Fokus HAM
Herlambang (paling kiri) saat bersama petani Blitar, usai konsultasikan kasus tanah korupsi pada pertengahan 2017. (Foto: Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter1Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga Dr. R. Herlambang Perdana Wiratraman, S.H., M.A., kembali menorehkan prestasi dikancah Internasonal. Setelah berkecimpung dalam bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) selama 14 tahun, dosen asal Jember ini terus mengaplikasikan ilmunya baik dalam bidang akademisi maupun pengabdian masyarakat.

Rabu, (22/12) Herlambang mendapat kabar membanggakan dari  Equitas, Lembaga Pendidikan HAM berbasis di Montreal Canada, Millagros Arguelles bahwa ia terpilih sebagai salah satu dari lima puluh orang pemimpin inspiratif bidang HAM. Sebelumnya, Herlambang pernah mendapat penghargaan ashoka saat usianya masih 25 tahun.

Alhamdulillah, saya bersyukur. Saya merasakan bahwa ini hasil dari banyak sinergi kolega akademisi yang tentunya melibatkan banyak pihak. Hal ini juga bermakna sekali bagi kolega akademisi di Pusat Hukum HAM FH UNAIR. Mereka berinteraksi, berinisiasi, mengembangkan kerjasama, pendidikan Hukum dan HAM secara voluntary. Modal kami solidaritas, sehingga aktifitas kami tak pernah mengenal kata berhenti. Jadi penghargaan dan pengakuan Equitas ini merupakan penyemangat iklim akademik yang terus bermakna di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ditanya mengenai upaya yang ditempuh hingga mendapat penghargaan, Ketua Human Rights Law Studies (HRLS) FH UNAIR ini mengatakan bahwa hal ini sebenarnya tidak beranjak dari peran akademisi dalam menjalankan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pusat studi.

“Kami mengembangkan kurikulum, bahan bacaan yang berkualitas, dan pengembangan metode mengajar. Di Kawasan Asia Tenggara, kita sudah membuat buku induk pendidikan HAM bagi mahasiswa se-Asia Tenggara. Bahan-bahan tersebut bisa diakses secara gratis melalui website SEAHRN. Selain itu, kita juga mengembangkan riset kolaboratif, visiting lecture, lokakarya pengembangan metode belajar melalui konferensi, seminar, dan lainnya,” tutur salah satu pendiri Serikat Pengajar HAM Indonesia tersebut.

Setelah mendapatkan penghargaan ini, Herlambang tidak berpuas diri begitu saja. Baru baru ini UNAIR telah membuat sejarah baru dengan membuat prinsip-prinsip Surabaya untuk Kebebasan Akademik. Herlambang bersama jaringan akademisi lainnya bermimpi membangun kekuatan intelektual untuk mengawal perubahan lebih baik, semakin lugas berhadapan dengan praktik korupsi, berani untuk tidak takluk dihadapan korporasi maupun pendisiplinan yang mengancam kebebasan akademik.

“Tentu ini kerja panjang dan bersama. Saya bersyukur, UNAIR memberi ruang dan kesempatan kami untuk berinovasi, mengembangkan riset dengan metode lebih imajinatif bagi perubahan. Semoga jalan ini bisa terus menguatkan mimpi-mimpi perubahan, bukan untuk saya, kami, tetapi bagi warga bangsa Indonesia. Insya Allah,” tegasnya.

Penulis : Pradita Desyanti

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter1Email this to someone