Waspadai Ancaman Difteri di Indonesia

POSISI geografis Indonesia itu sangat strategis. Terletak di daerah tropis diantara dua benua (Asia dan Australia), diantara dua samudera (Pasifik dan samudera Hindia). Kemudian dilalui garis katulistiwa dan terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur. Juga dikelilingi oleh lautan yang luas. Keadaan demikian menjadikan wilayah Indonesia memiliki keragaman cuaca dan iklim.

Keragaman iklim Indonesia ini dipengaruhi oleh fenomena global. Misalnya El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang bersumber dari wilayah Ekuator Pasifik Tengah, serta Indian Ocean Dipole (IOD) yang bersumber dari wilayah Samudera Hindia, barat Sumatera hingga timur Afrika.

Keragaman iklim itu juga dipengaruhi oleh fenomena regional, seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia. Daerah pertemuan angin antar-tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

Sementara kondisi topografi wilayah Indonesia yang memiliki daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan topografi lokal yang menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu.

Berdasarkan analisis data rata-rata 30 tahun terakhir (1981-2010), secara klimatologis wilayah Indonesia memiliki 407 pola iklim, dimana 342 pola merupakan Zona Musim (ZOM) dimana terdapat perbedaan yang jelas antara periode musim hujan dan musim kemarau. Sedangkan 65 pola lainnya adalah Non Zona Musim (Non ZOM), yang pada umumnya memiliki dua kali maksimum curah hujan dalam setahun (pola Ekuatorial) atau daerah yang sepanjang tahun curah hujannya selalu tinggi atau rendah.

Menurut informasi BMKG, awal musim hujan 2017/2018 di sebagian besar wilayah Indonesia dimulai akhir Oktober-November 2017 lalu sebanyak 260 ZOM (76.0%), sedang puncak musim hujan terjadi pada bulan Desember 2017-Februari 2018.

Padahal hingga saat ini, permasalahan kesehatan terbesar di Indonesia masih berkutat pada penyakit infeksi menular atau penyakit tropik. Sejak masa kolonial Belanda, ratusan tahun lalu, berbagai penyakit menular seperti cacar, polio, frambusia (puru), malaria, kolera, tuberkulosis, kusta, dan elefantiasis (kaki gajah) telah dilakukan pemberantasan dengan berbagai metode dan mengeluarkan dana cukup besar. Namun hingga kini, sebagian besar penyakit tersebut masih menular di kelompok masyarakat dan wilayah tertentu.

Data Kementerian Kesehatan menujukkan, sampai dengan November 2017 terdapat 95 kabupaten/kota dari 20 provinsi yang melaporkan adanya kasus difteri. Kemudian secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya terjadi kefatalan (meninggal dunia).

Sementara pada rentang Oktober hingga November 2017 terdapat 11 provinsi yang melaporkan terjadinya KLB difteri. Antara lain di Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Data ini meningkat sekitar 42% dibanding tahun 2016 dimana terdapat 415 kasus dengan 24 kematian.

Adanya kejadian tersebut menunjukkan bahwa difteria masih merupakan penyakit endemik di banyak negara. Pada awal 1980-an terjadi peningkatan insidensi kasus difteria di negara bekas Uni Soviet, karena kekacauan program imunisasi. Kemudian tahun 1990-an masih terjadi epidemik yang besar di Rusia dan Ukraina. Kemudian tahun 2000-an epidemic difteria masih terjadi dan menjalar ke negara-negara tetangga.

Difteria memang gangguan penyakit yang jarang terjadi. Biasanya, penyakit ini menyerang remaja dan orang dewasa. Di Amerika Serikat selama tahun 1980-1996 terdapat 71% kasus dan menyerang usia kurang dari 14 tahun. Tahun 1994 terdapat lebih dari 39.000 kasus difteria dengan kematian 1.100 kasus (CFR= 2,82%), sebagian besar menyerang usia lebih dari 15 tahun. Di Ekuador, Amerika Selatan, tahun 1993-1994 terjadi ledakan kasus sebesar 200 kejadian, dimana 50%-nya anak berusia 15 tahun atau lebih.

Dari tahun 1980 sampai 2010, terdapat 55 kasus difteri yang dilaporkan CDC Nasional Penyakit Surveillance System. Sebagian besar (77%) kasusnya menyerang usia 15 tahun keatas, empat dari lima kasus fatal terjadi di kalangan anak-anak yang tidak divaksinasi. Sedangkan kasus fatal yang kelima adalah seorang laki-laki yang dalam 75 tahun kembali  ke AS dari negara yang berpenyakit endemik.

Sedangkan difteri, pada beberapa negara berkembang tetap penyakit endemik, termasuk beberapa negara Karibia, Amerika Latin, Eropa Timur, Asia Tenggara, dan Afrika. Dari wabah inilah mayoritas kasus menimpa kalangan remaja dan orang dewasa, bukan anak-anak! Mengapa? Karena banyak remaja dan orang dewasa belum menerima vaksinasi rutin, atau dosis booster toksoid difteri.

Pada tahun 2011 dengan 806 kasus difteri, Indonesia merupakan negara tertinggi kedua setelah India. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2010, dimana Indonesia juga negara tertinggi kedua dengan kejadian 385 kasus difteri. Kemudian tahun 2009 terdapat 189 kasus atau meningkat dari tahun 2008 (219 kasus).

Sedangkan kasus difteri tertinggi di dunia terjadi di India. Di negeri ”Kisah Mahabharata” itu tahun 2008 pernah terjadi 3.977 kasus difteri. Kemudian menurun di tahun 2009 tinggal 3.529 kasus, dan tahun 2010 turun lagi jadi 3.123 kasus. Tetapi tahun 2011 meningkat lagi terdapat 3.485 kasus.

Sudan merupakan negara tertinggi kedua dengan 193 kasus difteri pada tahun 2011. Sedangkan Nepal merupakan negara tertinggi ketiga dengan 146 kasus difteri pada tahun 2010, dan 277 kasus pada tahun 2009, serta 149 kasus pada tahun 2008.

Perlu diketahui bahwa Corynebacterium Diphteriae adalah kuman batang gram-positif (basil aerob), tidak bergerak, pleomorfik, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, dan bisa mati pada pemanasan 60º Celsius, tetapi tahan dalam keadaan beku dan kering. Corynebacterium diphtheria ini dapat diklasifikasikan dengan cara bacteriophage lysis menjadi 19 tipe.

Tipe 1-3 termasuk tipe mitis. Tipe 4-6 termasuk tipe intermedius. Tipe 7 termasuk tipe gravis yang tidak ganas, sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang virulen.

Sedangkan Corynebacterium diphtheria ini, baik dalam bentuk satu atau dua varian yang tidak ganas, dapat ditemukan pada tenggorokan manusia, yaitu pada selaput mukosa. Inilah maka manusia merupakan reservoir tunggal dan sumber penularan utama difteri, baik sebagai penderita maupun sebagai carier.

Cara penularannya difteri ini bisa melalui kontak dengan penderita, yaitu pada masa inkubasi atau masuknya bibit penyakit melalui kontak dengan carier yaitu melalui batuk, bersin atau berbicara dan kontak tidak langsung melalui debu, baju, buku atau mainan yang terkontaminasi oleh bakteri difteri.

Masa inkubasi penyakit difteri ini antara 2 – 5 hari, sedangkan masa penularan penderita 2-4 minggu sejak masa inkubasi, sedangkan masa penularan carier bisa sampai enam bulan.

Penularan kuman yang infektif itu bisa melalui tetesan air liur akibat batuk, bersin, dan berbicara atau melalui alat-alat atau pakaian dan makanan atau minuman yang terkontaminasi. Tingkat kekebalan terhadap difteri pada setiap negara memang bervariasi. Hal ini dipengaruhi antara lain oleh kepadatan, sanitasi, dan higienitas yang kurang baik, sehingga memiliki peranan cukup penting dalam proses penularan difteri.

Dengan sifat-sifat seperti diataslah maka pada musim penghujan ini sangat rawan dengan penyakit berbasis lingkungan, misalnya Infeksi Saluran Atas (ISPA), termasuk difteri. Hal ini disebabkan penularan bakteri difteri ini melalui udara atau droplet.

Meningkatnya intensitas hujan akibat anomali cuaca, sangat rentan menyebabkan banyak lokasi menjadi rawan banjir. Sampah yang menumpuk serta suhu udara yang cepat berubah, andil memudahkan ketahanan tubuh seseorang menurun drastis, terutama pada anak-anak dan remaja.

Meningkatkan daya tahan tubuh anak dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan minuman yang mengandung vitamin C, pola makan yang teratur dan mengatur pola tidur, termasuk vaksinasi yang dicanangkan oleh pemerintah, merupakan langkah-langkah preventif dalam menghadapi penyakit tropis, termasuk difteri ini. Jadi waspadai. (*)

Editor : Bambang Bes