Diduga Merusak Ginjal, Obat Metformin Justru Protektif

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
gingal
Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, SpPD, K-EMD, FINASIM saat menjelaskan tentang penggunaan obat Metformin untuk penurun gula darah. (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)

UNAIR NEWSAgar gula darah terkontrol baik, seorang penderita diabetes (diabetisi) sebaiknya  tertib dalam mengonsumsi obat penurun gula darah seperti misalnya Metformin. Sayangnya rutinitas ini seringkali menjemukan bagi sebagian dari mereka. Malah ada yang berasumsi bahwa mengonsumsi obat diabetes terlalu sering dapat merusak ginjal. Benarkah?

Metformin telah lama digunakan sebagai  terapi obat bagi para penderita diabetes. Bahkan Guide Line American Diabetes Association (ADA) menetapkan Metformin sebagai terapi lini pertama.

Menanggapi kekhawatiran masyarakat soal rutinitas mengonsumsi obat-obatan diabetes, Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. Dr. dr. Askandar Tjokroprawiro, SpPD, K-EMD, FINASIM menegaskan bahwa obat diabetes maupun obat hipertensi tidak akan berdampak buruk pada ginjal.

Rutinitas mengonsumsi obat diabetes maupun hipertensi justru menjadi proteksi bagi ginjal maupun organ tubuh lainnya.

“Kalau obat-obatan ini tidak dikonsumsi, akibatnya gula darah dan tekanan darah jadi tidak terkontrol. Ini yang malah akan merusak ginjal,” ujarnya usai mengisi acara The Quadriple Joint Symposium 2018 di JW Marriot Hotel 10-11 Februari 2018.

Secara biomolekuler, Metformin memiliki 100 manfaat. Selain digunakan sebagai obat diabetes, kebaikan Metformin juga memberi efek protektif terhadap sistem metabolik, jantung, mencegah pertumbuhan sel tumor (MCRC), serta mencegah efek nikotin terhadap risiko kanker.

Metformin juga baik dikonsumsi oleh penggemar makanan berlemak. Karena, efek Metformin diketahui dapat menghambat terjadinya penyempitan pembuluh darah.

Efek proteksi yang diperoleh dari Metformin telah banyak dibuktikan melalui sejumlah riset di di luar negeri. Paul et.al Journal of Diabetes 2016 di UK meneliti 82.205 pasien DM untuk mengetahui kaitan merokok dengan penggunaan Metformin.

Dari penelitian tersebut diperoleh fakta bahwa diabetisi perokok aktif yang mengonsumsi Metformin berisiko mengalami jantung koroner dan stroke sebesar 24 persen lebih rendah di banding dengan diabetisi perokok aktif yang tidak mengonsumsi obat tersebut. Bahkan, risiko kematiannya hanya sebesar 48 persen lebih rendah dibanding dengan diabetisi yang tidak mengonsumsi Metformin.

“Jika Metformin dikonsumsi oleh penderita serangan jantung, maka infact-nya diketahui tidak akan mudah meluas,” jelasnya.

Banyak riset yang memublikasikan benefit lebih dari obat Metformin. Mengonsumsi Metformin dalam jangka panjang diketahui mampu memperkecil benjolan tumor pada payudara maupun usus besar. Selain itu jika Metformin dikonsumsi oleh penderita kanker paru, maka harapan hidupnya diperkirakan bisa menjapai 23 persen.

Adapun beberapa jenis obat yang apabila dikonsumsi melebihi dosis dapat beresiko merusak ginjal, seperti obat pereda nyeri dan obat rematik.

“Selama dikonsumsi sesuai indikasi dan tidak over dosis, maka obat-obatan ini aman dikonsumsi,” ungkap Guru Besar Bidang Ilmu Penyakit Dalam FK UNAIR ini.

Meskipun banyak memberikan proteksi, penggunaan Metformin tetap harus disertai dengan rekomendasi dokter. Agar pemakaian Metformin lebih maksimal, maka dokter perlu memastikan terlebih dulu kondisi ginjal pasien DM. Karena  pemakaian Metformin harus diseimbangkan dengan kondisi ginjal yang baik, serta dikonsumsi dalam dosis yang tepat.

“Konsumsi Metformin tidak bisa asal-asalan. Tetap ada dosisnya, yaitu 500-200 ml/gram perhari. Itu pun dengan catatan kondisi ginjal harus baik. Karena jika tidak, Metformin malah akan memberi efek komulatif mengendap di ginjal,” jelasnya.

Dengan segala kebaikan Metformin, Prof Askandar justru lebih menekankan pentingnya upaya preventif.

“Yang paling penting justru memperbaiki pola hidup, menjaga pola makan, rutin melakukan aktifitas fisik, dan menghindari rokok,” ungkapnya.

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu