Saya Ingin Dia Memanggil Mama dan Hafalkan Ayat yang Kita Ajarkan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dokter spesialis anak dr Robby Nurhariansyah spA (paling kanan) memeriksa bayi Aqila pasca dua minggu operasi. (Foto: Binti Q. Masruroh)

UNAIR NEWS – Retno Willis mengelus kepala dan pipi bayi yang digendongnya. Diliputi mata berkaca-kaca, ia mengatakan kepada awak media tentang rasa syukur karena Aqila Kirana Salim, anak keduanya, semalam sudah bisa tersenyum. Dan, tubuhnya telah bisa menerima respons dari sang ibu. Diakui Retno, kondisi itu telah jauh membaik dibanding dua minggu lalu ketika buah hatinya dibawa ke Rumah Sakit Universitas Airlangga (RS UNAIR).

Aqila Kirana Salim, bayi 1,6 tahun, telah melewati masa kritis sebelum mengalami delapan jam operasi Hydrocephalus pada Kamis (22/2). Dokter spesialis anak yang menangani Aqila dr Robby Nurhariansyah spA, mengungkapkan, sepanjang operasi yang rumit, telah dilakukan evakuasi cairan dalam otak Aqila. Kini struktur dan tekanan dalam otak mulai bagus.

“Saat ini kondisinya sudah baik sekali. Kontak mata bagus. Anaknya mulai mengenal suara ibunya, mengenal suara lingkungan, serta gerak tangannya sudah bagus. Dan, semalam tangan anak sudah bisa menggapai ibunya,” ujar dokter Robby.

Karena operasi bayi yang sangat rumit dan mengeluarkan darah yang cukup banyak, Robby melanjutkan bahwa bayi Aqila mengalami penurunan berat badan. Saat datang di RS UNAIR, berat badannya mencapai 7 kg. Kini beratnya menyusut menjadi 6,3 kg. “Ini bisa dimaklumi karena memang pasca-operasi,” lanjutnya.

Dua minggu pasca-operasi, bayi Aqila sedang dalam peningkatan nutrisi melalui makanan padat dan susu. Rencananya, dengan 3–4 bulan pantauan, dilakukan operasi tahap kedua pada Agustus nanti.

Sebelumnya, kasus bayi dengan Hydrocephalus sudah pernah ditangani RS UNAIR. Hanya, untuk kali ini, Hydrocephalus disebut langka karena disertai dengan Craniosynostosis. Dokter Robby menjelaskan, bayi dengan Hydrocephalus bisa dideteksi sejak dalam kandungan.

Semakin cepat orang tua menyadari pentingnya penanganan segera, bayi bisa segera ditangani. Kemungkinan untuk selamat jauh lebih tinggi dibanding datang dengan usia anak yang sudah cukup banyak atau bahkan terlambat.

Sementara itu, Retno mengaku sangat bersyukur jauh-jauh dari Batam dan bertemu dengan dr. Indri Lakshmi Putri, Sp.BP-RE (KKF) selaku dokter bedah plastik rekonstruksi kraniofasial RS UNAIR dan tim yang menangani operasi bayi Aqila. Bagi dia, kesehatan bayi Aqila adalah yang terpenting saat ini.

“Sekarang ini tujuannya dia sehat. Tidak ada keluhan. Dia bisa hidup bersama kami. Sambil kami terus berusaha. Kalaupun nanti tumbuh seperti abangnya, itu bonus buat kami,” tutur Retno.

Apa yang ingin ibu dengar dari Aqila ketika nanti ia bisa bicara? Tanya salah seorang awak media kepada Retno. Sembari berupaya menahan air mata, Retno berkata “Saya ingin dia memanggil, mama, ayah, abang, dan hafalkan ayat-ayat yang kita ajarkan”. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria Rifai

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu