FK UNAIR Kedatangan Tim Terapi Kanker dari New York

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
kanker
Suasana diskusi antara pihak FK UNAIR dengan tim IAEA. (Foto: Sefya Hayu Istighfaricha)

UNAIR NEWSFakultas Kedokteran Universitas Airlangga menerima kedatangan tim imPACT-IAEA (Integrated Mission of Programme of Action for Cancer Therapy – International Atomic Energy Agency). Kedatangan mereka kali ini untuk meninjau ulang pelaksanaan kegiatan penanggulangan kanker di Indonesia.

Untuk kedua kalinya tim PACT datang ke Indonesia. Kedatangan mereka kali ini untuk menindaklanjuti misi pelanggulangan kanker yang telah mereka susun  pada tahun 2010 lalu, dan telah ditindak lanjuti oleh Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN).

Tahun 2018, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengundang kembali tim PACT untuk meninjau ulang pelaksanaan program penanggulangan kanker yang sudah berlangsung sejak delapan tahun lalu.

Sejauh ini IAEA bekerjasama dengan organisasi kesehatan dunia WHO untuk mengevaluasi program pengendalian kanker yang sudah dijalankan di Indonesia. Tim tersebut terdiri atas perwakilan Asosiasi Profesor dari New York, The Women’s and Children’s Hospital, serta Union for International Cancer Control.

Dian Martiningrum, Perwakilan Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI mengatakan, karena sudah banyak yang pemerintah lakukan sejak 2010, maka perlu dilakukan evaluasi untuk mengetahui apa saja yang sudah dilakukan. Serta, menyempurnakan program penanggulangan kanker yang sudah disosialisasikan sejauh ini.

Dalam kesempatan itu, tim PACT mengunjungi sejumlah institusi pendidikan kedokteran di Indonesia, salah satunya FK UNAIR. Kedatangan mereka disambut perwakilan staf dosen bidang onkologi FK UNAIR, di Ruang Sidang A FK UNAIR, Jumat (26/1). Selain FK UNAIR, tim PACT juga menyambangi FK Universitas Sumatera Utara, FK Universitas Indonesia, dan FK Universitas Gadjah Mada.

Dalam hal penanggulangan kanker, Indonesia masih terkendala sejumlah permasalahan. Antara lain kekurangan tenaga dokter serta pendistribusian dokter yang tidak merata. Untuk itu, tim PACT ingin menilai sejauh mana peran institusi pendidikan kedokteran untuk Cancer Care Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, mereka menggali informasi yang representatif tentang pendidikan kedokteran yang diampu oleh beberapa fakultas kedokteran di Indonesia. Mulai dari kurikulum pendidikan, hingga pelatihan medis yang telah diterapkan di masing-masing institusi. Seperti pelaksaan program dokter internship.

Agenda monitoring tim PACT dilanjutkan dengan mengunjungi Rumah Sakit Adi Husada dan Yayasan Kanker Indonesia.

“Setelah itu mereka ada meeting internal, dan hasil rekomendasinya nanti diserahkan ke Kemenkes RI untuk membuat kebijakan berikutnya,” ujarnya.

Sejak 2010 hingga sekarang, Kemenkes RI melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular serta Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan telah berupaya menyosialisasikan berbagai kegiatan yang terintegrasi tidak hanya untuk penganggulangan kanker, tetapi juga untuk penyakit tidak menular lainnya, seperti jantung, diabetes, dan lain sebagainya.

Sejauh ini, Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular serta Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan sedang menyusun 12 pedoman pengelolaan penyakit kanker.

Kemenkes RI juga berupaya menyosialisasikan gerakan masyarakat sehat untuk pencegahan penyakit dengan cara cek kesehatan secara rutin, serta giat menyosialisasikan pentingnya serta mengonsumsi sayur dan buah, rutin beraktifitas fisik, dan menghindari stres sebagai upaya pencegahan kanker. Kegiatan lain juga dilakukan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya deteksi dini.

“Selama ini yang menjadi permasalahan adalah pada tahap deteksi dini. Karena sebelumnya sebagian besar penderita tidak menyadari jika telah menderita gejala-gejala yang mengarah pada keganasan kanker,” ujarnya.

Dian berharap, melalui kegiatan edukasi deteksi dini dapat menekan angka kematian serta meningkatkan kualitas hidup penderita kanker.

Sayangnya, hingga saat ini belum ada data akurat yang menunjukkan besaran prevalensi kanker di Indonesia. Namun jika diamati dari besaran alokasi dana BPJS untuk meng-cover biaya penanganan pasien kanker hingga tahun 2017, maka biaya klaim untuk kanker menduduki posisi ketiga tertinggi hingga mencapai lebih dari enam triliyun rupiah.

Oleh sebab itu, Kemenkes RI saat ini sedang berupaya mengembangkan cancer registry system. Sistem ini menampung data jumlah penderita kanker dari berbagai rumah sakit di Indonesia. Diharapkan, data yang terkumpul benar-benar akurat, karena bersifat online dan ter-update secara real time.

“Saat ini Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular serta Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan sedang sosialisasi ke berbagai rumah sakit. Serta, melatih para SDM untuk bisa mengakses cancer registry system ini,” ujarnya.

Soal teknologi pengobatan kanker di Indonesia, Dian menilai sejauh ini sudah cukup menunjang pengobatan pasien kanker. Sebut saja Linex (alat radioterapi) dari pemerintah. Di Indonesia telah beroperasi sebanyak 35 unit Linex untuk mendukung terapi kanker.

Hanya saja, distribusi Linex kurang merata. Sebab, sebagian besar masih terpusat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara di wilayah Indonesia bagian timur belum terjangkau.

Hal ini mengindikasikan penderita kanker di wilayah timur Indonesia sulit tertangani dengan cepat. Untuk bisa mengakses terapi, mayoritas dari mereka harus dirujuk dulu ke Makassar atau Surabaya, dan itu memerlukan waktu serta biaya yang tidak sedikit.

“Biasanya kalau sudah stadium lanjut dan pengobatan sulit dilakukan, akhirnya pasien kanker stadium lanjut tidak terselamatkan,” ungkapnya. (*)

Penulisan: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu