kesehatan gigi
"Kartu Hati" besutan tim mahasiswa koas FKG UNAIR (Foto: Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebagai lingkup terkecil dari masyarakat, keluarga merupakan unit dimana pendidikan kesehatan bisa dimulai dan diterapkan. Peranan keluarga, dalam hal ini orangtua khususnya ibu, sangat penting dalam mendidik sekaligus memantau kesehatan gigi anaknya.

Berangkat dari kepedulian itu, sekelompok mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) diterjunkan untuk melaksanakan pemberdayaan masyarakat berbasis riset di wilayah Puskesmas Gayungan, Kota Surabaya, periode Desember 2017 – Januari 2018 lalu.

“Setiap bulan, selalu ada penerjunan mahasiswa koas, berupa kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapangan) dari FKG UNAIR yang bertujuan untuk membantu masyarakat dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya dalam hal upaya promosi kesehatan gigi dan mulut,” ungkap Gilang R. Sabdho Wening, drg., M.Kes selaku Penanggung Jawab PKL FKG UNAIR.

“Selama termin 2017 lalu, pada umumnya keparahan kasus gigi anak di beberapa sekolah dasar di Kota Surabaya selalu memiliki faktor resiko yang berangkat dari peranan orangtua siswa dan guru di sekolahnya,” tambah Gilang yang juga seorang dosen di Departemen Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat (IKGM) FKG UNAIR.

Kali ini, bertempat di wilayah kerja Puskesmas Gayungan Surabaya, tim PKL mahasiswa koas kembali menemukan bahwa peranan orangtua dan guru menjadi salah satu kunci keberhasilan program kesehatan gigi anak.

“Berdasarkan penelitian di wilayah ini, kami menyimpulkan bahwa orangtua masih perlu dibimbing dan diajarkan bagaimana seharusnya menilai kesehatan gigi anak. Hal tersebut dibuktikan dengan masih kurangnya pengetahuan kesehatan gigi pada para orangtua di sini,” tegas Efata Dewi Nurmalitasari selaku ketua tim PKL.

Sebagai output dari setiap kegiatan PKL, mahasiswa dituntut untuk membuat executive summary sebagai laporan penelitian dan rekomendasi kepada stakeholders bidang kesehatan di Kota Surabaya.

Dalam laporan penelitian mereka, lima faktor risiko tertinggi pendukung keparahan penyakit gigi antara lain rendahnya pengetahuan orangtua tentang kesehatan gigi dan mulut, rendahnya angka kunjungan anak ke dokter gigi di puskesmas, tingginya konsumsi makanan manis dan lengket, kesalahan memilih waktu untuk menyikat gigi pada anak, dan rendahnya respon orangtua untuk membawa anak ke dokter gigi setelah mendapatkan rujukan. Laporan yang tersebut dibuat sebagai feedback untuk kepada Dinas Kota Surabaya.

Kartu hati

Sebagai solusinya, untuk mengatasi faktor-faktor risiko tersebut, tim PKL meluncurkan sebuah inovasi berupa Kartu Hati atau Healthy Teeth Card. Kartu ini digunakan sebagai pedoman orangtua untuk menilai kesehatan gigi anak secara mandiri, sekaligus sebagai penghubung informasi antara dokter gigi, guru, dan orangtua dari siswa di wilayah Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya.

Di dalam kartu ini terdapat informasi tentang cara menjaga kesehatan gigi anak, kolom pencatatan kebiasaan menyikat gigi, hingga tabel tingkatan keparahan gigi yang dimiliki anak.

“Kartu ini tidak akan berarti maksimal jika keterlibatan aktif orangtua untuk memantau dan mencatat tidak dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu, pada hari peluncuran Kartu Hati ini, kami juga melatih para orangtua dan guru bagaimana cara menggunakan kartu itu,” ujar Made Dwi Andri, koordinator program promosi kesehatan tim PKL yang juga alumnus SMAN 5 Surabaya.

“Kami bahagia dengan adanya dukungan dari FKG UNAIR di Puskesmas Gayungan. Karena memang inovasi dari anak-anak muda ini diperlukan untuk merangsang ketertarikan anak-anak SD dan orangtua agar peduli pada gigi anaknya,” papar drg. Putik Maya Sariri selaku dokter gigi Puskesmas Gayungan.

“Ke depan, kami berharap bahwa Kartu Hati ini dapat dimanfaatkan sebagai alat kontrol puskesmas pada status kesehatan gigi anak SD, sekaligus mampu memandirikan orangtua dalam menilai kebutuhan perawatan gigi anaknya,” tambah Made menutup sesi wawancara. (*)

Penulis: Larasati Ramadiani, Irma Josefina Savitri

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone