost yang harus ditanggung.

Well brands sampai menyatakan bahwa resistensi bakteri bukanlah masalah kesehatan tetapi juga menjadi masalah ekonomi. Jadi, ketika kita membiarkan PPRA tidak dijalankan, uang kita akan habis untuk mengobati. Contohnya saja negara miskin akan terbebani biaya yang lebih tinggi karena biaya kesehatan tinggi dengan pendapatan minim,” jelas Hadi

Dalam penjelasannya, Hadi memberikan contoh kasus akibat infeksi resistensi antimikroba mengharuskan menjalani 162 hari dirawat. Dalam kaca mata dunia, World Health Organization (WHO) melalui programnya World Health Assambly (WHA) terdapat 5 rencana untuk mengatur resistensi antimikrobial. Kelimanya yaitu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan dari AMR, memperkuat pengawasan dan penelitian, mengurangi insiden infeksi, mengoptimalkan penggunaan obat anti mikroba, dan terakhir memastikan investasi jangka panjang melalui obat-obatan, vaksin, diagnosa yang baru

“Harapan kami dari pelatihan ini dapat timbul kesadaran High Quality Health Care dan semua komponen yang bersangkutan dengan program PPRA tidak kebingungan lagi dan sepaham mengenai AMR,” tutur Hadi diakhir sesinya.

 

Penulis : Hilmi Putra Pradana

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone