Obesitas pada anak dapat memicu mikropenis. (Dok. Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Kelebihan berat badan atau obesitas memang selalu menyisakan banyak problem kesehatan, tak terkecuali obesitas pada anak-anak. Kegemukan sentral pada area perut ternyata dapat memunculkan resiko gangguan pada organ vital.

Dokter Spesialis Andrologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga – RSUD Dr. Soetomo Dyan Pramesti,dr., M.Kes, Sp.And mengatakan, pertumbuhan organ seks sekunder sangat dipengaruhi oleh hormon testosteron.  Jika terjadi gangguan pada hormon tersebut, makan proses pertumbuhan penis menjadi terhambat. Gangguan hormonal inilah yang diduga meyebabkan terjadinya keterlambatan pertumbuhan penis.

“Dari sejumlah pasien yang saya tangani,  80 persen pasien anak yang obesitas mengalami mikropenis. Hal ini karena kegemukkan memicu terjadinya gangguan hormonal, sehingga menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi hormon testosteron,” ujarnya.

Idealnya ukuran penis bayi baru lahir pada kondisi rileks adalah 3,1-4,7 cm, pada anak umur 1 tahun 3,9-5,6 cm, dan usia 5 tahun adalah 4-5 cm. Penis yang kurang dari ukuran normal disebut penis kecil dan belum memerlukan terapi hormon. Sementara, jika ukurannya kurang dari 2,5 cm lebih dari rentang ukuran normal, maka kondisi ini disebut mikropenis sehingga perlu diupayakan terapi hormon.

Menurutnya, kasus mikropenis pada anak kegemukan sebenarnya dapat ditangani melalui terapi hormon  HCG. Meski begitu, para orang tua patut waspada ketika anaknya mengalami obesitas, serta berupaya membantu anak mengendalikan berat badan.

“Jika tidak segera diketahui dan ditangani, akan berisiko mengalami mikropenis hingga dewasa,” ungkapnya.

Melalui serangkaian tes dan terapi hormon testosteron dari luar berupa HCG, akan memicu testis memproduksi testosteron. Terapi tersebut akan berdampak pada perubahan ukuran penis menjadi lebih besar, meningkatkan kualitas pembentukan sel benih hingga memperbaiki fungsi reproduksi.

Terapi hormon akan efektif apabila dilakukan sebelum anak memasuki usia pubertas. Dan sebaiknya, dilakukan sebelum anak memasuki akil balig atau maksimal ketika anak berumur 12 tahun.

“Oleh karena itu harus diperbaiki kadar hormon di dalamnya. Untuk ketepatan diagnosis, ukuran penis harus dipastikan dengan teknik pengukuran yang benar,” tambahnya.

Kaitan antara mikropenis dengan kualitas kesuburan tentu berbeda. Kualitas kesuburan lebih identik dengan kualitas  testis (zakar).

“Bukan berarti yang mikropenis itu tidak subur. Hanya saja, anak dengan mikropenis memiliki zakar yang tidak turun. Akibatnya dapat  berisiko mengalami gangguan kesuburan,” ungkapnya.

Sebelum menentukan pengobatan, dokter andrologi terlebih dahulu akan melakukan serangkaian pemeriksaan fisik untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada alat vital si anak, serta menentukan perlu tidaknya terapi.

Strecthed Penile Length (SPL) adalah standar pengukuran penis menggunakan penggaris yang kaku atau spatula kayu. Selain mengukur panjang penis, evaluasi secara menyeluruh juga dilakukan mulai dari memeriksa kondisi anatomi penis, skrotum, dan testis.

Selain melihat kondisi penis, diperiksa pula kondisi zakarnya. Karena pada kasus mikropenis, umumnya disertai dengan kondisi ukuran zakar yang kecil, zakar tidak turun, atau lubang kencing tidak pada tempatnya (hypospadia). Kondisi tersebut menandakan terhambatnya pertumbuhan bagian terpenting dari organ reproduksi.

Jika terdiagnosa mikropenis, dokter akan memberikan terapi injeksi hormon testosteron secara berkala dan dosis yang disesuaikan dengan kebutuhan anak. Selain itu, dokter juga akan menyarankan kepada pasien untuk menurunkan berat badan.

Jika mikropenis akibat obesitas, maka masih bisa diatasi. Namun jika diakibatkan karena kelainan kromosom seks atau kelainan klinefelter syndrome, maka tidak menutup kemungkinan dapat menurun secara genetik.

Seperti diketahui, klinefelter syndrome adalah kelainan genetik pada laki-laki yang disebabkan karena kelebihan kromosom X. Laki-laki normal memiliki kromosom seks berupa XY, sementara penderita klinefelter syndrome umumnya memiliki kromosom seks XXY. Penderita klinefelter syndrome akan berpotensi mengalami kemandulan dan menurun secara genetik. (*)

Naskah : Sefya Hayu Istighfaricha
Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone