Mak Surati (Bagian I)

UNAIR NEWS – Tempat tinggalku adalah padukuhan mungil. Tak ada yang istimewa. Masyarakat kami hidup apa adanya dengan sawah sebagai sumber mata pencaharian turun temurun. Kantor kami adalah hamparan tanah, meja dan kursinya adalah cangkul, sabit dan alat bajak yang kini digantikan oleh traktor mesin. Sering begantinya masa,  alam berubah—musim tak bisa diprediksi dan kejayaan pertanian surud. Kini era modern mewabah dan zaman ‘now’ datang membawa setumpuk gelisah.

Semua harap-harap cemas tanpa siap apa yang akan terjadi. Mak Surati hanya seorang berpendidikan SD nggak tamat. Sedangkan kontaminasi masa mewabahkan prilaku tak terkendali kepada tole Bagus, anak semata wayangnya.

Suami Mak Surati sudah meninggal semenjak tole masih berusia 3 tahun. Saat itu pula Mak Surati mulai banting setir, dari yang semula hanya momong si tole. Kemudian termaksa Mak harus mengambil alih tugas keluarga dalam mencari nafkah. Usaha dagang bakso keliling suaminya akhirnya diambil alih dengan membuka warung di pojokan Pasar Nglambang.

Sejak itulah, Mak yang hanya bisa memikirkan kebutuhan rumah tangga, luput bersamaan dengan perkembangan si tole yang kini sudah menginjak umur 18 tahun. Alih-alih ingin membahagiakan si anak, malah akhirnya Mak harus pontang panting menuruti keinginan anaknya itu.

Tahun lalu, ketika sebuah sinetron televisi mewabahkan gaya hidup ala anak jalanan dengan motor gedhe-nya. Si tole merengek, mengancam Mak dengan nada amat menjengkelkan. Apa daya, mau tidak mau sepetak sawah hasil peninggalan ayahya itu harus terjual demi menuruti keinginannya itu.

Mak, amat pasrah dengan kondisi itu.

Di luar, entah Mak tahu atau tidak. Bersama teman sepergaulannya, tole sering dikesankan ikut melakukan hal-hal yang terbilang dibenci oleh para orang tua yang pagi dan malamnya digunakan bekerja untuk membiayai anaknya. Di sekolah ia sering bolos di jam-jam pelajaran. Bahkan suatu waktu, sampai Mak dipanggil oleh pihak sekolah karena tole terjaring razia Satpol PP.

“Mbok ya. Kalau sekolah yang bener Le. Emak ini kerja siang malam buat kamu.”

Sudahlah Mak. Tak usah terlalu kecewa. Tole sudah tumbuh sebagaimana yang ia pilih dan ia rasakan sebagai kenikmatan. Kalau tole bolos, dan terjaring razia karena berdua-duaan saat jam sekolah di bawah ringin kurung alun-alun dengan pakaian putih biru yang pating slintut. Itu bukan salah tole. Roman masa muda itu adalah tren masa kini. Kebebasan dan kebebalan adalah hak kids zaman now. 

Dan mungkin sekali-kali Mak tidak boleh hanya tahunya bakso, pelanggan, lalu lintas rumah dan pasar saja. Mak harus ikut update, menonton film Dilan yang tanpa tabu, dengan mempertontonkan wacana roman yang lebih berani dan maju untuk anak seusianya. Nggemesin dan kisah pacaran baper ialah puncak imaji masa muda.

Bersambung…

 

Penulis: Sukartono (Alumni Matematika Universitas Airlangga)