Ilustrasi
Ilustrasi media macarita
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Tatapan rembulan di malam itu, menggiringku pada wajah seorang perawan,

senyum kenesnya beberapa kali menyentuh jantung hati yang belum sempat terpaut sebelumnya

Benarkah itu sesungguhnya yang disebut perasaan cinta, sebuah gerakan molekul-molekul atom yang berhasrat menjadi senyawa dalam satu padu tiada berpisah,

Hingga seakan-akan tiada lain kecuali suasana dunia ini berubah cerah penuh bahagia, dengan taman dua warna, bernama dirinya dan diriku.

Kau mungkin boleh mengejek rembulan malam,

padang lautan debu itu memang kering, karenanyalah ku menatap wajah itu,

wajah yang basah penuh rintik hujan dari langit yang tak kunjung gelap

Ketimbang, kau lari-lari terus, siapa engkau gerangan, segeralah duduk disampingku, meneguk anggur ini, anggur abadi yang memuaskan diri dalam kemabukan.

Dari dalam tetesan anggur ini, akal sehatku terbang melayang-layang, menghempas jauh tak terukur mengingatkan padaku tentang raga dan jiwamu yang tak sempat menyatu,

Inilah raga terlemahku, tak mampu menundukkan keindahan-keindahan warna, dan tak siap memuaskan tetes-demi tetes kegersangan sebuah hati yang sudah haus madu dari kembang rembulan di malam kemerlip.

Mendekatlah kan ku sentuh wajahmu, ayo…aku ingin mendekap rasamu, hingga kau perkenankan diriku tuk mengecup seluruh nadi darah hidupmu

Di saat itu kau harus tunduk bersama sejengkal perasaan yang akan meluapkan kemesraan bersama rembulan yang malu.

 

Penulis: Risang Kusuma Putra

*)Pembelajar yang tinggal di risangkusumaputra@gmail.com

 

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone