Ilustrasi sakit jantung koroner. (Dok. Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Kasus kematian mendadak akibat jantung koroner meningkat setiap tahun. Diketahui tidak sedikit pria produktif berusia di bawah 40 tahun yang menjadi sasaran. Fenomena ini jelas menunjukkan adanya pergeseran usia penderita jantung koroner. Dimana usia muda tak menjamin seseorang memiliki kondisi fisik yang prima.

Adanya pergeseran usia penderita jantung koroner ini diakui oleh seorang pakar jantung dan pembuluh darah Fakultas Kedokteran UNAIR – RSUD Dr. Soetomo dr. Andrianto.,Sp.JP.,FIHA. Secara ilmu kedokteran, kematian mendadak akibat jantung koroner tidak terjadi begitu saja tanpa adanya gejala penyerta.

“Jauh sebelumnya tubuh telah mengirim sinyal berupa rasa tidak nyaman di dada. Namun seringkali diabaikan oleh si penderita,”ungkapnya.

Kematian mendadak terjadi ketika seseorang mengalami gangguan irama bilik jantung. Hal ini menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi pompa jantung. Akibatnya, pasokan oksigen ke seluruh organ penting di dalam tubuh mengalami gangguan hebat.

“Kematian mendadak umumnya terjadi setelah seseorang mengalami serangkaian gejala seperti lemas, pingsan, nyeri, sesak, berdebar di bagian kiri dada atau tepat di posisi jantung,” ungkapnya.

Sebetulnya mengabaikan rasa sakit atau tidak nyaman di bagian dada sebelah kiri adalah bentuk kebiasaan yang tidak baik. Seringkali penderita tak menyadari bahwa rasa nyeri pada bagian dada bisa menjadi gejala awal terjadinya jantung koroner.

“Umumnya masyarakat mengira keluhan nyeri dada, lemas, disertai jantung berdebar hanya dianggap sebagai gejala masuk angin atau kecapekan. Akhirnya diabaikan, malah dikerokin. Setelah dikerokin bukanya membaik malah bablas. Jangan disepelekan,” jelasnya.

Jika sejak awal sudah merasakan gejala awal demikian maka Andrianto menyarankan perlu segera diperiksakan ke dokter. Karena seringkali penderita baru dilarikan ke rumah sakit setelah kondisinya parah. Padahal jika bisa terdeteksi sejak awal, maka gejala yang masih ringan sebenarnya dapat segera tertangani.

Dalam mekanisme penanganan kasus jantung koroner, jika terjadi penyumbatan pembuluh darah pada jantung dan tidak segera mendapatkan pertolongan dalam waktu 12 jam, dapat mengakibatkan terjadinya sumbatan pembuluh darah permanen.

“Sebanyak 40 persen penderita jantung koroner meninggal pada empat jam pertama, setelah mengalami serangkaian keluhan nyeri di dada sebelah kiri,” ungkapnya.

Namun jika segera ditangani, maka berpeluang bisa menyelamatkan banyak otot jantung, sehingga kemungkinan pulih lebih besar.

Selain diakibatkan karena jantung koroner, penyebab kematian mendadak lainnya dapat disebabkan karena kelainan irama jantung primer (bawaan), kardiomiopati hipertrofik (penebalan otot jantung bawaan) atau penyakit miokarditis (peradangan otot jantung).

Untuk meminimalisir resiko jantung koroner, maka disarankan kepada para pria berumur 40 tahun keatas dan siapa saja yang memiliki riwayat keluarga penderita jantung koroner untuk memeriksakan kesehatan jantungnya melalui Cardiac general check up. Pemeriksaan satu ini meliputi pemeriksaan darah untuk memastikan kondisi kolesterol dalam darah, tes treatmeal, dan USG jantung.

Selain rutin memeriksakan kondisi kesehatan, penting juga untuk meningkatkan pola hidup sehat. Seperti mengendalikan konsumsi makanan berlemak, serta rutin berolahraga.

Olah raga aerobik menurut Andrianto sangat disarankan khususnya bagi para penderita jantung koroner. Karena gerakan aerobik mampu melatih seseorang mengatur keluar masuknya sirkulasi oksigen dengan gerakan yang ringan. Selain aerobik, olah raga lainnya seperti bersepeda, jogging, lari, dan berenang juga bisa menjadi alternatif olah raga yang menyenangkan.

“Olah raga menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kebugaran. Bagi penderita jantung koroner, olah raga ringan dapat membantu menjaga kebugaran. Dengan frekuensi tidak lebih dari 5-7 kali dalam seminggu, selama tidak lebih 45 menit,” ungkapnya.

Ada banyak faktor pencetus seseorang bisa mengalami jantung koroner. Dapat disebabkan karena stres berlebihan, pola hidup tidak sehat kurang berolahraga, serta berlebihan mengonsumsi makanan mengandung lemak dan kolestrol tinggi.

Jika pria berpotensi besar mengalami jantung koroner, maka sebenarnya perempuan juga rentan dengan risiko penyakit satu ini. Hanya saja, bukan pada perempuan usia produktif, melainkan perempuan berusia 50 tahun keatas atau sudah memasuki masa menopause.

“Perempuan usia produktif lebih diuntungkan karena masih mengalami siklus menstruasi. Selama masih mengalami menstruasi, selama itu pula tubuhnya aktif memproduksi hormon estrogen. Hormon ini yang akan melindungi perempuan dari resiko penyakit jantung maupun gangguan pembuluh darah,” ungkapnya. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone