micin
Banyak makanan beredar dengan kadar MSG tinggi. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWSBelakangan istilah ‘generasi micin’ begitu populer di masyarakat. Kemunculannya seakan memperkuat persepsi bahwa terlalu sering mengonsumsi makanan bervetsin dapat mengganggu kualitas berpikir seseorang. Katanya, gara-gara micin otak bisa lemot, oon, kurang tanggap, dan sebagainya. Benarkah micin bikin otak bermasalah?

Dokter spesialis anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Dr. Irwanto dr., Sp.A(K) mengatakan bahwa penyebab otak jadi lemot sebenarnya bukan karena micin. Hal ini diperkuat dengan beberapa hasil riset yang telah dikembangkan oleh para peneliti luar negeri.

Sebenarnya, kontroversi penggunaan vetsin atau micin atau Monosodium glutamat (MSG) telah berlangsung sekitar tahun 1960an. Saat itu, New England Journal of Medicine mengungkap sebuah laporan terkait komplain dari sekelompok orang yang mengeluh pusing dan muntah setelah makan di sebuah restoran chinese food.

Berangkat dari laporan tersebut, sekitar tahun 1970 sejumlah peneliti mulai mengembangkan penelitian chinese food syndrome. Dua kelompok manusia diuji. Sebagian mengonsumsi makanan ber-MSG, sebagian lain tidak. Ternyata, kelompok yang mengonsumsi makanan ber-MSG mengalami faringitis atau gangguan tenggorokan, sementara sebagian lain tidak mengeluhkan gejala apapun. Setelah ditelusuri lebih lanjut, ternyata efek faringitis terjadi karena dampak alergi pada MSG.

Food and Drug Administration (FDA) menegaskan bahwa reaksi alergi yang dialami bukan disebabkan karena MSG. Semua tergantung pada tingkat sensivitas tubuh.

“Karena sensivitas setiap orang berbeda. Maka ada orang yang alergi MSG, ada yang tidak,” ungkapnya.

Untuk memastikan dampak pemakaian Natrium glutamat, penelitian kemudian berlanjut pada hewan coba. Hasilnya, pemberian MSG pada hewan mengakibatkan terjadinya perubahan pada prefrontal korteks dan neuron menjadi lebih sedikit. Kondisi tersebut juga memicu terjadinya neurodegeneratif.

Para peneliti sepakat bahwa pemberian MSG pada hewan coba berdampak pada sel saraf serta menyebabkan terjadinya perubahan pada korteks yang terkait pada fungsi kognitif.

Irwanto menekankan, pemberian MSG pada hewan coba memang terbukti membawa efek toksik. Karena sample dipapar MSG dengan takaran lebih tinggi dari yang biasa dikonsumsi manusia. Namun hasil percobaan pada hewan belum bisa memperkuat dugaan bahwa efek MSG juga sama bahayanya jika dikonsumsi manusia.

Sejauh ini penelitian seputar MSG masih sebatas pada hewan coba, dan belum ada yang mengaplikasikannya pada manusia. Mengingat sampai sejauh ini belum ada laporan kasus yang mendesak para peneliti untuk melakukan riset lebih lanjut.

“Sejauh ini hanya didapatkan observasi berupa keluhan pusing, muntah sebagai efek dari chinese food syndrome. Dan itu terjadi karena alergi,” ungkapnya.

Sementara itu, William Pardridge, MD dalam bukunya Regulasi Asam Amino di Dalam Otak menuliskan bahwa MSG tidak termasuk ke dalam Blood-brain barrier (BBB) atau unsur yang mampu menembus selaput otak.

Melalui buku tersebut, Irwanto menjelaskan bahwa glutamat tidak akan masuk ke selaput otak. Dalam hal ini tubuh memiliki mekanisme tersendiri untuk menyeimbangkan kadar MSG yang dikonsumsi. Dengan begitu MSG tidak akan sampai berpengaruh ke otak.

“Karena MSG dianggap tidak sampai menembus selaput otak, maka aman dikonsumsi,” tegasnya.

FDA dan WHO telah memastikan bahwa MSG aman dikonsumsi selama dalam batas wajar. Menurut panduan, batas rata-rata konsumsi MSG maksimal 2,5-3,5 gram MSG dengan berat badan 50-70 kg. Atau, setengah sendok teh dari keseluruhan makanan yang dikonsumsi seharian.

Sementara bagi yang alergi MSG, Irwanto menyarankan agar mengurangi jumlah konsumsi makanan ber-MSG. Alergi pada MSG dapat diketahui pada saat seseorang mengalami keluhan berupa pusing mendadak, muntah, rasa panas di leher, lengan, dada, hingga merasa berdebar-debar setelah mengonsumsi makanan ber-MSG. Keluhan semacam itu biasa disebut dengan chinese food syndrome.

Menurutnya, manifestasi alergi bisa datang sewaktu-waktu. Ada yang ketahuan alergi sejak kecil, ketika remaja, atau bahkan setelah dewasa. Tergantung pada daya tahan tubuh masing-masing.

“Kalau sudah merasakan keluhan seperti itu, maka sebaiknya batasi makanan bervetsin,” ungkapnya.

Setelah mengamati uraian di atas, tampaknya sebutan ’Generasi Micin’ kurang cocok dialamatkan kepada si lemot. Apa mungkin perlu menggantinya dengan istilah lain yang lebih cocok?

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone