masa sulit
DOKTOR Meisy Andriana (hijau) bersama salah seorang puterinya dalam suatu kesempatan. (Foto: Ist)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dr. Meisy Andriana, dr., Sp. KFR-K., perasaannya lega. Hal ini lantaran berhasil menyelesaikan studi Doktornya (S3) secara tepat waktu. Bahkan tidak hanya tepat waktu, tetapi disertai lulus sebagai wisudawan terbaik Prodi S3 Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga. Meisy meraih IPK 3,87.

Perjuangannya menyelesaikan studinya ini terbilang cukup berat. Di awal studinya, wanita kelahiran Surabaya 1 Mei 1960 ini harus menerima takdir, yaitu suami tercintanya, Dr. Heru Koesbijanto, dr., Sp.,B, BTKV(K), meninggalkannya untuk selama-lamanya.

”Suami tercinta pergi. Ini yang membuat saya sempat vakum, dan malah berniat mundur. Saya kehilangan semuanya, baik semangat dan motivasi. Tetapi perlahan-lahan bisa bangkit, dan sangat bersyukur akhirnya berhasil menyelesaikan amanahnya,” kata Dr. Meisy.

Tak ingin sedih terlalu lama, ibu dari dr. Kinanti Koesandrini dan Tatya Koesandriani itu, berusaha tegar dan melanjutkan studinya. Dalam tugas akhirnya, Meisy meneliti ”Mekanisme Regulasi Transporter Folat SLC 19a1 dan Receptor Folat α di Duodenum pada Tikus Hiperhomosistein yang Mendapatkan Asam Folat dan Latihan Fisik Intensitas Sedang.

Meisy terinspirasi setelah melihat banyak stroke survivor yang berulang walau faktor risikonya terkendali. Itu disebabkan tingginya kadar homosistein dalam tubuh. Sebab, homosistein merupakan faktor sekunder yang sering terlupakan. Menurutnya, pencegahan menurunkan kadar homosistein itu sederhana. Yakni, pemberian asam folat yang cukup murah serta berolahraga.

Kemudian, Meisy juga sibuk mengajar dan bergiat di Departemen Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FK UNAIR/RSUD Dr. Soetomo sebagai koordinator prodi. ”Menjelang ujian kelayakan dan tertutup, saya harus mempersiapkan akreditasi prodi dengan LAM-PTKES. Jadi, pontang-panting antara ujian dan akreditasi. Alhamdulillah, dua minggu sebelum ujian disertasi, akreditasi prodi lulus dan berpredikat A,” katanya.

Dokter di Divisi Neuro Rehabilitasi RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR ini mengaku tak punya metode khusus dalam belajar. ”Saya hanya mengandalkan mood. Sebenarnya jelek ya, tapi saya tetap punya prinsip dan target. Tidak berambisi serta menjalani semuanya dengan easy going,” tuturnya. (*)

Penulis: Sefya H. Istighfaricha.

Editor : Feri Fenoria.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
mm

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).