ners
Prof. Nursalam, S.Kp., M.Nurs., saat menyampaikan sambutan dalam Pelantikan Ners periode pertama tahun 2018 Program Studi Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga pada Selasa (20/2). (Foto: Feri Fenoria)
ShareShare on Facebook15Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Salah seorang pasien perempuan tampak terisak sembari menunjuk perawat di depannya. Suaranya putus-putus diikuti permohonan maaf dari si perawat. Adegan yang viral dalam video berdurasi 52 detik itu bertulis pelecehan perawat terhadap pasien.

Kasus perawat yang viral di media sosial (medsos) pada Januari tersebut terjadi di sebuah rumah sakit di Surabaya. Pasien perempuan itu merasa dilecehkan seusai menjalani operasi kandungan pada Selasa (23/1) ketika berada di ruang pemulihan.

Viralnya kasus itu menjadi tema yang juga ditekankan Dekan Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga Prof. Nursalam, S.Kp., M.Nurs., saat melantik 95 ners pada Selasa (20/2). Dalam paparannya di Aula Garuda Mukti, dia mengingatkan tentang perkembangan teknologi yang kian cepat. Hal itu bakal turut memengaruhi tantangan dunia keperawatan.

Peran Media Sosial

Viralnya kasus itu tak dimungkiri karena cepatnya laju informasi di medsos. Medsos yang dikuti dengan laju perkembangan teknologi perangkat keras yang cepat bisa menjadi dua mata pisau yang sama-sama tajam.

Seperti halnya kasus tersebut, menurut Prof. Nursalam, video yang berkembang merupakan hasil potongan. Padahal, lanjut dia, pasca viralnya kasus itu, stakeholder terkait telah melakukan sidang komite etik profesi. Yakni, yang digelar Majelis Kehormatan Etik Keperawatan Jatim pada Sabtu (3/2). Hasilnya, oknum perawat tersebut dinyatakan tidak melanggar kode etik.

”Anda harus hati-hati karena medsos bisa menjadi justifikasi. Bagaimana kemudahan setiap orang bisa merekam dan menyebarkan apa pun. Terutama soal bagaimana perawat bertindak dalam menangani sebuah kasus,” sebutnya. ”Misalnya, suka marah-marah atau tidak,” imbuhnya.

Tantangan Ners

Selain itu, Prof. Nursalam menyampaikan tantangan internal yang mesti dipenuhi para ners ke depan. Mereka mesti mengedepankan nilai-nilai hak asasi manusia (HAM), juga etika. Termasuk menjaga kesiapan diri dalam menghadapi MEA (Masyarakat Ekonomi Asia).

Upgrade diri mesti terus dilakukan. Misalnya, perkuat kemampuan penguasaan berbahasa Inggris,” ujarnya.

Prof. Nursalam menjelaskan, pada era millenial saat ini, terdapat lima kompetensi global yang wajib dikuasai seorang ners. Pertama, berkaitan dengan kode etik. Kedua adalah profesionalitas. Ketiga, leadership dan management. Keempat, research. Dan, kelima adalah personal development.

“Jangan sampai kita masuk pada pelanggaran-pelanggaran yang berhubungan dengan etika. Terkait itu benar atau salah, kita mesti hati-hati karena sebagai hukum kita saat ini adalah medsos. Tapi, yang jelas bagimana Anda menghargai hak-hak pasien,” katanya.

Membedakan pasien harus dihindari. Selain itu, lanjut Prof. Nursalam, ners mesti memiliki kemampuan memimpin sekaligus melakukan manajemen yang baik. Selanjutnya, ners era global juga harus punya kemampuan melakukan penilitian yang berorientasi pada kasus kekinian.

”Yang terakhir adalah upaya terus mengembangkan kemampuan diri. Harus aktif berkegiatan. Manfaatkan era MEA sebagai peluang untuk berkarir di dunia global,” sebutnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook15Tweet about this on Twitter0Email this to someone