Prof. Bagong
Guru Besar FISIP UNAIR Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si., (Foto: UNAIR NEWS)
ShareShare on Facebook39Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kasus penganiayaan yang dilakukan oleh siswa terhadap salah satu guru di SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, menuai perhatian banyak orang. Begitu juga perhatian dari para ahli di dunia akademisi. Untuk menanggapi kasus itu, UNAIR NEWS berhasil menemui salah satu Guru Besar yang dimiliki Universitas Airlangga. Ialah  Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si.

Saat ditemui di Departemen Sosiologi UNAIR pada Selasa (6/2), Prof. Bagong menerangkan berbagai pengamatannya mengenai kekerasan di kalangan anak-anak. Menurutnya, kenakalan yang dilakukan anak-anak usia sekolah tidak lepas dari upaya anak-anak itu sendiri dalam membangun reputasi melalui kekerasan.

“Dikalangan anak-anak itu ada yang namanya subkultur sok jagoan. Subkultur itu jadi identitas sosialnya. Jadi, kalau dia mau diterima dalam sebuah kelompok dan dihormati dalam kelompok itu, maka yang dilakukan adalah menunjukkan kekuatannya,” terang Prof. Bagong.

Lain dengan hal itu, tambah Prof. Bagong, bagi anak-anak yang memiliki reputasi akademik yang bagus akan cenderung membangun reputasi dari prestasi akademik. Tapi anak-anak marjinal yang tidak dalam kategori berprestasi dalam hal akademik biasanya cenderung membangun reputasi dengan membangun subkultur kekerasan.

Nah, anak-anak pada subkultur kekerasan ini yang kemudian menjadi pelaku bullying, sok jagoan, suka memalak temannya sendiri, dan bahkan meresahkan guru,” tandasnya.

Berkenaan dengan peran sekolah, Prof. Bagong menegaskan bahwa sekolah di Indonesia masih kurang mampu membangun karakter yang baik pada siswa. Hal ini dapat dilihat dari sistem pendidikan yang memaksakan antarsiswa untuk berkompetisi dan bersaing menjadi yang terbaik.

“Hal ini menjadikan nilai-nilai solidaritas, sopan santun, kohesi sosial itu tidak ditumbuhkan dengan baik. Di kepalanya itu tidak tumbuh konstruksi bahwa siswa harus menghormati guru, solider, dan toleransinya harus tinggi,” papar Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi FISIP UNAIR ini.

Pada akhir, saat ditanya mengenai upaya untuk mencegah munculnya persoalan yang terjadi di SMAN 1 Torjun, Prof. Bagong menjawab bahwa diperlukan upaya untuk mengubah sistem yang diterapkan dunia pendidikan.

“Menurut saya harus ada perubahan grand design-nya pendidikan itu. Kuncinya, ya diajari toleran, menghargai perbedaan diantara sesama, supaya selain mencegah subkultur kekerasan tidak jadi kasus-kasus bullying dan hilangnya etika terhadap guru tidak terulang lagi,” pungkasnya.

Penulis: Moh. Alfarizqy

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook39Tweet about this on Twitter0Email this to someone