Mahasiswa program pendidikan profesi Ners (P3N) Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga mempraktikkan penanganan luka korban kebakaran dalam pelatihan bertajuk “Pendidikan Kesehatan K3, Demonstrasi, Evakuasi, dan Penatalaksanaan pada Korban Kebakaran” di Balai Kelurahan Medokan Semampir, Kamis (4/1). (Foto: Feri Fenoria Rifai)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Odol, mentega, dan gula merah sering menjadi solusi masyarakat saat mengalami luka bakar. Padahal, secara medis, penanganan dengan bahan semacam itu tidak dianjurkan. Bahan-bahan tersebut dapat mengakibatkan iritasi kulit lebih lanjut. Bahkan justru bisa membuat luka kian parah.

“Memang maksudnya melembapkan. Namun, di sisi lain, kita tidak tahu zat-zat atau bahan yang terkandung di dalamnya seperti apa. Lebih baik melakukan tindakan yang dianjurkan medis,” ucap mahasiswa sekaligus penanggung jawab pelatihan bertajuk ‘Pendidikan Kesehatan K3, Demonstrasi, Evakuasi, dan Penatalaksanaan pada Korban Kebakaran’ di Medokan Semampir, Kamis (4/1).

Dalam pelatihan yang digelar mahasiswa program pendidikan profesi Ners (P3N) Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga di balai kelurahan itu dijelaskan, sebagian besar korban di rumah sakit yang datang karena luka bakar mengalami derajat luka yang cukup besar. Artinya, penanganan yang tidak sesuai dengan prosedur pasca terluka oleh masyarakat turut menjadi penyebabnya.

Sesuai dengan prosedur yang tepat, pasca terjadinya luka bakar, area luka mesti didinginkan dengan membasuhnya melalui air bersih yang dialirkan, disiram. Selanjutnya, pastikan area luka itu tetap lembap. Yakni, dengan mengompresnya dengan kain bersih serap air.

”Pastikan dengan air bersih. Jika tidak, air akan menimbulkan infeksi sehingga mengakibatkan luka kian parah atau komplikasi lebih lanjut,” ujar Hidayat. ”Jadi, langkah pertamanya, pastikan luka itu tertutup dan tetap lembap,” imbuhnya.

Hidayat menjelaskan, luka bakar terjadi karena kulit, mukosa (lapisan kulit dalam), dan jaringan yang lebih dalam mengalami trauma panas akibat bahan penghasil panas. Saat bersamaan, orang dengan luka bakar bakal mengalami evaporasi (penguapan) cairan tubuh.

“Evaporasi cairan tubuh yang terus-menerus atau berlebihan inilah yang ditakutkan,” tegasnya.

Sebab, evaporasi cairan tubuh yang berlebihan dapat mengakibatkan syok hipovolemik. Yakni, kondisi kegagalan sirkulasi akibat volume darah yang rendah sehingga jantung tidak dapat memompanya ke seluruh bagian tubuh. Gejalanya berupa gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun, serta produksi urin berkurang.

”Karena itu, masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam penanganan korban kebakaran. Pengetahuan dasar atau pertolongan pertama menjadi penting agar potensi terjadinya luka yang lebih besar dapat dihindari,” jelasnya. ”Setelah pertolongan pertama atau penanganan yang tepat, biarkan pihak medis melakukan penanganan lebih lanjut,” imbuhnya. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone