biola
MEMUKAU: Prof Ranuh memainkan biola dihadapan hadirin yang datang dalam acara Tribute Lecture XVI di Aula, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rabu (14/2). (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)
ShareShare on Facebook41Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Diusia yang ke 88 tahun, Prof. I G. N. Gde Ranuh, dr, Sp.A(K) tampil memukau dalam acara Tribute Lecture XVI di Aula, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rabu (14/2). Dalam kesempatan itu, Prof Ranuh menampilkan kebolehannya memainkan biola di depan puluhan tamu undangan.

Guru besar ilmu kesehatan anak ini memainkan dua buah lagu diiringi alunan piano yang dimainkan dengan lembut oleh Prof Dr dr Jusak SpPK (K). Penonton pun terkesima menyaksikan penampilan memukau pria kelahiran 23 November 1939 itu.

Acara Tribute Lecture XVI kali ini menampilkan Prof Ranuh sebagai sosok inspiratif. Graha Masyarakat Ilmiah Kedokteran (Gramik) FK UNAIR dan Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR -RSUD Dr. Soetomo menyelenggarakan acara ini sebagain bentuk penghargaan atas jasa beliau sebagai salah satu perintis keilmuan di bidang kedokteran anak.

Dalam perjalanan karirnya, mantan dekan FK UNAIR ini menjadi salah satu perintis dan penyusun kurikulum Pendidikan Dokter Anak Indonesia. Kurikulum  pertama disusun dan diresmikan pada 1976, kemudian disempurnakan pada 1978 dan 1990. Hingga kini, kurikulum tersebut masih digunakan sebagai pedoman pendidikan kedokteran anak di Indonesia.

Suami RA Rabiatul Abdijah itu juga menjadi salah satu perintis Institute of Tropical Disease Universitas Airlangga.

Sederet penghargaan pernah diraih Prof Ranuh atas dedikasinya selama ini. Pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia pada 1978, serta penghargaan dari anggota Board APSSEAR (Association of Pediatrics, S.E. Asian Region) di Tokyo, Jepang, tahun 1988.

Selain memainkan biola, kakek 13 cucu itu juga menyampaikan orasinya terkait pro kontra imunisasi anak di Indonesia.

Penampilan memainkan biola oleh Prof Ranuh saat itu memang memberi warna tersendiri. Hampir belum pernah selama penyelenggaraan acara Tribute Lecture, sosok inspiratif yang dihadirkan menampilkan sesuatu yang berbeda.

Jiwa bermusik memang sudah lama melekat dalam diri Prof Ranuh sejak muda. Di tengah kesibukannya sebagai dokter dan dosen kala itu, Prof Ranuh tetap meluangkan waktu untuk bermusik. Dari sang ayah, dia belajar cara membaca not balok, dan mempelajari biola secara otodidak.

“Dari kecil sudah kenal dengan musik. Soalnya, ayah saya hobi bermain seruling dan biola,” tutur pria  yang masih aktif menjadi guru besar emeritus di FK UNAIR itu.

Selain bermusik, Prof Ranuh juga hobi berenang. Saking hobinya, sampai sekarang Prof Ranuh masih meluangkan waktu untuk berenang. Setidaknya, tiga kali seminggu dia berenang bersama anak dan cucu-cucunya.

“Olahraga itu tidak harus berapa lama, yang penting rutin,” papar mantan rektor Universitas Hang Tuah tersebut.

Biola seolah telah menjadi bagian dari hidupnya. Terbukti sampai sekarang, Prof Ranuh masih meluangkan waktunya bermain dengan biola kesayangan. Dengan kemampuan yang masih dimiliki, terbersit tanya, Apa rahasia awet sehatnya Prof Ranuh ini ya?.

Dengan kalem, Prof Ranuh menjawab, “Syukuri apapun yang kita peroleh,“. Luar biasa, semoga menginsipirasi kita semua. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook41Tweet about this on Twitter0Email this to someone