intelektual
KIRA-KIRA beginilah gambaran generasi millenial yang lahir pada dekade 1980-2000. (Ilustrasi : theweek.com)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

PEMBAHASAN tentang generasi millenial sudah cukup banyak dilakukan. Mayoritas membidik perspektif potensi ekonomi dan optimalisasi kuantitas demografi. Pada kesempatan ini, penulis coba menawarkan perspektif baru, yakni telaah kritis tentang intelektualitas generasi millenial Indonesia.

Ketika kepemilikan modal menciptakan suatu kesempatan untuk mendominasi, maka memahami teori fraksi kelas milik Piere Bourdieu adalah jalan. Teori fraksi kelas ini mengajarkan preferensi estetika kaum muda, yang ditentukan oleh variasi antara modal sosial, modal ekonomi, dan modal kultural.

Di Indonesia, modal kultural merupakan potensi yang sangat relevan dan urgen untuk dimapankan. Dimana modal tersebut merupakan keseluruhan kualifikasi intelektual setiap orang yang diasah dalam dunia pendidikan.

Sarana alternatif, penguasaan modal kultural (intelektual) sebagai senjata, patut diberikan porsi yang ideal. Ketika melihat realitas hari ini, negara dan generasi muda (generasi baby boomers dan generasi X) tidak mampu menguasai modal ekonomi (alat produksi), modal sosial (diplomatik), serta modal simbolik (pengakuan identittas), maka bisa berdampak pada ketidakmampuan kita memenangkan pertarungan dalam berbagai ruang khusus. Dalam bahasa Piere Bourdieu disebut “Arena”.

Dalam “Arena”, guna memenangkan pertarungan, maka diperlukan modal yang tepat. Disinilah modal kultural berupa intelektualitas generasi millenial Indonesia adalah modal yang elegan dan tepat sebagai alternatif untuk memenangkan persaingan pasar bebas.

Menakar Intelektualitas

Generasi millenial merupakan angkatan manusia yang lahir pada kisaran periode 1980-2000. Mereka lahir dan tumbuh-kembang seiring dengan kecanggihan teknologi informasi. Posisi ini membentuk pola perilaku stagnan dan memanjakan. Rutinitas dalam koneksi internet selama 24 jam berikut gawai di genggaman tangan adalah realitasnya.

Sebagai generasi modern dan mahir dalam menggunakan teknologi, seharusnya mampu memanfaatkan teknologi yang ada secara maksimal, bukan justru diperbudak oleh teknologi sebegitu banal (kasar, tidak elok). Dilematis. Ini sungguh disayangkan ketika kecanggihan teknologi informasi yang diciptakan oleh penguasa kapital membentuk dua poros kesenjangan.

Poros pertama, ketika tsunami informasi merebak pada tiap akses internet, mampukah generasi millenial memilih secara bijak informasi yang sesuai kebutuhan, bukan hasrat nafsu semu. Sebab, keberhasilannya akan turut merancang percepatan pembangunan kesejahteraan. Sebaliknya, kegagalan justru bisa mengakibatkan petaka berupa wabah kebodohan akut, kesadaran palsu, dan memberi keuntungan pada penguasa kapital media. Sebutlah menjadi budak kapital media.

Poros kedua, kecepatan dan keluasan akses informasi yang didapat akan bermanfaat secara maksimal jika dikomparasikan secara baik dengan buku sebagai sumber yang terverifikasi dan valid. Perlu disepakati bahwa internet dan informasinya tidak bisa dijadikan bahan acuan kevalidan suatu data, tetapi cukup sebagai informasi awal dan pemantik jalan menuju telaah sumber yang terverifikasi dan valid. Ingat, serakan informasi dan susunan ilmu pengetahuan itu berbeda. Menjadi oposisi kapital media.

Secara naluriah, baik poros budak kapital media (literasi media) maupun poros oposisi kapital media (literasi buku) terpisah oleh kuasa modal. Keduanya menapaki jalan berbeda dalam menemukan suara jernih diantara suara-suara bising.

Kadar intelektualitas generasi millenial Indonesia dalam takaran terbaru sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut University tahun 2016, menyebutkan litarasi masyarakat Indonesia teburuk kedua dari 65 negara di dunia yang diteliti. Artinya, Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negara.

Tetap Optimis

Meskipun produksi informasi antah-berantah dan media perangkap pembentuk perilaku konsumtif terus berinovasi, namun generasi millenial Indonesia tetap berkesempatan merebut kuasa dari perilaku konsumtif menuju kegiatan produktif. Optimisme menyeruak kala modal intelektual (kultural) yang benar-benar paling mungkin dikuasai dalam “arena” telah dimiliki. Sekecil apapun, modal tetaplah modal. Merintis adalah jalan terjal yang memang perlu ditempuh.

Data yang memberikan catatan buruk kepada intelektualitas millenial Indonesia dipukul balik dengan segudang prestasi generasi millenial di bidang pendidikan yang banyak diraih di ajang internasonal. Ini suatu bukti betapa seksinya modal kultural (intelektual) ini untuk dibangun dan dikembangkan.

Secara fundamental sudah kokoh. Tinggal bagaimana kemudian generasi millenial mampu mendemonstrasikan modal kultural berupa intelektualitas dengan konsisten, berani, dan rapi.

Raihan tertinggi atas bonus demografi dan mega proyek generasi emas 2045 akan tercapai ketika penguasaan dan kepemilikan modal intelektual mampu diamankan dan diaplikasikan. Dalam periode tersebut generasi millenial adalah penyumbang terbesar dalam komposisi demografi indonesia. Kontribusi personal generasi millenial melalui modal kultural adalah jalan yang diharapkan bisa ditemukan formulasinya oleh pemangku kebijakan.

Agar tidak melulu pada aspek modal ekonomi (alat produksi) yang tersentuh, maka modal kultural (intelektual) patut dirambah dan dipertimbangkan potensinya dalam berbagai “arena”. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga; Ketua Keluarga Pelajar
Mahasiswa Banyuwangi di Surabaya.