Ilustrasi anak yang menyukai makanan mengandung MSG.
ShareShare on Facebook33Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Di jaman serba instan seperti sekarang, tampaknya sulit menghindar dari olahan makanan yang mengandung Monosodium glutamat MSG, atau yang lebih akrab disebut micin atau vetsin. Ini yang membuat sebagian para orang tua merasa khawatir ketika memberikan asupan makanan untuk buah hatinya.  Bagaimana sebaiknya menyikapi hal ini?

Sebenarnya, MSG tidak hanya ada pada penyedap rasa saja. Beberapa bahan alami yang biasa kita konsumsi sebenarnya juga mengandung MSG. Seperti tomat, keju, susu, ayam, bebek, daging, makarel, salmon , telur, ikan, bayam, kentang, jagung, brokoli, kecap, bahkan daun pandan.

Seperti kita tahu, MSG berguna sebagai penambah cita rasa gurih pada makanan, sehingga menambah nafsu makan. Lalu bagaimana memperkenalkan rasa gurih yang aman bagi anak-anak?

Menurut dokter spesialis anak FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo Dr. Irwanto dr., Sp.A(K), pengenalan rasa gurih melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI) sebenarnya bisa disiasati dengan memanfaatkan kandungan glutamat dari bahan alami. Seperti dari sayuran dan bahan alami lainnya. Misalnya, memanfaatkan gurihnya kaldu ayam dan kaldu daging dalam menyajikan MPASI.

“Bayi berusia enam bulan sudah bisa diperkenalkan sedikit demi sedikit dengan rasa gurih melalui penyajian MPASI. Cara ini efektif supaya anak mengenal rasa tapi nggak sampai berlebihan dan bisa dibatasi,” ungkap peraih penghargaan Global Travel Award oleh Bill nad Melinda Gates Foundation ini.

Meskipun Food and Drug Administration (FDA) dan World Health Organization (WHO) memperbolehkan penggunaan MSG, namun kadar pemakaian tetap harus dibatasi sesuai dengan aturan. Kecuali pada orang-orang yang diketahui alergi, maka perlu menghindari.

Sebenarnya penggunaan garam lebih dulu populer sebelum MSG. Ceritanya, tahun 1996 WHO memperbolehkan penggunaan MSG untuk mengurangi tingkat konsumsi garam yang diketahui cukup tinggi pada saat itu.

“Dulu garam banyak dikonsumsi, akibatnya banyak yang mengalami hipertensi. Untuk menghindari itu, WHO kemudian memperbolehkan MSG digunakan sebagai penyedap rasa. Itu saja sebenarnya,” ungkapnya.

Bicara soal garam dan MSG, tampaknya sulit mengekang kegemaran lidah masyarakat kita yang cenderung menggemari cita rasa masakan yang gurih. Padahal sebenarnya garam lebih berbahaya ketimbang vetsin. Karena MSG diketahui hanya mengandung 30 persen natrium lebih sedikit ketimbang pada garam. Sayangnya sedikit dari kita yang menyadari hal itu.

Kesalahan pada cara memasak tentu sangat mempengaruhi jumlah penggunaan garam. Untuk itu, Irwanto menyarankan sebaiknya pemberian garam dilakukan setelah semua proses memasak berakhir.

“Jadi selama masak jangan dikasih garam dulu, nanti setelah matang baru garamnya dimasukkan. Ini cara paling aman. Selain  kita bisa mengoreksi rasa,  pemakaian garam pun juga akan terkendali,” ungkapnya.

Kontroversi pemakaian MSG sebenarnya telah berlangsung sekitar tahun 1960an. Saat itu, New England Journal of Medicine mengungkap sebuah laporan terkait komplain dari sekelompok orang yang mengeluh pusing dan muntah setelah makan di sebuah restoran chinese food.

Berangkat dari laporan tersebut, sekitar tahun 1970 sejumlah peneliti mulai mengembangkan penelitian chinese food syndrome. Dua kelompok manusia diuji. Sebagian mengonsumsi makanan mengandung MSG, sebagian lain tidak. Ternyata, kelompok yang mengonsumsi makanan mengandung MSG mengalami faringitis atau gangguan tenggorokan, sementara sebagian lain tidak mengeluhkan gejala apapun. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata efek faringitis terjadi karena dampak alergi pada MSG.

FDA menegaskan bahwa reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan karena MSG. Semua tergantung pada tingkat sensivitas tubuh.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya.

Para peneliti sepakat bahwa pemberian MSG pada hewan coba berdampak pada sel saraf serta menyebabkan terjadinya perubahan pada korteks yang terkait pada fungsi kognitif.

Irwanto menekankan, pemberian MSG pada hewan coba memang terbukti membawa efek toksik. Karena sampel dipapar MSG dengan takaran lebih tinggi dari yang biasa dikonsumsi manusia. Namun hasil percobaan pada hewan belum bisa memperkuat dugaan bahwa efek MSG juga sama bahayanya jika dikonsumsi manusia.

Sejauh ini penelitian seputar MSG masih sebatas pada hewan coba, dan belum ada peneliti yang mengaplikasikan pada manusia. Mengingat sampai sejauh ini belum ada laporan kasus yang mendesak para peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut.

“Sejauh ini hanya didapatkan observasi berupa keluhan pusing dan muntah sebagai efek dari chinese food syndrome. Dan itu terjadi karena alergi,” ungkap wisudawan terbaik UNAIR tahun 2013 tersebut.

Bahkan berdasarkan riset baru-baru ini oleh Staging di University of Iowa menyimpulkan bahwa MSG tidak berdampak pada anak yang mengalami hiperaktif atau gangguan perilaku yang lain. (*)

Penulis : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook33Tweet about this on Twitter0Email this to someone