konferensi
Tiga mahasiswa UNAIR bersama Ai Tashiro, MSc. (dua dari kanan) peneliti dari University of Tokyo setelah mengikuti konferensi di Korea Selatan. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook44Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Suhu yang akstrim di Korea Selatan hingga minus 10⁰ celsius tidak menyurutkan tekad mahasiswa Universitas Airlangga untuk menimba ilmu. Ialah Nisrinah Arofahtus S. (Fakultas Ekonomi dan Bisnis 2014), Samara Rahma Dania (Fakultas Kesehatan Masyarakat 2015), dan Eka Dewi Pratiwi (Fakultas Farmasi 2016). Ketiganya mengikuti konferensi tentang pariwisata yang diadakan oleh TOSOK (The Tourism Science Society of Korea) di Songdo Convensia, Incheon, Korea Selatan, pada 12-13 Februari lalu.

Kegiatan TOSOK yang telah berlangsung selama 83 tahun ini merupakan ajang konferensi yang cukup bergengsi di Korea Selatan.

Menjadi presentator di ajang internasional tentu memilki kesan tersendiri. Dibutuhkan keberanian lebih untuk menunjukkan gagasan di even yang sebagian besar dihadiri oleh mahasiswa S2, S3, profesor, hingga peneliti yang memiliki minat dan pengetahuan terkait kepariwisataan. Meski demikian, hal itu tidak membuat langkah mereka goyah. Justru menambah semangat untuk berusaha menampilkan yang terbaik sebagai satu-satunya delegasi dari Indonesia.

Judul makalah yang mereka presentasikan adalah Tour of Trowulan History (TROLLS): Historical Education Tour as a Solution to Increase Regional Potential of Trowulan. Ketiganya tidak menyangka makalah yang mereka kirimkan memiliki kesempatan untuk dipresentasikan di Korea Selatan. Mengingat, disiplin ilmu ketiganya sangat jauh berbeda dengan tema konferensi.

“Awalnya kami hanya mencoba, karena sebenarnya sebelum ini sempat punya proyek bertiga di bawah bimbingan Bu Dr. Sri Endah Nurhidayati dosen pariwisata UNAIR. Lalu saya mencari di internet, ternyata ada even ini. Saya tawarkan ke teman-teman bagaimana jika paper ini diajukan? Alhamdulillah teman-teman setuju,” ungkap Samara.

Masya Allah, kami sangat bersyukur. Kami mendapat kenalan beberapa researcher. Di antaranya Ai Tashiro, MSc. dari University of Tokyo, Prof. Jungki Michael Min dari Halla University, dan Sung-Hun, Choi, Ph.D dari University of Ulsan,” jelas Samara.

Nisrinah salah satu anggota lain yang berasal dari Mojokerto mengatakan, potensi dari kawasan Trowulan begitu besar sehingga sayang jika tidak dioptimalkan.

“Jika gagasan ini bisa diimplementasikan, maka dapat memberikan multiplier effect yang baik bagi perkembangan pariwisata dan ekonomi masyarakat Mojokerto, khususnya Trowulan,” ujar Nisrinah.

Sambutan hangat diiringi applause dari panitia dan peserta berhasil didapat ketiganya usai presentasi makalah. Sehingga ketiganya sangat berkesan. Bahkan, salah seorang peneliti mengatakan pada mereka, “Good presentation!”.

Sementara itu, Eka Dewi salah seorang anggota yang lain mengatakan, dari konferensi itu mereka mendapat beragam pengalaman, masukan, serta ilmu dan ide-ide dari peserta yang lain. Para panitia memberi kesempatan kepada mereka untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya.

Bahkan, lanjut dia, seorang panitia yakni Dr. Sangmi Jeon mengucapkan terimakasih banyak dan sangat mengapresiasi kehadiran dan keberanian ketiganya.

“Beliau mengatakan bahwa kami adalah satu-satunya muslim, jadi sangat mudah dikenali. Mereka sangat memperhatikan kebutuhan kami, mulai dari makanan halal, waktu salat, dan keramahan yang membuat kami terharu,” terang Eka Dewi.

Usai konferensi ini, ketiganya berharap mampu memberikan kontribusi yang lebih baik lagi. Bukan hanya untuk mengharumkan nama UNAIR namun juga Indonesia. Kegiatan ini juga menjadi ajang pelecut semangat bagi mereka bahwa perbedaan minat tidak menghalangi seseorang untuk berkarya dan mengembangkan ide bersama. (*)

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook44Tweet about this on Twitter0Email this to someone