SIMBOL kerjasama saling mengenal satu dengan lainnya dalam spirit Esprit de Corps. (Foto: bigstock.com)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

APABILA ada dua perusahaan besar ingin melakukan merger, maka kedua pihak harus membicarakan terlebih dahulu secara serius hal-hal yang menyangkut operasional perusaahaan. Misalnya neraca keuangan, aset perusahaan, piutang dan utang perusahaan, modal perusahaan, dsb, termasuk dokumen-dokumen pendukungnya.

Para ahli kedua perusahaan itu – kadang dibantu oleh konsultan bisnisnya– mudah menyelesaikan persoalan yang muncul tentang hal-hal tersebut. Namun pembicaraan yang relative sulit adalah soal menggabungkan “Corporate Culture” atau “Organizational Culture: atau budaya organisasi kedua perusahaan, karena masing-masing memiliki kekhasan budaya yang sudah dibangun lama dan agak susah untuk digabungkan. Budaya organisasi ini penting karena menentukan maju tidaknya suatu institusi.

Dalam ilmu manajemen personalia, ada dua macam budaya institusi itu, pertama “Terminal Value” – tujuan yang sudah diinginkan organisasi untuk mencapainya. Misalnya excellence, stabilitas, inovasi, keuntungan, dsb. Yang kedua, “Istrumental Value” yaitu perilaku yang diinginkan oleh organisasi kepada anggotanya untuk melaksanakannya, seperti bekerja keras, kreative, menghormati tradisi, dsb.

Menghormati tradisi termasuk menghormati orang yang lebih senior merupakan nilai–nilai yang diinginkan sebuah organisasi kepada semua orang di dalamnya untuk melaksanakannya. Kalau itu sebuah universitas, maka nilai-nilai tersebut harus dijalankan oleh semua sivitas akademika. Excllence with Morality milik UNAIR juga termasuk nilai-nilai yang harus dilaksanakan oleh semua orang di kampus tersebut.

Pada saat saya masuk Fakultas Ekonomi (sekarang FEB) Universitas Airlangga tahun 1973, saya dan kolega saya saling mengenal dan menghormati para senior, baik di lingkungan fakultas maupun universitas. Budaya ini ditanamkan sejak saya masuk, sehingga saya mengenal beberapa mahasiswa diluar fakultas saya (FE).

Waktu itu saya mengetahui nama-nama professor (Guru Besar) di Fakultas Kedokteran. Misalnya almarhum Prof. Asmino, yang keras mengajarkan disiplin kepada para dokter muda. Juga Prof. Ilyas, Prof. Sudarto dsb. yang beliau-beliau itu tentu tidak mengenal saya.

Saya dan sahabat-sahabat saya juga hafal dengan nama “Jenderal” –atau ketua regu fakultas lain waktu masa perpeloncoan. Senior saya, Prof. Komang Wiarsa Sardjana dari FKH mengaku bahwa dirinya dibentuk jiwanya oleh senior-senior di UNAIR, misalnya Mas Tjuk Sukiadi, dan Mas Husein Suropranoto yang nota bene dari Fakultas Ekonomi.

Mengenal kolega dan senior secara lintas fakultas, waktu itu, menjadi budaya yang sudah “deep rooted in the human heart” atau tertanam dalam-dalam di hati sanubari. Waktu tahun 1985-an saya berangkat ke Duesldorf, Jerman, petugas imigrasi di bandara Sukarno Hatta tidak memeriksa saya dengan seksama, tapi malah menyapa: ”Mas Cholis Ekonomi yang bisa Bahasa Inggris ya?” Saya tanya balik, kok kenal saya? Dia ternyata yunior alumni Fakultas Hukum UNAIR.

Akibat dari budaya luhur tersebut, maka jiwa “esprit de corps” itu sangat tinggi, tidak berfikir sektoral kefakultasan, tapi sudah lebih luas: UNAIR. Ketika saya bertemu dengan kolega, yunior dan senior dari fakultas lain, maka jiwa saya berkata bahwa saya bertemu orang UNAIR.

Sekarang, ketika saya menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi swasta dan menghadapi mahasiswa jaman now, saya agak stress: karena nampaknya budaya mengenal dan menghormati senior itu tidak ada. Bayangkan, ketika ada mahasiswa yang tidak mengikuti Quiz dan harus minta Quiz susulan dari saya dengan membawa surat dari bagian akademik, dan sebelum minta tanda tangan saya, ia bertanya –tanpa kata maaf: “Bapak namanya siapa?”.

Ketika setiap akan selesai kuliah terakhir menghadapi UAS, saya mengedarkan questioner dari pihak akademik tentang kinerja dosen, para mahasiswa juga bertanya nama saya: padahal saya sudah mengajar mereka sebanyak 14 kali pertemuan, dan mereka seharusnya tahu nama saya ketika mengambil mata kuliah yang saya ampu.

Apakah fenomena itu hanya terjadi di wilayah saya mengajar? Ternyata tidak. Bulan Desember 2017 lalu, ketika saya makan di sebuah resto di Bandung, ada dua mahasiswi dari Universitas Pajajaran Bandung menjual bunga dalam rangka mencari dana.

Saya membeli bunga itu sambil memberi info kepada mereka bahwa saya punya sahabat mantan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, namanya Professor Deddy Mulyana, Ph.D. Mereka menggelengkan kepala, tanda tidak mengenal, dan sepertinya nama itu asing betul baginya.

Padahal, Prof. Deddy Mulyana itu terkenal dimana-mana sampai ke level internasional dan buku-bukunya jadi textbook wajib di berbagai universitas. Beliau juga sering menulis di koran-koran lokal dan nasional.

Saya bertanya lagi ke kedua mojang Periangan itu bahwa dia dari fakultas mana, ternyata kedua mahasiswi itu dari Fakultas Ekonomi Unpad. Tetapi dalam hati saya berkata; itu bukan alasan, karena saya dulu juga dari FE tapi mengenal nama-nama Professor dari FK, FH, dsb.

Ketika hal tersebut saya ceritakan kepada Prof. Deddy Mulyana dan istrinya, saat menjamu makan malam saya, keduanya juga menunjukkan muka kecewa karena melihat kenyataan di Unpad pun mahasiswa satu fakultas juga tidak kenal dengan nama dekannya. Sang Professor sahabat saya itu tersirat mengakui bahwa “Organizational Culture” sudah hilang dari kampus.

Bagaimana di UNAIR? Sama saja. Banyak para mahasiswa yang duduk-duduk di masjid kampus C Mulyorejo, yang ketika saya Tanya: ”kenal beliau itu” ketika ada seorang professor yang sedang lewat, mereka tidak tahu padahal mereka sudah mahasiswa semester hampir akhir.

Kuliah dan Kegiatan Bersama itu Penting

Mengingat pentingnya kita saling mengenal dan menghormati sebagai bagian dari nilai-nilai luhur budaya organisasi, maka kampus seperti UNAIR perlu menggalakkan kegiatan bersama, kuliah bersama yang dihadiri mahasiswa semua fakultas pada awal-awal mereka masuk kampus.

Kegiatan bersama ini akan menumbuhkan esprit de corps yang tinggi dan akan mengenal satu sama lain. Esprit de Corps ini secara umum didefinisikan sebagai ”A feeling of pride, fellowship, and common loyalty shared by the members of a particular group. Perasaan memiliki kebanggaan, persaudaraan, dan kesetiaan bersama terhadap institusi.

Apabila hal ini tidak dijalankan maka perasaan kebanggaan itu hanya bersifat sektoral atau kefakultasan saja. Akibatnya, hanya kenal orang-orang di fakultasnya, itupun kalangan terbatas. Kita lihat yell-yell kebanggaan pun hanya bersifat fakultas, bukan universitas!

Budaya luhur saling mengenal dan menghormati itu sebenarnya adalah bagian dari motto Univeritas Airlangga: “Excellence with Morality” – sehingga sayang kalau itu hanya menjadi slogal retorik belaka manakala mahasiswa tidak kenal dosennya sendiri, manakala mahasiswa tidak pernah menyapa dosennya ketika berpapasan di jalan.

Apabila realita seperti itu sampai terjadi, meskipun seorang mahasiswa tersebut kategori yang pandai, cerdas, IQ-nya 150, dan lulus cumlaude, mahasiswa tersebut Excellence tapi Without (tanpa) Morality. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone