Alumni Paduan Suara Sukses Helat Konser Perdana

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Salah satu penampilan dalam orkestra di Gedung Cakdurasim. (Foto: Binti Q. Masruroh)

UNAIR NEWS – Perasaan haru, lega, bahagia, meliputi seluruh anggota orkestra. Nyaris semua penonton maju ke depan seusai konfetti menyeruak ke atas dan berhamburan di antara anggota diiringi tepuk tangan penonton. Berbagai ucapan selamat bertaburan kepada seluruh anggota dan tim Swara Svarna Indonesia (SSI) usai konser perdana yang dihelat di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, Minggu malam (25/2).

Ada total 15 lagu yang dibawakan begitu apik malam itu. Lima lagu western pop, lima lagu daerah, dan lima lagu pop progresif Indonesia. Mayoritas dari seluruh anggota, baik yang membawakan suara sopran, alto, bariton, tenor, maupun bass, adalah alumni paduan suara Universitas Airlangga, dari angkatan tahun 1976 hingga 2005.

“Kami ini, kalau orang bilang, adalah sekumpulan orang-orang gila. Yang mempertemukan kami adalah passion untuk bernyanyi. Tidak peduli profesi,” ujar Director Budi Soemitro.

Ya, mereka adalah sekumpulan orang-orang multiprofesi. Ada yang berprofesi sebagai bisnisman, dosen, menjabat sebagai doktor, profesor, hingga direktur. Mereka pun datang dari berbagai wilayah di Indonesia pada sela-sela kesibukan yang tentu begitu padat. Waktu 6 bulan cukup bagi mereka untuk mengemas sebuah pertunjukan yang hampir dipenuhi seluruh kursi dalam gedung.

“Tentang cinta”

Terkait tema, Budi mengungkapkan, cinta adalah bahasa paling universal serta bisa dipahami oleh semua orang dan segala macam usia. Cinta dapat diartikan sebagai cinta kepada orang tua, keluarga, pasangan, tanah air. Pun anggota SSI itu. SSI dibentuk, lanjut Budi, berkat kecintaan mereka terhadap seni bernyanyi.

Dalam konser yang berlangsung dua jam itu, lima lagu daerah yang dibawakan antara lain Pak Pung Pak Mustape lagu daerah Melayu, Nasonang Ma Hita lagu daerah Tapanuli, Sudah Berlayar lagu daerah Maluku, Jenang Gula lagu daerah Jawa, dan Luk Luk Lumbu lagu daerah Banyuwangi.

“Dengan tema cinta, semua orang akan merasa aku banget. Karena dirasakan dan dialami semua orang,” tutur Budi.

Foto: Binti Q. Masruroh

Kenalkan Batik Madura

Karena kecintaannya pada budayalah, setelah lagu pada babak kedua, rehat diisi dengan parade fashion show. Dalam parade itu, ditampilkan batik Madura dengan tema klasik, elegant, modern chic, casual simplicity, dan androgyny.

“Batik Madura selama ini tidak seterkenal batik-batik lain seperti batik Cirebon, Pekalongan, Yogyakarta, dan Solo. Tapi, saya ingin menunjukkan koleksi motif-motif batik Madura yang jarang diketahui oleh orang lain. Motif-motif klasik, kontemporer, maupun kombinasi yang kami ciptakan sendiri, yang kami sesuaikan dengan tren dan selera masyarakat,” ujar Budi yang juga sebagai owner Blue Lotus Batik & Art, sponsor utama acara.

Melalui konsep fashion show, lanjut Budi, ia ingin memahamkan bahwa batik tidak hanya bisa digunakan untuk kondangan dan acara resmi yang membosankan. Lebih dari itu, batik bisa didesain dengan mengikuti mode dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan.

“Saya ingin menunjukkan bahwa batik bisa digunakan dalam segala kesempatan, acara apa pun, dengan waktu yang tidak terlalu diatur. Dalam segala kesempatan bisa,” tegas alumnus Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNAIR tahun 1984 itu.

Seusai konser perdana itu digelar, Budi berharap SSI bisa memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara melalui cara mereka, yakni bernyanyi. Dengan begitu, siapa pun yang menyaksikan penampilan mereka akan ikut merasakan atmosfer kecintaan terhadap Indonesia.

“Secara internal, saya berharap SSI tetap konsisten dalam menyuguhkan kesenian, khususnya seni paduan suara, seni bernyanyi. Juga, melestarikan budaya Indonesia lewat lagu-lagu daerah yang belakangan ini kurang terdengar di masyarakat. Padahal, itu warisan luhur bangsa yang patut dilestarikan,” imbuhnya.

Sementara itu, Jani Purnawanty, S.H., S.S., LL.M salah satu anggota SSI yang juga dosen Fakultas Hukum UNAIR mengungkapkan perasaan leganya usai konser. Ia mengaku tak pernah membayangkan bahwa SSI pada akhirnya bisa menghelat konser sendiri. “Ini konser yang nggak pernah kita bayangkan, tapi ternyata bisa ketika ditekadkan,” ujarnya.

Dia melanjutkan, konser tersebut menjadi langkah awal mereka untuk mengabdi pada seni budaya nasional. “Dengan konser ini, kami jadi sadar bahwa ternyata hobi saja tidak cukup. Kita bisa memberikan lebih dari sekadar bernyanyi untuk kesenangan. Komitmen merawat lagu daerah, menampilkan lagu daerah dalam pentas paduan suara, itu akan jadi tantangan,” ungkapnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu