Direktorat Pendidikan Universitas Airlangga menggelar ”Workshop Penyusunan Modul Interprofessional Education (IPE)” di Ruang Kahuripan 300, Lantai 3, Kantor Manajemen UNAIR Kampus C, Kamis (8/3). (Foto: Feri Fenoria)
ShareShare on Facebook14Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan terus dilakukan oleh jajaran sivitas Universitas Airlangga. Salah satunya melalui pelaksanaan variasi program pendidikan penunjang mutu. Terkait dengan hal itu, UNAIR melalui Direktorat Pendidikan menggelar ”Workshop Penyusunan Modul Interprofessional Education (IPE)” pada Kamis (8/3).

Bertempat di Ruang Kahuripan 300, Lantai 3, Kantor Manajemen UNAIR Kampus C, kegiatan tersebut diikuti sejumlah dosen dari fakultas bidang kesehatan dan psikologi. Hadir menjadi pemateri adalah Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp. An.KIC., serta Dr. Diantha Soemantri, MMedEd., PhD. Masing-masing pembicara mengangkat topik “Kiat Penyusunan Modul” dan “Strategi Pembuatan Modul IPE’ Sharing Experience from RIK UI”dengan topik “Kiat Penyususnan Modul”.

Koordinator IPE Dr. Prihartini Widyanti, drg., M.Kes., mengungkapkan bahwa workshop tersebut merupakan rangkaian kegiatan menuju implementasi IPE di UNAIR. Yakni, lanjut dia, suatu program yang kemudian mengawal adanya kolaborasi dan interaksi dari beberapa profesi.

”Sementara yang menjadi peserta adalah dosen dari bidang kesehatan. Ada pula psikologi,” ujarnya saat ditemui UNAIR NEWS. ”Meski demikian, ke depan tidak tertutup kemungkinan, ini (IPE, Red) juga mencakup bidang sosial humaniora dan live science,” imbuhnya.

Dr. Prihartini memaparkan, IPE adalah suatu pelaksanaan pembelajaran yang mencakup dua atau lebih profesi yang berbeda. Terutama ditujukan untuk meningkatkan kolaborasi dan kualitas pelayanan. Pelaksanaannya dapat dilakukan dalam semua pembelajaran, baik sarjana maupun pendidikan klinik. Tujuan utama dari semua itu, lanjut dia, adalah menciptakan tenaga kesehatan yang profesional.

”Jadi, sederhananya, nanti ada suatu program, di mana setiap profesi seperti dokter, dokter gigi, perawat, farmasi, dan ahli kesehatan masyarakat akan dibuat, menjadi, dan mempunyai pengalaman bahwa dia itu belajar bersama tentang suatu isu atau topik tertentu. Selanjutnya, hal itu mengharuskan mereka berkerja sama. Mencarikan sebuah solusi, way out, dari suatu masalah atau kasus di bidang kesehatan,” jelasnya.

”Dengan adanya kontak atau interaksi itu, penyelesaiannya bakal lebih efektif,” tambahnya.

Hal itulah, sebut Dr. Prihartini, termasuk dalam upaya penyiapan instrumen-instrumen terkait dengan program IPE. Mengingat, pembahasan dan penggodokannya dimulai pada pertengahan tahun lalu.

“Kekurangan sarana bukan berarti kita mesti pesimistis. Kita bisa memanfaatkan hal-hal yang sudah ada. Sekaligus mengarahkan pengembangan IPE yang lebih luas ke depan. Termasuk melalui KKN yang mencakup lebih banyak domain ilmu,” tuturnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook14Tweet about this on Twitter0Email this to someone