ikan
Ikan Asap. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter1Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS Menikmati sepiring nasi hangat dengan sambal terasi dan ikan asin memang bikin nagih. Namun di balik gurihnya ikan yang diawetkan ini kita sepatutnya tidak berlebihan dalam mengonsumsinya. Mengapa? Karena ikan asin disebut-sebut sebagai salah satu jenis makanan pemicu Kanker Nasofaring (KNF).

Selain ikan asin, jenis olahan ikan lain seperti ikan asap maupun jenis ikan berpengawet lainnya dapat berdampak buruk bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Seperti disampaikan oleh Achmad Chusnu Romdhoni, dr., SpTHT-KL (K) bahwa adanya kandungan bahan kimia dan pengawet pada olahan ikan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya mutasi sel dalam tubuh. Terlebih lagi proses pengawetan ikan dengan cara diasinkan, diasap atau dimasak menggunakan kayu bakar akan merubah kandungan protein di dalam ikan menjadi unsur yang berbahaya

“Apabila tubuh tidak mampu memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh mutasi sel tersebut, maka sel menjadi tidak terkendali, kondisi itu memicu terjadinya tumor,” ujarnya.

Tren penderita KNF diprediksi meningkat setiap tahun. Surabaya menjadi wilayah endemis tertinggi se-Jawa Timur. Hal ini ditengarai karena pengobatan KNF yang dinilai tidak tuntas, sehingga menyebabkan peningkatan kasus. Bukan lantaran biaya pengobatan yang mahal, melainkan disebabkan karena adanya stem sel kanker sebagai faktor penghambat proses penyembuhan. Fakta ini berhasil ia buktikan melalui penelitiannya.

Pria kelahiran September 1976 ini tergelitik meneliti fenomena itu lantaran penasaran dengan hasil terapi penderita KNF yang sejauh ini dinilai tidak pernah optimal.

Secara teoritis stem cell (sel punca) kanker ada di semua jenis kanker. Sel punca kanker ini merupakan bagian dari tumor yang sifatnya mirip dengan sel punca normal. Sel punca kanker bisa membelah diri, memperbanyak diri, dan berubah menjadi sel dewasa.

Melalui penelitiannya, Dosen Departemen/SMF Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran UNAIR- RSUD Dr. Soetomo Surabaya ini membuktikan bahwa stem cell kanker bersifat kebal atau resisten terhadap pengobatan dengan kemoterapi cisplatin. Itu artinya, pada proses pengobatan, tumor ganas atau kanker tidak akan maksimal karena terhambat oleh stem cell kanker yang sulit dieliminasi.

Menurutnya, penanganan kanker satu ini tidak cukup hanya dengan obat dan melakukan terapi radiasi maupun kemoterapi. Untuk memaksimalkan pengobatan, diperlukan terapi kombinasi untuk mengeliminasi sel kanker.

“Walaupun pasien telah menjalani terapi radiasi, kemoterapi, bahkan mengonsumsi obat terbaik sekalipun ternyata  masih ditemukan adanya residu berupa sisa tumor,” ungkapnya.

Apa gejalanya?

KNF adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Gejala klinisnya bervariasi, tergantung tingkat keparahan. Umumnya, penderita baru memeriksakan diri ketika sudah mengalami benjolan di bagian samping leher, gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kesulitan menelan, hingga mimisan.

Seringkali penderita KNF mengeluh sakit di bagian telinga dan mengalami pilek bercampur darah. Ini terjadi karena letak kanker yang tersembunyi, tepatnya berada dekat dengan bagian otak. Sebagai dampak lanjut, terjadi pula benjolan pada leher, gangguan syaraf pusat otak, hingga sakit kepala berkepanjangan.

Stem sel kanker dengan stem sel normal sama-sama dihasilkan dari sum-sum tulang (bone marrow). Yang membedakan adalah  stem sel normal tidak mengalami mutasi. Berbeda dengan stem sel kanker, stem sel ini secara genetik menyebabkan kanker. Ketika stem cell kanker bermutasi, maka akan sangat berpotensi menjadi tumor ganas.

“Sejumlah literatur menyebutkan sisa tumor itu diduga merupakan stem cell kanker. Sehingga segala bentuk pengobatan yang diberikan tidak mempan dalam melumpuhkan ganasnya sel kanker. Parahnya, stem sel itu justru kambuh sehingga membentuk kanker baru, dan itu sudah terbukti benar,” jelasnya.

Di Indonesia, kasus KNF terbilang cukup tinggi. Di negara manapun, 80 persen penderitanya datang dengan kondisi akut sehingga menyulitkan proses penyembuhan.

Romdhoni merasa perlu digalakkannya program skrining untuk deteksi dini sekaligus sosialisasi kepada petugas kesehatan di puskesmas dan masyarakat, seperti nelayan, para pekerja di tempat pembakaran gerabah, hingga masyarakat yang tinggal di lingkungan industri.

Adanya faktor pemicu yang lain

Selain faktor makanan, faktor lingkungan seperti rokok, resiko bekerja di lingkungan industri dan penuh asap juga menjadi faktor pemicu. Namun ada lagi faktor pemicu lain yang justru lebih ditakuti dan sulit dihindari, yakni ancaman penyebaran virus Ebstein Barr (EBV) serta faktor genetik (ras mongoloid).

“Di negara manapun termasuk Indonesia sulit untuk terhindar dari resiko infeksi virus EBV. Itu karena 90 persen populasi serologinya positif,” ujarnya.

Untuk bisa mencapai status KNF stadium lanjut, tidak ada batasan waktu. Semua tergantung dari keganasan tumor itu sendiri. Jika pertumbuhannya cepat, maka rentan waktu untuk mencapai keganasan lebih cepat.

”Jika pertumbuhan virus cepat maka estimasi waktu sekitar tiga bulan untuk menjadi KNS stadium awal. kondisi tersebut bisa diperparah jika sering terpapar dengan faktor pemicu lainnya. Pertumbuhan sel tumor akan lebih cepat menjadi  kanker,” ujarnya.

Potensi terserang KNF memerlukan adanya kombinasi dari tiga faktor diatas. Jika faktor virus dan genetik tidak dapat dihindari, maka yang bisa ditekan adalah faktor risiko dari karsinogen lingkungan, antara lain dari makanan berpengawet dan rokok.

“Penting bagi kita untuk menghindari konsumsi makanan berpengawet, mengurangi konsumsi ikan asin, menghidari rokok, dan meningkatkan pola hidup sehat,” ungkapnya. (*)

Penulis: Sefya Hayu Istighfaricha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter1Email this to someone