FK UNAIR Imbau Lulusannya Mengabdi di Daerah Perifer

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Wakil Rektor I Prof. Djoko Santoso, dr., Sp.PD-KGH., Ph.D., FINASIM., saat memberikan selamat kepada para dokter baru Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sesaat setalah pengambilan sumpah di Aula FK pada Kamis (31/1). (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)

UNAIR NEWSGedung bersejarah Aula Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga kembali menjadi saksi bisu berlangsungnya pengambilan sumpah dan janji dokter baru FK UNAIR. Kali ini sebanyak 14 dokter baru periode I tahun 2018 dilantik langsung oleh Dekan FK UNAIR Prof Dr. Soetojo.,dr.,Sp.U(K), Kamis (31/1). Sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran tertua kedua di Indonesia, FK UNAIR telah berkontribusi meluluskan 10.049 dokter sejak 1954.

Distribusi dokter yang belum merata di Indonesia masih menjadi problem yang tak kunjung terselesaikan. Karena itu, Dekan FK Unair Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U (K) mengimbau lulusan dokter baru bersedia mengabdi dengan sepenuh hati.

“Masyarakat sudah menunggu kontribusi kalian. Kami harap dokter baru ini nanti tidak pilih-pilih tempat praktik. Sebab, saat ini mayoritas dokter masih tersebar hanya di kota-kota besar. Perhatikan nasib kesehatan masyarakat yang tinggal di wilayah perifer (pelosok, Red),” ungkapnya.

Menurut dia, kemandirian seorang dokter akan semakin terasah jika memberanikan diri mengabdi di daerah-daerah terpencil. “Kalau hanya praktik di sekitar Surabaya, kalian menjadi kurang mandiri. Kalau pengin mandiri dan banyak pengalaman, segeralah ke daerah terpencil saja seperti Papua dan NTT,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RSUD Dr. Soetomo Dr. Anang Endaryanto, dr., Sp.A(K) menyampaikan tantangan profesionalisme dokter pada masa mendatang. Yakni, soal kualitas komunikasi dengan pasien. Hal tersebut berlaku bagi seluruh dokter yang bekerja di puskesmas atau rumah sakit tipe A, B, dan C.

“Sebesar apapun kompetensi dan setinggi apapun pendidikan, kalau dokter tidak mampu berkomunikasi dengan baik, dikhawatirkan efektifitas pengobatan tidak akan tercapai,” ungkapnya

Menurut dia, efektivitas pengobatan sangat bergantung pada kualitas pelayanan dan komunikasi. Pihak pasien maupun keluarga pasien berhak atas informasi yang sejelas-jelasnya seputar pengobatan.

“Penting bagi dokter memahami cara untuk mengedukasi pasien dan keluarganya agar efektifitas terapi pengobatan dapat tercapai. Dengan begitu, pasien akan percaya, lalu berkomitmen dan pada akhirnya bertanggung jawab atas pencapaian petunjuk pengobatan,”katanya.

Sebelum acara pelantikan berlangsung, diselenggarakan kegiatan pembekalan dokter baru. Setiap calon dokter memperoleh paparan informasi seputar sistem penerimaan dokter spesialis, UU praktik kedokteran, kebijakan pemerintah terkait program inhternship, kewirausahaan, serta kegawatdaruratan.

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu