Ilustrasi oleh Feri Fenoria
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – “Membangun Indonesia dari desa”. Itulah yang menjadi salah satu landasan terselenggaranya kegiatan Kuliah Kerja Nyata – Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) Universitas Airlangga. Selain sebagai bentuk pengamalan tridharma perguruan tinggi, KKN-BBM UNAIR yang pada semester ini memasuki angkatan ke-57 itu ditargetkan mampu menjadi wadah bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus mengabdi.

Sebagai pihak yang membawahi program KKN-BBM, Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) UNAIR Prof. Dr. H. Jusuf Irianto, Drs., M.Com., saat ditemui pada sela kesibukannya menyatakan, untuk mengoptimalkan peran KKN-BBM, pihaknya terus melakukan berbagai gebrakkan. Salah satunya dengan mendesain ulang berbagai subtansi dan teknis pelaksanaan KKN-BBM.

Re-desain KKN ini merupakan upaya untuk efektifitas progam KKN-BBM agar dampaknya lebih maksimal. Terutama, hal-hal yang berkaitan dengan subtansi KKN-BBM dan penyelenggaraan secara teknis,” jelasnya.

Dalam hal subtansi, Prof. Jusuf menyatakan bahwa UNAIR ingin memberikan sumbangan yang signifikan dalam pembangunan di Jawa Timur dan Indonesia. Salah satunya dengan melakukan pengembangan masyarakat melalui KKN-BBM yang bersifat tematik. Karena itu, tambah Prof. Jusuf, program tersebut harus disesuasikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Jadi, dalam KKN-BBM yang tematik ini, bukan lagi kita bisa melakukan apa, tapi masyarakat butuh apa,” terangnya.

Selanjutnya, Prof. Jusuf juga menegaskan bahwa penyelenggaraannya KKN-BBM yang bersifat tematik itu dilakukan dengan berkala dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena itu, Prof. Jusuf mencontohkan, dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN-BBM angkatan ke-56 bertugas untuk melakukan survei dan mengumpulkan data. Kemudian, data yang terkumpul digunakan mahasiswa KKN-BBM angkatan ke-57 untuk menyusun program.

“Ini kita awali pada semester kemarin sehingga dalam lima semester ke depan, bisa kita lihat hasilnya. Dengan melakukan kegiatan yang berkala seperti ini, nantinya kita memiliki desa binaan dan desa mitra startegis,” imbuhnya.

Data yang dikumpulkan tersebut, tambah dia, tidak hanya digunakan oleh mahasiswa angkatan 57, tapi dosen dan pemerintah setempat bisa menggunakan data yang telah dihasilkan oleh mahasiswa.

“Data-data inilah yang menjadi landasan pembangunan dan pengembangan desa terkait,” jelasnya.

Pada akhir, Prof. Jusuf juga kembali menegaskan bahwa untuk melakukan perubahan tidaklah mudah. Ada beberapa pihak yang terlihat canggung dan bahkan tidak sedikit yang merasa bingung dengan model KKN-BBM yang baru saja diterapkan. Karena itu, Prof. Jusuf dan tim sebelum mengeksekusi kegiatan terus melakukan sosialiasasi dan pendekatan kepada dosen serta mahasiswa.

“Namanya perubahan tidak serta langsung diikuti pihak lain. Awalnya memang beberapa pihak kaget, kok banyak yang berubah. Mahasiswa juga demikian, dulu tidak begini kok sekarang. Nah itu solusinya kita sosulasisasi dan jelaskan,” paparnya. “Jangan berhenti untuk perubahan, terbukti, semester ini tidak ada banyak protes seperti semester sebelumnya,” imbuhnya.

Untuk mengetahui jumlah sebaran mahasiswa yang mengikuti KKN-BBM di sembilan kabupaten dan kota, UNAIR NEWS  berhasil merangkumnya dalam info grafis berikut:

Ilustrasi
Ilustrasi oleh Feri Fenoria R

 

Penulis: Nuri Hermawan

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone