-
Delegasi Pemerintah Timor Leste dan Universitas Airlangga seusai membahs kerja sama di bidang pendidikan Ruang Sidang A pada Senin (15/1). (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Pemerintah Timor Leste kembali menyambangi Universitas Airlangga untuk menindaklanjuti kerja sama di bidang pendidikan. Setelah sebelumnya, Pemerintah Timor Leste mengunjungi UNAIR untuk membicarakan perihal kebersediaan UNAIR untuk menerima mahasiswa Timor Leste. Kali ini, kunjungan yang dilakukan di Ruang Sidang A pada Senin (15/1) itu menjadi pertemuan untuk mematangkan persiapan seleksi dan penerimaan mahasiswa Timor Leste di UNAIR.

Mewakili Pemerintah Timor Leste, Ismenio Martins da Silva pada saat sambutan menyampaikan bahwa kerja sama di bidang pendidikan dilakukan sebagai bentuk dan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia Timor Leste.

“Ada empat ribu lebih mahasiswa kami yang menyebar di 226 negara. Paling banyak memang di ASEAN,” jelasnya.

Ketertarikan Ismenio untuk memilih UNAIR menjadi salah satu mitra kerja sama bukan tanpa sebab. Keunggulan dan prestasi UNAIR menjadi salah satu alasan yang kuat. Selain itu, banyaknya alumni UNAIR yang menempati posisi strategis di Pemerintahan Timor Leste turut menjadi alasan untuk memilih UNAIR sebagai tempat menimba ilmu mahasiswa Timor Leste.

“Banyak lulusan dari UNAIR yang menempati posisi strategis di negara kami. Jadi, kita akan terus tindak lanjuti kerja sama ini,” ujarnya. “Untuk perihal tes dan proses seleksi secara sepenuhnya, kami serahkan ke UNAIR,” imbuhnya.

Menanggapi pernyataan Ismenio, bersama wakil dekan tiga dari FK, FKM, FST, FKp, FISIP, FPsi, Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, Dra., M.Si., menyatakan bahwa mengenai penerimaan mahasiswa Timor Leste di UNAIR, pihaknya tidak hanya melakukan seleksi dan memberikan perkuliahan. Lebih dari itu, UNAIR  berkomitmen untuk memberikan pelatihan-pelatihan.

“Jadi agar tidak hanya studi, tapi juga pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM,” terangnya.

Bukan hanya itu, untuk memperkuat kerja sama, Prof. Nyoman mengakui bahwa ke depan UNAIR membentuk asosiasi perguruan tinggi yang serumpun. Terutama, tambah Prof. Nyoman, ialah kampus yang menggunakan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia dalam kegiatan studi.

“Kalau saudara kita di Malaysia dan Brunei Darussalam, saya kira hampir sama dengan Indonesia. Kalau Timor Leste bisa bergabung dengan kami, itu akan lebih unik,” terangnya.

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone