ukir impian
REKTOR Universitas Airlangga berjabat tangan dengan Rifa, usai memberikan piagam penghargaan atas prestasi lulusan S1 Keperawatan UNAIR ini, dalam wisuda Maret 2018. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Cita-cita ingin menjadi wisudawan terbaik sudah diimpikan Rifa Rindayani Syafitri sejak kelas X SMA. Ukiran impian yang terpaku di dinding kamar Rifa itu, kini menjadi kenyataan. Mahasiswa asli Surabaya ini berhasil mewujudkan impiannya, Wisudawan Terbaik S1 Fakultas Keperawatan (FKp) dengan IPK 3,75.

”Saya selalu punya keinginan jangka panjang. Nah keinginan yang bener-bener itu saya ukir di tembok kamar. Saya selalu ukir setiap keinginan besar itu. Setiap mau tidur saya selalu melihat ukiran itu dan merasa jadi tambah semangat,” kata Rifa kepada Warta Unair.

Mengingat perjuangan untuk masuk UNAIR tidak mudah, ditambah tidak ingin mengecewakan kakak yang membiayainya, Rifa mengaku selama menempuh pendidikan, dirinya hanya fokus pada kuliah, sehingga hasilnya maksimal. Walaupun terkadang pada waktu senggangnya dia manfaatkan untuk nge-band bersama grupnya di berbagai acara.

”Dulu masuk UNAIR itu susah banget. Saingannya sangat banyak. Dari sekolahku sendiri saja ada sekitar 20-an yang ambil Pendidikan Ners. Jadi sempet ragu bisa lolos atau tidak. Tapi setiap lihat ukiran di kamar, jadi semangat lagi deh. Dan Alhamdulillah akhirnya jadi satu-satunya yang lolos dari sekolahku,” ungkapnya bangga.

Mengenai skripsi, anak terakhir dari tiga bersaudara ini mengangkat judul “Analisis Faktor yang Memengaruhi Terjadinya Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.” Alasannya mengambil judul itu, karena sebagian besar mahasiswa FKp sering mengalami rasa nyeri pada punggung bagian bawah.

”Jadi terpikirlah memilih judul itu. Dengan mengetahui penyebabnya, kita bisa mencegah terjadinya nyeri punggung itu,” tambahnya.

Mahasiswa kelahiran 10 Maret 1995 itu kini sedang disibukkan dengan program professi. Rifa mengaku tidak memiliki kesibukan lain karena ingin fokus dengan profesinya. Selain itu ia ingin membuktikan bahwa dirinya tetap fokus, walaupun sudah mendapatkan predikat wisudwan terbaik.

Kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studinya, Rifa memberi masukan agar memiliki semangat tinggi dan memiliki tujuan kedepan. ”Mungkin bisa menumbuhkan semangat belajar dengan cara saya. Menuliskan keinginan terbesar pada tempat yang sering dilihat, misalnya di kamar. Dengan cara itu, otomatis setiap melihat tulisan tersebut bisa menjadi doa dan semangat bagi kita,” katanya. (*)

Penulis : M. Najib Rahman

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone