Ilustrasi
Ilustrasi oleh MalangTODAY.net
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dunia pendidikan acap kali dihebohkan dengan insiden yang melanggar etika. Mulai dari pelecehan, kekerasan, hingga penganiayaan. Parahnya, tidak sedikit kasus tersebut justru dilakukan oleh siswa kepada guru.

Mengenai insiden tersebut, UNAIR NEWS berhasil menghimpun pendapat dari Dr. Tuti Budirahayu, M.Si., selaku Wakil Dekan II, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Airlangga. Perempuan yang akrab disapa Tuti itu mengatakan bahwa penyebab masalah semacam itu cukup kompleks. Akan tetapi, berdasarkan studi yang pernah ia lakukan, masalah itu tidak terlepas dari faktor-faktor di dalam sekolah.

“Berdasarkan studi yang telah saya lakukan, hal-hal penting yang patut diperhatikan penyebab kenakalan siswa antara lain interaksi antara guru dan siswa yang tidak terjalin dengan baik, kurangnya kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, dan fasilitas belajar yang kurang memadai,” jelasnya.

Tuti Budi Rahayu
Dr. Tuti Budirahayu (Foto oleh Enciety)

Selain faktor-faktor tersebut, tambahnya, sebab lain adalah pola asuh yang tidak berbasis kasih sayang penuh dari orang tua serta kondisi masyarakat yang mengesampingkan tata krama dan budi pekerti, terlebih hal itu tidak dikenal dengan baik oleh anak-anak zaman sekarang.

“Sebenarnya penyebab siswa melakukan demikian bukan karena gurunya yang telah lebih dulu melakukan kekerasan. Tindakan kekerasan yang terjadi antara guru terhadap murid atau sebaliknya murid terhadap guru, selain dapat ditelusuri dari faktor-faktor di atas, juga dapat dilihat melalui pola dan metode mengajar guru yang seharusnya dievaluasi dari waktu ke waktu,” papar Tuti.

Maka, lanjut Tuti, upaya untuk mengurangi munculnya persoalan semacam itu juga perlu dilakukan oleh pihak sekolah. Mulai dari membenahi model pembelajaran, memperbaiki model interaksi antar siswa dan guru, serta bentuk iklim belajar dan kultur akademis yang menyenangkan bagi semua pihak.

“Hal ini bertujuan agar siswa tidak merasa jenuh, bosan dan bahkan merasa tak terwadahi potensi yang dimilikinya,” tandasnya. “Yang terakhir adalah kuatkan ikatan persaudaraan antara sekolah dan orangtua murid,” pungkas Dosen Sosiologi Pendidikan itu.

 

Penulis: Moh. Alfarizqy

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone