RATIH Puspa, Ph.D., saat menyampaikan paparan berjudul “Kajian Komunikasi Profesional: Quo Vadis?” dalam seminar nasional komunikasi di Hotel Santika Premiere Gubeng, Rabu (14/2). Seminar ini dihadiri ratus peserta dari perwakilan perguruan tinggi, lembaga swasta, dan media massa. (Foto: Feri Fenoria)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Berdasarkan data lembaga riset pasar asal Amerika, e-Marketer pada 2014, pengguna internet (netter) di Indonesia mencapai 87,3 juta orang. Selanjutnya, dalam tabel 25 ranking netter dunia dalam prediksi 2013–2018 oleh e-Marketer, Indonesia menempati urutan keenam pengguna internet terbanyak. Bahkan, pada 2018, perkiraan jumlah penggunanya menembus angka 123,0 juta orang.

Indonesia berada empat tingkat di bawah China yang menjadi pemuncak dengan jumlah pengguna internet terbanyak, yakni pada 2018 diperkirakan mencapai 777,0 juta orang. Dari survei itu, ke depan diperkirakan pola interaksi dan dinamika sosial masyarakat Indonesia, bahkan dunia, terpusat pada media sosial. Terutama kebergantungan kehidupannya pada teknologi digital.

Pergeseran atau perubahan tersebut bakal turut memengaruhi pola-pola interaksi di berbagai bidang sosial. Termasuk di ranah pendidikan tinggi, khususnya bidang ilmu komunikasi. Terutama sebagai lingkungan akademis yang bertujuan menumbuhkan peradaban manusia.

Merespons fenomena tersebut, Universitas Airlangga melalui Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) menggelar seminar nasional komunikasi pada Rabu (14/2). Tema yang diangkat adalah ”Ilmu Komunikasi Indonesia Menghadapi Tantangan Global Pendidikan Tinggi Komunikasi pada Era Digitalisasi Teknologi.”

Bertempat di Hotel Santika Premiere Surabaya, seminar itu menghadirkan enam pembicara dari perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Pada sesi pertama menghadirkan Prof. Hafied Cangara (Universitas Hasanudin/Unhas); Prof. Ilya Sunarwinadi (Universitas Indonesia/UI); dan Prof. Widodo Muktiyo (Universitas Negeri Surakarta/UNS). Kemudian pada sesi kedua ada Dr. Eny Maryani (Universitas Padjajaran/Unpad); Dr. Hermin Indah Wahyuni (Universitas Gadjah Mada/UGM); dan Ratih Puspa, Ph.D., (UNAIR).

Dalam seminar itu, sesi pertama dipimpin langsung oleh Dr. Suko Widodo, M.Si, sebagai moderator.  Pada sesi kedua Irfan Wahyudi, Ph.D yang memandu diskusi.

”Ini merupakan program pertama tahun ini, sekaligus menjadi bagian program agenda tahunan kelompok PTN (Perguruan Tinggi Negeri) yang menyelengarakan pendidikan ilmu komunikasi. UNAIR tuan rumahnya,” ujar Kepala Departemen Ilmu Komunikasi UNAIR Dr. Yayan Sakti Suryandaru, S.Sos., M.A., saat ditemui UNAIR NEWS.

Seminar tersebut digelar sebagai upaya diskusi langkah-langkah strategis jurusan ilmu komunikasi terhadap pergeseran sosial saat ini. Selain itu agar memberikan wawasan dan pandangan kepada pengelola pendidikan tinggi ilmu komunikasi. Pada akhirnya, rumusan bersama tentang wajah pendidikan ilmu komunikasi mampu dihasilkan.

”Karena itu, program ini digelar. Bukan hanya diskusi dan rapat, tetapi inilah yang pada akhirnya menjadi suplemen untuk menghadapi gejala perubahan tersebut,” imbuh Yayan.

Perlu Responsif

Yayan mengakui bahwa pergerakan dunia, terutama masuknya era digitalisasi, membuat bidang-bidang kehidupan berubah dengan sangat cepat. Karena itu, jurusan ilmu komunikasi mesti mempunyai daya reaksi dan responsif yang tinggi.

”Diantaranya dengan membuat penyesuaian-penyesuaian yang berhubungan dengan pendidikan. Juga perlu evaluasi-evaluasi dan revisi. Kurikulum, sistem, kualitas pengajar (dosen) dan motivasi mahasiswa harus mulai diubah. Diadaptasikan,” tuturnya.

Dengan demikian, untuk menumbuhkan daya responsif tersebut, diperlukan dialog atau diskusi antar kampus. Tawaran-tawaran yang bisa diterapkan atau disesuaikan di setiap PTN bisa dibandingkan, lalu dipilih.

”Karena itu, kita memerlukan masukan-masukan dari PTN lain. Juga banyak di institusi perguruan tinggi yang yang memiliki suatu keunggulan. Sedang di sini punya keunggulan apa. Itulah yang diinginkan. Sharing dan bertukar pengalaman serta masukan dari mahasiswa,” tambahnya.

Selain itu, lanjut Yayan, jurusan ilmu komunikasi sering kurang cepat menyampaikan masukan, kritikan, dan respons terhadap situasi kekinian yang terjadi di masyarakat. Baik secara nasional maupun global.

”Karena itu, kami ingin lebih intens, orang-orang komunikasi dan asosiasi-asosiasi sarjana komunikasi lebih cerdas dalam mereaksi yang terjadi secara lokal, nasional, dan global,” tambahnya.

Yayan berharap ilmu komunikasi yang merupakan ilmu praktis dan ilmu murni, mampu terus berkontribusi. Luasnya cakupan keilmuan sekaligus besarnya peminat di bidang ini juga jangan sampai membuat lalai orang-orangnya. Terutama soal kiprahnya di bidang kemanusiaan.

”Justru dengan kondisi seperti saat ini jurusan ilmu komuniksai harus lebih banyak berkontribusi bagi kemanusiaan,” kata Yayan Sakti S. (*)

Penulis : Feri Fenoria

Editor : Bambang Bes.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone