pengambilan sumpah
Lulusan terbaik pelantikan dokter gigi & dokter gigi spesialis pada Rabu (17 Januari 2018) drg. Yunira Rosandita (kiri) dan drg. Alit Rahma Estu. (Foto: Hashfi Hilman)
ShareShare on Facebook149Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebanyak 31 dokter gigi (drg) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga diambil sumpah di Graha BIK-IPTEKDOK pada Rabu pagi (17/01). Hal itu menandai para mahasiswa FKG tersebut siap berkiprah dan mengabdi untuk masyarakat serta kemanusiaan.

Selain ke-31 dokter gigi disumpah, dalam prosesi itu, turut diumumkan peraih predikat lulusan terbaik FKG. Penganugerahan tersebut dipimpin langsung oleh dekan FKG Dr. R. Darmawan Setijanto, drg., M.Kes dan disaksikan oleh para orang tua dokter gigi baru.

”Sekaligus hari ini akan diumumkan lulusan terbaik FKG periode kali ini. Kedua mahasiswa berhasil meraih IPK (indeks prestasi komulatif, Red) di atas 3.5,” tutur Dr. R. Darmawan dalam sambutannya.

Dengan IPK 3.96, drg. Yunira Rosandita dan drg. Alit Rahma Estu didaulat menjadi lulusan terbaik FKG. Dua perempuan itu berhasil memenuhi kriteria kelulusan dokter gigi terbaik. Yakni, lulus tepat waktu serta menyelesaikan setiap stase, bagian-bagian pembelajaran, dengan IPK di atas 3,9.

“Setiap mata kuliah yang diberikan dipelajari sebaik-baiknya. Agar, mendapatkan nilai terbaik di setiap mata kuliah,” tutur Yunira perihal kunci capaiannya itu.

Perempuan kelahiran 13 Juni 1994 tersebut mengungkapkan, rajin dan mandiri sudah menjadi tuntutan untuk pendidikan profesi. Terutama agar mampu lulus tepat waktu.

”Ketika ada pasien, penyelesaiannya mesti saat itu juga. Jangan menunda waktu. Sebab, jatah di stase tersebut tiga bulan yang akhirnya membuat diri sendiri malas,” saran Yunira dan Alit untuk mahasiswa profesi.

Yunira menyarankan jangan mengulang beberapa stase dan menggunakan jalur cari pasien yang ilegal. Lebih baik dengan kenalan dan kemauan untuk mencari pasien sendiri.

”Selain itu, selalu bangun komunikasi yang baik dengan pasien untuk encourage mereka agar mengikuti seluruh perawatan dan mau berbagi ilmu,” sebutnya.

Menurut dia, juga diperlukan upaya membangun lingkungan yang saling support. Yang tidak lupa, bentengi diri dari pergaulan yang negatif seperti yang memicu kemalasan. Kemauan dan niat menjadi syarat utama untuk lulus lebih cepat.

”Membaca literatur dan browsing membantu dalam memperdalam informasi kasus. Review yang sudah dilewati seharian. Termasuk cari tahu kesulitan yang dialami, lalu belajar dengan senior dan dosen yang lebih berpengalaman,” ungkapnya.

Sementara itu, Alit menambahkan bahwa mengatur waktu sangat penting, baik untuk diri sendiri, pasien, maupun dosen. Pembagian secara detail setiap prioritas untuk waktu yang tersedia sangat diperlukan.

”Mengatur diri sendiri, kapan mengerjakan pasien ini, lalu follow-up pasien yang dirawat, dan jam belajar untuk mempersiapkan materi berdiskusi dengan dosen,” kata perempuan yang lahir pada 20 Oktober 1993 tersebut.

lulusan terbaik
Alit Rahma Estu, drg saat diberikan penghargaan oleh dekan FKG pada (17/1). (Foto: Feri Fenoria)

Perihal kesan selama menempuh pendidikan, lanjut alumnus SMAN 2 Nganjuk tersebut, salah satunya adalah dapat berkenalan dengan orang baru dan dosen. Juga, adanya pasien yang tidak sesuai dengan harapan untuk mengikuti perawatan selama di klinik.

”Setelah berhasil meraih gelar ini, tantangan terbesar sudah menunggu di depan. Kasus-kasus di luar klinik lebih banyak dan luas sehingga peran alumni sangat dibutuhkan untuk saling bertukar pikiran,” ujarnya.

Ke depan, dua lulusan terbaik tersebut mencari pengalaman terlebih dahulu dengan bekerja di klinik dan mengikuti seminar atau hands-on. Selanjutnya, mengambil spesialisasi menjadi target keduanya.

Penulis: Shantya Hermanto/ Gilang R. Sabdho Wening

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook149Tweet about this on Twitter0Email this to someone