Menikah Lagi

TIDAK akan ada orang yang terlalu terkejut atas pernikahan kedua Batutah. Orang-orang hanya berpikir bahwa seorang duda dengan satu anak berusia 5 tahun, tengah melepas masa lajang setelah ditinggal mati istrinya selama setahun. Tapi, bagi saya, momen ini cukup menghentak.

Saya seperti sudah melihat pernikahan ini sejak beberapa tahun silam. Wartawan sebuah majalah ternama ini, yang tulisan-tulisannya begitu tajam soal olahraga, sudah pernah bilang, bahwa saat istri dan mertuanya meninggal, dia akan langsung mempersunting seorang gadis yang dulu pernah dirayunya. Mereka sejatinya hampir menikah. Namun, takdir dengan segala kerumitannya, berpihak pada istri Batutah yang pertama, anak sepasang pengusaha tambak di Sidoarjo.

Lelaki asal Lamongan ini seperti sudah menduga pula, istri dan mertuanya akan mampus akibat tabrakan hebat di jalan tol. Apa yang pernah dia sampaikan saat kami mengobrol di salah satu stand PKL dekat Gelora Delta Sidoarjo itu terwujud setahun silam. Keluarganya meninggal seketika di jalan tol. Kecuali, anak perempuannya yang waktu itu berusia empat tahun. Bocah itu selamat tanpa kurang satu apapun. Saat kecelakaan, Batutah tidak berada di mobil yang sama.

Saya dan Batutah, serta kawan kami Mubarok, adalah wartawan surat kabar kriminal Surabaya, sejak duduk di semester akhir sekolah Wartawan Ngindeng, sampai tiga tahun setelahnya. Saya jadi reporter rubrik Klenik, sedangkan Batutah dan Mubarok jadi wartawan khusus Polwiltabes (sekarang Polrestabes) Surabaya dan Mapolda Jawa Timur.

Setelah tiga tahun, saya bertekad kuliah S2 untuk jadi dosen. Sementara Batutah dan Mubarok pindah ke majalah kenamaan. Batutah di rubrik olahraga dan kerap keliling kota di sepanjang Indonesia. Sedangkan Mubarok dipatok fokus di gubernuran Jawa Timur.

Beberapa tahun silam, setelah sudah sama-sama mapan dengan pekerjaan kami pasca jadi reporter koran kuning, di salah satu stand PKL Gelora Delta Sidoarjo, sehabis mengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi di sebuah kampus swasta dekat alun-alun, saya menemui Batutah yang habis liputan sepak bola di sana. Dia bersungut-sungut, mengeluhkan istrinya yang susah diatur. Keras kepala, seperti ayah mertuanya. Ibu mertuanya, banyak mengomel.

Secara finansial, dia dan keluarga tak kurang suatu apapun. Maklum, mertuanya adalah juragan tambak bandeng yang kaya raya. Problemnya, istri dan mertua dianggap Batutah memuakkan. Dia merasa seperti terasing. Dia mau ngekost bersama istri dan anak saja. Si istri merengek untuk menolak. Ayah dan Ibu mertuanya malah ceramah. Istri Batutah adalah anak semata wayang. Dan, anak perempuan Batutah yang waktu itu berusia satu tahun, adalah cucu kesayangan mertua Batutah.

Setelah mengeluh hebat kesana kemari, barulah Batutah mengatakan cerita yang absurd. Dia mengaku pernah bermimpi, istri dan mertuanya akan modar di jalan tol. Lantas, dia dan anaknya akan pindah ke Garut. Tempat seorang gadis, yang usianya tidak terpaut sampai setahun dengannya, berada.

Gadis itu, kata Batutah, menunggunya mempersunting. Gadis itu adalah seorang sarjana ekonomi dari kampus besar di Jakarta, dan meraih gelar masternya dari Universitas Sorbonne, Perancis.

“Dulu dia pernah jadi staf keuangan tim sepakbola di Jawa Barat. Saya kenal dia waktu bertugas di Bandung. Kami dekat, tapi pas dia ke Perancis, saya pamit menikah. Dia waktu itu bilang, akan menunggu aku menduda,” ungkap Batutah yang membuat kening saya berkerut, alis mata saya terangkat heran.

Saya sempat berpikir dungu, apa Batutah mengirimi keluarganya itu santet? Karena saya tahu benar, beberapa kali dia pernah tugas di Banyuwangi. Sementara di kabupaten yang pernah mahsyur dengan cerita “ninja-ninja” itu, atau kisah tentang seorang bocah yang bisa membuat orang lain sakit perut hanya dengan melintir sebiji lombok, terkenal dengan ilmu hitam. Betapa tidak, di zaman saya baru-baru menjadi wartawan mistik, saya pernah berkunjung ke sebuah gubuk di hutan bambu.

Rumah itu begitu misterius, tak pernah terserang sinar matahari, karena rerimbun bambu yang bergerombol lebat. Saya, dan kawan yang sangat bajingan dan bersedia ceritanya saya tuliskan di koran meski dengan nama samaran, mendatangi seorang dukun dengan kalung dari akar pohon. Kawan saya yang jahanam itu, membayar si dukun iblis dengan uang Rp 10 juta, untuk membasmi dua tetangganya. Tetangga-tetangga yang, kata kawan saya yang jahat itu, banyak omong dan suka memfitnah. Dua tetangga itu, mampus satu minggu setelah teluh dikirimkan atau tujuh hari setelah kami meninggalkan rumah setan itu.

Sampai sekarang, saya merasa laknat karena tidak menghalangi tindakan bedebah itu. Sementara saya sempat mendengar ucapan jalang tukang tenung tadi, “Kalau bayar Rp 30 juta, dua orang itu mati sekarang juga. Kalau bayar Rp 20 juta, dua orang itu mati tiga hari lagi,” papar lelaki dengan ikat kepala hitam dan tubuh penuh tatto itu.

Seekor anjing sebesar kambing layak dikurbankan, menjulurkan lidah dan tampak gundah tak jauh di belakangnya. Kalau kami bertiga sedang senyap tanpa sepatah kata, desah nafas binatang najis itulah yg terdengar seram. Satu-satu dan cepat. Sesekali gemeratak gigi bertaringnya terdengar seperti gatal mau mengerat. Hitam legam warnanya, terbersit di benak, apakah ini jelmaan siluman?!

Yang keparat, kawan saya yang kurang ajar itu sempat berseloroh setengah berkelakar, “Saya yang paket hemat saja. Rp 10 juta, satu minggu,” kelihatannya, si tengik ini sudah pernah dengar soal paket hemat.

Kembali pada Batutah, perkiraan saya bahwa dia mengirim santet pada keluarganya, segera saya lenyapkan. Tidak ada bukti, dan dosa saya sudah begitu banyaknya di dunia ini. Tak perlulah saya menambahnya dengan dosa berprasangka buruk.

Hingga pada siang yang terik, sebuah undangan meluncur ke kampus tempat saya mengajar, tak lama berselang setelah undangan via WhatsApp Batutah meluncur. “Tentu, saya akan berupaya keras untuk datang. Saya segera mempersiapkan keberangkatan ke Garut. Mungkin pakai sepur Kertajaya dari Pasar Turi. Turun Cirebon, lantas naik angkutan umum ke Garut,” saya menjawab.

Saya tidak mungkin naik bis dari Surabaya. Karena jujur saja, saya selalu mabuk darat bila terlalu lama dalam mobil atau bis. Entah mengapa.

Sesampainya di kota dodol, di alamat yang sudah tercantum pada undangan, tenda biru berdiri. Pesta digelar dengan cukup sederhana. Mubarok menyambut saya, “Sendirian, Bung?” dia berbasabasi. “Pertanyaanmu kayak orang yang sudah kawin saja,” saya berseloroh, dan kami tersenyum sambil bersalaman.

Mubarok mengarahkan saya ke tempat Batutah berada. Tidak ada pelaminan. Modelnya hanya seperti syukuran. “Tidak banyak yang diundang. Teman-teman kantor pun tidak. Namun, Batutah berencana buat prasmanan kecil pas kembali dari cuti,” Mubarok berbisik. “Justru ide seperti ini menarik,” sahut saya. “Dari pada buat pesta besar dan membuat tukang catering dan kuade makin kaya, mending uangnya dibuat bulan madu,” tambah saya. “Kayak orang pernah bulan madu saja,” bangsat benar Mubarok ini menyindir.

Saya tidak banyak mengobrol dengan Batutah. Karena, dia dikelilingi keluarga besar istrinya. Mereka suka bercanda. Juga, suka sepak bola. Mereka berbincang hangat tentang beberapa klub. Tentu saja, tentang Persebaya, klub yang dicintai Batutah, yang mulai bangkit. Dan, digadang-gadang segera naik kasta serta trengginas seperti di masa silam. Sekadar catatan, pada Piala Tiger 1998, tak kurang dari 10 pemain Persebaya terbang ke vietnam untuk memakai jersey Garuda. “Persebaya adalah tulang punggung Timnas. Seperti Barcelona bagi Spanyol”, kata Batutah berapi-api di tengah keluarga barunya.

Tak lama saya di sana. Buat apa juga saya ngendon di rumah orang. Mubarok mengantarkan saya naik sedannya ke stasiun Cirebon. Seperti biasa, karena biasa mabuk darat, saya minta izin buka kaca mobil. Di perjalanan, kami bertukar kisah. Tak banyak yang baru. Lebih banyak hanya menguak kenangan kami di masa silam.

Misalnya, saat saya dapat voucher pijat plus-plus dan membaginya pada Mubarok dan Batutah. Voucher itu dari seorang pejabat yang suka mengkritisi keberadaan tempat maksiat. “Tidak semua pejabat munafik. Tapi, pejabat munafik itu realitas,” kata Batutah waktu itu, seraya masuk tempat pijat. Kami pikir, Batutah juga wartawan yang tak kalah munafik. Dia menggaungkan gasak protitusi, bahkan sempat mewawancarai pemuka agama soal itu. Eh, dia pijat plus-plus.

Mubarok juga bercerita kalau Batutah akan bulan madu ke Bali. Dia, istri dan anaknya, akan berlibur di Pulau Dewata. Sehari setelah menikah, mereka akan diantar Mubarok ke Bandara Cengkareng. “Aku akan nyuruh orang saja bawa mobil ini ke Surabaya. Aku naik pesawat. Supaya tidak capek,” kata Mubarok sambil memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu masuk stasiun Cirebon.

Sekitar tujuh jam perjalanan, sampailah saya di Pasar Turi. Malam cukup larut, dan apesnya, saya tidak bisa tidur lagi hingga siang. Hari itu tidak ada kuliah. Saya memilih tidak datang ke kampus.

Seperti biasa, saya datangi warkop terdekat. Sambil bawa telepon pintar yang tiba-tiba berbunyi sebelum kopi yang saya pesan jadi. Terdengar Mubarok dari seberang, setengah berteriak setengah sesenggukan.

“Bung! Kami kecelakaan di Tol Palimanan! Anak dan istri Batutah meninggal. Batutah patah kaki dua-duanya,” ungkap dia. “Kamu bagaimana?” saya menyahut dengan hati berdegup kencang. “Aku tidak kurang suatu apapun,” kata dia terbata. “Saya ke sana sekarang juga!” dan penjaga warkop menyuguhkan kopi. Saya merogoh saku dan memberinya uang Rp 3 ribu. Mencicipi kopi panas sedikit dan bergegas pulang. Kali ini, biarpun mabuk darat, saya akan tetap mencarter mobil dan bertolak ke Cirebon secepat-cepatnya. (*)