Mak Surati (Bagian II)

UNAIR NEWS – Mak merasa tergagap-gagap dengan ketidakmampuan dalam mengajar si tole. Apa boleh buat. Sudah berapa kali Mak marah-marah di depan tole. Dan berapa kali pula tole ganti membelalakkan mata tanpa takut beriringan dengan nada tingginya yang tak mau dikalahkan pula.

Hingga seorang tetangga, tukang gosip yang judes bin cerewet pernah berkomentar. “Kalau itu anakku, walah. Pasti udah saya sambel itu.”

“Bocah kog, sama orang tua berani.”

Jadi rasanya, cerita Malin Kundang itu memang kisah yang relevansinya masih bisa dikais. Narasi gubuk Desa, kehidupan orang tua. Dan dambaan kemewahan dalam pikiran si anak. Serta keacuhan seorang anak untuk sadar pada kondisi yang ada. Di bumbui dengan begitu materialistiknya dunia luar.

Mak yang berkali-kali marah. Tapi kenapa tidak sekalipun ‘keramat’ seorang Mak dipikirkan untuk ditakuti oleh si tole Bagus. Inilah keajaiban anak sekarang.

Kulminasinya. Bersama pergaulan yang tak bisa di tahan. Di tengah-tengah bantahan. “Masak, anak muda kog nggak boleh kemana-mana.” Di saat itu, bertumpuk fase-fase kenakalan tole. Dari mula-mula hanya sebatas menghisap sebatang rokok sekali sehari, kini sudah dua bungkus sehari. Mak ibaratnya menyajikan uang jajan harian untuknya yang berlebih hanya demi jadi asap di bakar.

Ujarnya. “Gaul bro. Cah nom kog nggak ngrokok. Nggak muda-lah.”

 Hanya saja. Prilakunya menjadi, dari rokok kemudian seteguk minuman keras mulai dicicipinya, bersama satu genk motornya. Yang setiap sore dari jam lima hingga remang-remang habis magrib mangkal di gardu jembatan pinggir jalan umum desa itu.

Miras inilah yang suatu waktu. Menjadikan hati Mak makin tersayat walau wajah keibuannya tetap mengontrol rasanya untuk tidak berlaku terlalu berlebihan. “Le, le. Siapa yang kau tiru. Sampai teler, mabuk-mabukan seperti ini. Bapakmu dulu itu orang taat.” Sambil terisak bercapur marah.

Saya hanya termenung. Si tole ini bukan seorang diri. Kerumunan hari ini mewabahkan tole lain. Banyak. Orang-orang tua bingung mengendalikan anaknya. Peralihan pikiran materialistik kota dari tawaran mode di televisi, secara masif mendorong kemalasan, memicu ilusi kemewahan. Dan orang tua, dalih rasa tak tega dipaksa anak-anaknya untuk tidak bisa mengelakkan rengekan mereka.

Satu tanya. Ketidakseimbangan Desa yang dirusak oleh dimensi infrastruktur bisnis, budaya dan kaburnya orientasi tata masyarakat yang mendambakan ketenangan, teduh dan damai. Desaku bergejolak, tidak asri. Tapi penuh dengan ranjau ‘bom waktu’ yang akan meledakkan kekisruhan mental, dan krisis kewarasan akal berpikir. [ * ]

Penulis: Sukartono (Alumni FST UNAIR Angkatan 2012)