Dinas Kesehatan Kota Surabaya Adakan Imunisasi Difteri di UNAIR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi
Ilsutrasi oleh thinkstock

UNAIR NEWS – Difteri merupakan infeksi bakteri yang sangat menular dan dapat menyebabkan korban jiwa. Penyakit itu menyerang saluran pernafasan pada manusia. Untuk meminimalisir semakin meluasnya bakteri tersebut, Dinas Kesehatan Kota Surabaya mengadakan imunisasi kepada masyarakat. Tidak terkecuali warga Universitas Airlangga.

Ditemui di Aula Fadjar Natanegoro, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga, pada Jumat (2/3), Moch. Ashadi Muhimin, S.Kep., Ns., selaku perwakilan dari Dinkes Kota Surabaya mengatakan, tujuan dari imunisasi itu untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan proteksi pada masyarakat yang berumur antara 1-19 tahun. Mengingat, di Jawa Timur sudah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri.

“Kita tidak tahu penyebarannya sudah sampai mana saja, tapi di Jawa Timur sendiri penyebaran kasus KLB Difteri sudah merata. Antara lain Pasuruan, Sampang, Pamekasan, dan beberapa daerah lain di Jawa Timur. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kota Surabaya melakukan imunisasi untuk mencegah penyebaran bakteri ini,” ungkapnya.

Staf Seksi Surveilans dan Imunisasi tersebut menambahkan, komposisi dari vaksin tersebut terdiri dari tetanus dan difteri (Td). Selain untuk meningkatkan kekebalan dari bakteri difteri, imunisasi itu juga untuk meningkatkan kekebalan dari tetanus.

Cara yang paling efektif untuk menghindari bakteri tersebut ialah dengan imunisasi. Di samping itu, ada juga cara lain yaitu dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Perlaku tersebut diantaranya menggunakan masker ketika berada di tempat keramaian, meminum vitamin, istirahat teratur, dan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan.

“Yang paling kita tekankan ialah cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Kita tidak tahu mana orang yang terkena bakteri ini dan mana orang yang tidak terkena. ketika kita berjabat tangan dengan seseorang yang sudah terkena kemudian kita memegang hidung atau mulut tanpa cuci tangan terlebih dahulu, itu akan menjadi sumber masuknya bakteri tersebut pada diri kita,” jelasnya.

Difteri
Suasana imunisasi difteri di Aula Fadjar Notonegoro FEB UNAIR. (Foto: M. Najib)

Sementara itu, ciri-ciri orang yang terkena bakteri yang paling sering ialah merasa nyeri telan dan panas yang tinggi sekitar 38 derajat. Ketika diberikan obat penurun panas, suhu tubuh atau panas itu akan turun sebentar dan kemudian akan naik lagi.

“Jadi seperti per,” tambahnya.

Selain itu, terdapat selaput putih pada tenggorokan paling dalam (inthil-inthil, -red). Selaput putih itu tidak bisa hilang walaupun disedot menggunakan alat khusus yang ada di spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT).

Ciri berikutnya ialah leher membengkak. Ketika leher membengkak pernafasan akan tersumbat. Sehingga penderita yang awalnya tidak ngorok tiba-tiba menjadi ngorok. Untuk cara penanganannya, bagi penderita yang terkena penyakit difteri di tingkat ringan sampai sedang bisa diberikan antibiotik. Sedangkan di tingkat sedang sampai berat penangananya harus dibawa ke rumah sakit. Rumah sakit tersebut harus terdapat ruang isolasi agar bakteri tersebut tidak menular kepada orang lain.

Pada akhir, Ashadi berharap, dengan adanya kegiatan itu angka kejadian dari penyakit difteri itu bisa menurun dan semua lini masyarakat dapat berpartisipasi. Ia juga menekankan kembali untuk selalu membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.

“Yang saya tekankan ialah selalu cuci tangan sebanyak tiga kali dan salah satunya memakai sabun karena  sumber penularan terbesarnya melalui hidung atau mulut, pakai masker di keramaian, meminum vitamin, dan istirahat secara teratur,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu