CEO Mayapada Group Prof. Dr. Dato’ Sri Tahir, MBA., (kiri) saat menyampaikan paparan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga pada Senin (12/2). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook29Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pemerintahan Joko Widodo telah berjalan beberapa tahun. Bidang perekonomian tentu mengalami perubahan. Meski demikian, masih terdapat berbagai kekurangan yang perlu diperbaiki dan dioptimalkan.

Dalam rangka membahas kinerja pemerintahan Joko Widodo, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga menghelat kuliah tamu bertajuk “Kinerja Ekonomi Era Jokowi: Progres dan Peluang dalam Perspektif Bisnis”. Kali ini hadir sebagai pembicara yang tidak asing di dunia perekonomian, yaitu CEO Mayapada Group Prof. Dr. Dato’ Sri Tahir, MBA. Juga guru besar Prof. Dr. Arsono Laksamana, SE., Ak., CPA., CA.

“Pada kesempatan ini, kita kedatangan sosok yang patut didengar dan menjadi nilai tambah bagi yang hadir. Beliau adalah pengusaha berskala internasional yang fokus membangun perekonomian Indonesia. Selain itu berkontribusi dalam merumuskan kebijakan-kebijakan di Indonesia,” tutur Dekan FEB UNAIR Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak, dalam sambutannya.

Dalam kuliah tamu pada Senin (12/02) tersebut, Tahir memaparkan kondisi perekonomian saat ini. Termasuk track record­-nya selama beberapa tahun ke belakang. Selain itu, dia menyampaikan bahwa pada era globalisasi yang tidak mengenal batas seperti saat ini, Indonesia harus mampu berubah.

Indonesia tidak seharusnya mengeksploitasi buruh murah lagi. Namun, yang diandalkan adalah buruh yang berkualitas dan profesional serta dibayar dengan layak. Hal tersebut tidak baik dalam jangka panjang bila itu terus dipertahankan.

“Saya berharap lima tahun ke depan tidak ada lagi orang Indonesia yang menjadi ibu rumah tangga. Tapi mereka jadi pekerja di hotel, toko, atau suster,” tambahnya

Selama kepemimpinan Joko Widodo, Tahir menganggap program 16 paket kebijakan stimulus ekonomi sudah bagus. Namun, lanjut dia, implementasinya masih kurang. Akibatnya, hasilnya belum terlihat.

Sering setiap output yang tidak sesuai dengan rencana dianggap buah dari kesalahan pada rencana. Namun, kenyataannya, kerap yang salah adalah implementasinya. Tahir juga memberikan pandangan terkait sektor ke depan yang bisa dioptimalkan Indonesia. Misalnya, kelapa sawit, mineral, dan pariwisata.

“Kelapa sawit menjadi pemasok pendapatan terbesar di luar non-migas. Indonesia diberikan karunia oleh Tuhan mineral yang melimpah. Juga, kekayaan wisata dan budayanya. Ketiganya akan menjadi kekuatan perekonomian Indonesia,” sebutnya.

”Saya merasa negeri ini adalah surga, tapi mengapa tidak maju-maju. Jangan menyalahkan orang lain, tapi mulai dari diri kita sendiri. Kita bangsa yang besar, tapi milenial harus turut membangun,” imbuh Tahir.

Optimalkan Penguasaan Teknologi

Kebiasaan dekat dengan teknologi oleh generasi milenial memiliki kelebihan. Di antaranya, kemampuan penguasaan teknologi yang relatif lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Dengan hal tersebut, upaya turut serta membangun bangsa dapat dilakukan melalui bidang itu. Misalnya, aktif menyebarkan sikap optimistis, kerja keras, inovatif, serta kreatif.

Sementara itu, menurut Tahir, Indonesia perlu mewadahi hal tersebut dengan pengadaan sekolah vokasi. Terutama untuk generasi milenial sehingga dapat terjun secara langsung. Dengan begitu, kemampuan mereka dapat ditingkatkan dalam bidang praktisi. “Dengan membangun pendidikan vokasi di seluruh universitas di Indonesia,” tambahnya. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook29Tweet about this on Twitter0Email this to someone