Jagongan
Ilustrasi: Feri Fenoria
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

Ia agak sedikit gila, mudah punya khayalan, ngeyelan, suka bergaul, tapi tak suka menjadikan kawan bicaranya sebagai teman. Selera humornya lumayan, penampilannya tidak modern, namun tidak setuju kalau disebut tidak modis. Hobinya adalah membual, membualkan apa saja yang ia ingin katakan. Dan, paling tidak, ia membual karena dicurhati oleh orang yang masih sulit ia terima sebagai temannya.

Kenapa dia sulit memiliki teman?

Ia memang tidak suka, ada banyak orang yang mengenalnya, memperhatikannya. Ia tak ingin dipedulikan orang lain. Meskipun setiap hari, ia membuat kesal orang lain dengan bualannya. Aku sendiri pernah komplain dan bertanya kepadanya soal ini.

Pendek ia menjawab, “Aku sengaja.”

Lantas, karena aku ikut kesal, maka kutimpali lagi dengan tudingan. “Kau terlalu sombong untuk ukuran orang yang merasa bahwa membuat kesal orang adalah kesengajaan.”

Waktu itu ia acuh. Ia terus dan terus seperti biasa. Serius saat ia fokus pada yang dikerjakannya. Kemudian, ia komplain ketika ada hal yang tidak beres. Ia amat mudah marah. Tapi, kalau permintaannya segera ditanggapi, ia kemudian riang kembali. Membuat joke-joke yang entah ia kumpulkan dari mana. Terus begitu, berulang-ulang sebagai keseharian yang kuharap ia tidak merasa bosan.

***

Suatu pagi, saya dapati meja sebelahku masih kosong ketika aku sampai di kantor. Biasanya ia selalu datang lebih awal dan saya selalu mendapatinya menggumam lirih membaca buku kesayangannya. Bisa dibilang ia punya selera yang aneh. Buku yang dibacanya selalu sama setiap pagi. Sampai sampulnya terlihat sudah mulai coklat karena terkena noda bekas kopi dan karena keseringan ia bolak-balik isi halamannya. Namun, ia selalu berkata bahwa ia baru membaca sampai halaman dua puluh dari total 183 halaman di buku itu.

Kata sohibul riwayat yang pernah bertanya kepadanya tentang halaman yang dua puluh itu. Ia menjawab bahwa, 20 itu tanggal kelahirannya. Dan ketika sampai ke halaman 20, ia merasa bahagia. Di situlah ia ingin menjadi orang yang terus penasaran dalam hidupnya untuk merasakan kerinduaan yang mendalam, agar ketika suatu saat ia membaca halaman 21, ia benar-benar mendapatkan pengobat kerinduan yang paling mujarab seumur hidupnya.

Lantas, kapan ia mendapatkan saat untuk melanjutkan halamannya ? Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu persisnya kapan.

Dan, memang cerita hari ini agak berbeda. Orang aneh itu terkonfirmasi tidak masuk. Ia sedang sakit. Sayangnya, karena ia sakit. Kantor malah terasa ada yang kurang. Seperti kopi yang kehabisan bubuk sehingga kurang hitam. Atau mungkin seperti cinta yang tak sayang kalau tanpa ada rayuan.

Apa daya, waktupun berjalan, dan ia izin selama agak lama. Pada hari ketiga ia izin, iseng-iseng ada yang coba peduli dengan dia. Padahal berkali-kali ia berkhotbah di depan temannya, bahwa ia tak butuh dipedulikan siapa-siapa. Tapi, salah seorang temanku ini ketularan juga dengan gaya ngeyelan.

Dan sampailah kita pada percakapan orang-orang sinting ini.

“Aku besok ke kosmu ya, teman-teman mau menjenguk!”

Tak usah, di sini aku sudah ada yang menunggui.
Ndak usah khawatir.

“Siapa ?”

Temanku.

“Ia, siapa namanya, maksudku ?”

Sakit.

“Sakit ?”

Ia, sakit adalah salah satu teman terbaikku.

Begitulah isi percakapan pesan Whatsaap antara temanku ini dengan dirinya. Katanya sakit adalah temannya. Memang ia agak sinting, dan terlalu kelewatan.

“Siapa lagi temanmu selain sakit ?”

Sepi yang membuatku tetap ramai. Gila yang membuatku terus berjuang untuk melawan ketidakwarasanku. Dan yang ini, yang kunikmati sekarang, sakit. Sebuah nikmat yang Alhamdulillah, Tuhan masih suka menegurku agar aku tidak lupa betapa banyak waktu-waktu yang kulalui hanya dengan sia-sia.

“Hehehehe…”

Kata mereka yang beragama, jawabanku tadi itu salah. Teman itu adalah yang sejati. Yang sejati menemani kita sampai akhir. Maka mereka berkata bahwa iman dan amal solehlah teman sejati yang akan terus menemani.

Iya, di luar segala sisi yang ia miliki. Ia memang punya daya cipta untuk mengajak teman-temannya menikmati puisi. Karena tingkah lakunya, jawaban-jawabannya, dan singkapan yang masih belum terbuka darinya selalu berpuisi sendiri-sendiri. Ada yang membuat ngakak, membuat satir, dan tak jarang juga membuat orang lelap sejenak untuk membaca sedemikian rupa kedalaman yang ada di dalam diri. Menyelam sampai tenang. Lalu pening, tertawa lagi. Dan, kita lari menyejukkan hati lagi. Tapi emosi lagi. Terus demikian, aktivitas kita berlalu dan berlalu. [ * ]

 

Penulis: Sukartono

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone