Rektor: Pers Harus Menghindari Kelompok Kepentingan

UNAIR NEWS – Tahun 2018 disebut-sebut sebagai tahun politik. Selain karena ada pemilihan kepala daerah secara serentak, tahun 2018 menjadi tahun ‘pemanasan’ menjelang pilpres 2019. Dalam sejarahnya, tak jarang banyak tokoh muncul dan menjadi pemimpin berkat didukung oleh kekuatan media melalui pers yang dilakukan secara masif.

Dalam peringatan hari pers yang jatuh hari ini, 9 Februari, Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. M. Nasih, S.E., M.T., Ak., CMA. mengucapkan selamat hari pers kepada seluruh kawan-kawan media. Ditemui rekan-rekan pers Kamis (8/2), pihaknya mengatakan bahwa pers harus bisa menjadi ujung tombak bagi upaya mempererat persatuan bangsa.

Prof. Nasih juga mengatakan, saat ini cenderung terdapat polarisasi insan pers yang membentuk dukungan pada kelompok-kelompok tertentu. Ia berharap, melalui peringatan hari pers, insan pers lebih transparan dalam memberitakan berbagai peristiwa. Transparansi dalm hal ini, lanjut Prof. Nasih, agar pers mampu menjadi alat bagi tegaknya demokrasi di Indonesia.

“Munculnya dukungan pers pada kelompok atau komunitas tertentu menjadi pekerjaan rumah yang sangat krusial. Apalagi didukung dengan adanya media sosial yang masif, yang cenderung memecah belah,” ujar Prof. Nasih. “Kita berharap, pers atau media yang mendapat pengakuan dari masyarakat dan pemerintah dapat menjadi pemersatu. Tidak ikut serta dalam upaya-upaya memecah belah masyarakat dan bangsa,” tandasnya.

Tahun 2018, upaya strategis pers menuju transparansi sedang diuji. Pasalnya, pada tahun 2019, tahun politik yang akan dilangsungkan pilpres, ujian akan lebih berat lagi. Sebab, ada kepentingan dari kelompok-kelompok tertentu yang tak jarang memanfaatkan media sebagai alat mendulang massa.

Senada dengan rektor, Ketua Pusat Informasi dan Humas UNAIR Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si mengatakan, pers harus kembali memosisikan diri sebagai medium atau penengah di tengah kemelut antar kelompok kepentingan. Pers harus bisa mengekspresikan kepentingan publik dan menegakkan kebenaran.

“Kalau pers terseret dalam arus pusaran politik, yang rugi kita semua,” ucapnya. (*)

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Nuri Hermawan