Salah satu produk mahasiswa yang diperlihatkan di Nerspreneurship 2017. Mahasiswa FKp selalu didukung oleh dekanat untuk mengembangkan kreatifitas.
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Fakultas Keperawatan (FKp) adalah keberadaan dosen-dosen yang berwawasan global. Para pengajar itu tak pernah pelit membagi ilmu pada mahasiswa di sana.

Demikian yang diungkapkan oleh Qurrata A’yuni Rasyidah, salah satu mahasiswi angkatan 2015. “Banyak dosen yang punya pengalaman belajar di luar negeri. Kami ikut bangga dan kagum. Para pengajar di sini bukan orang sembarangan,” papar dia.

Para dosen juga memiliki sikap kekeluargaan. Sehingga, membuat nyaman suasana perkuliahan. Apalagi, selama ini banyak pula dosen yang secara khusus turun tangan dalam membantu kegiatan mahasiswa. Baik di organisasi, maupun di komunitas minat dan bakat.

“Pembimbing Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) memiliki kepedulian pada kegiatan akademik maupu  non akademik yang kami lakukan,” tandas dia.

Misalnya, dengan cara mencarikan peluang dan wadah bagi mahasiswa untuk mengikuti even-even positif. Ketika mahasiswa terkendala dalam masalah biaya di bagian keuangan, pembimbing akan memberi saran serta mencarikan solusi.

Pembimbing juga ikut terjun langsung membantu kegiatan. Contohnya, tatkala ada mahasiswa FKp mengikuti lomba poster dan membutuhkan voting “like” di instagram untuk bisa masuk ke babak berikutnya, pembimbing turut menyebarluaskan informasi guna pengumpulan massa voting. Pembimbing selalu bersemangat memompa motivasi mahasiswa. Perannya pun kongkret sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan.

Kuliah di FKp memberi banyak manfaat bagi para mahasiswanya. Termasuk, manfaat di aspek mental atau keseimbangan kejiwaan. Maksudnya, para mahasiswa digembleng untuk lihai merawat orang lain yang sedang sakit. Di waktu yang sama, rasa syukur karena diberi kesehatan ikut terpupuk.

“Kami jadi lebih menghargai kesehatan, dan tidak mau menyakiti orang lain, baik fisik maupun psikis. Karena sakit itu tidak enak,” ungkapnya. “Rasa kepekaan sosial terus terasah,” imbuhnya.

Ditambahkan Emha Rafi Pratama, salah satu mahasiswa, dekanat selalu memberi ruang para mahasiswa untuk ikut berpartisipasi dalam ajang internasional. Dengan demikian, pengalaman berharga dapat diraih para mahasiswa tersebut. “Kegiatan organisasi kami, bahkan program kerja besar sekalipun, pasti didukung penuh,” ungkap dia. (*)

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Alumnus S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga. Penulis buku kumpulan esai “Menyikapi Perang Informasi”, kumpulan puisi “Balada Pencatat Kitab”, dan kumpulan cerita pendek “Merantau”. Editor foto dan berita di www.news.unair.ac.id. Bergiat di www.suroboyo.id.