Maulid Internasional
Rektor UNAIR Prof. Nasih bersama Habib Ali Zainal (gamis hitam) dan Habib Idrus (gamis cokelat) khusyu berdoa di penghujung acara. (Foto: Nuri Hermawan)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Usai Salat Isya ditegakkan, senandung salawat terus menggema di Masjid Ulul Azmi Kampus C Universitas Airlangga. Sabtu malam (16/12) untuk kali pertama, UNAIR bersama Takmir Masjid Ulul Azmi menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengundang ulama dari luar negeri. Ialah Habib Ali Zainal Abidin Al Hamid selaku pemimpin Majelis Taklim Darul Murtazda – Malaysia. Selain itu, hadir pula Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus selaku pembina Majelis Rasulullah SAW – Jawa Timur.

Acara yang dikemas dalam Gebyar Maulid Internasional 1439 H itu mengusung tema “Menggapai Syafa’atmu dengan Cinta Wahai Rasulullah”. Hadir pula dalam acara tersebut Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih. Dalam sambutannya, Prof. Nasih mengajak semua hadirin untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Pasalnya, bagi Prof. Nasih, bisa berkumpul di tengah orang-orang yang shalih dengan memperingati kelahiran Sang Pemimpin umat merupakan karunia yang luar biasa dari Allah SWT.

“Sungguh yang demikian ini adalah rahmat dari Allah yang sangat besar, tanpa rahmat dan pertolongan-Nya tidak mungkin kita bisa melakukan dan berkumpul di majelis yang mulia seperti ini,” papar Guru Besar FEB UNAIR itu. “Semoga maksud dan cita-cita seluruh hadirin dan civitas akademika UNAIR bisa tercapai, utamanya dalam mengemban amanah dan menebar kemanfaat untuk umat,” imbuhnya.

Usai sambutan dari Prof. Nasih, selanjutnya acara cermah pertama disampaikan oleh Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus. Dalam ceramahnya, Habib Idrus menegaskan bahwa setiap umat Islam yang beriman tentu merindukan dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai tauladan dalam kehidupan. Tidak lupa, Habib Idrus juga memberikan contoh peran dan ahlak Nabi Muhammad yang menjadi teladan dan laku hidup para sahabat-sahabat Nabi.

“Allah pun menyebutkan dalam Quran bahwa sahabat Nabi itu ridha kepada Allah SWT dan Allah pun ridha akan mereka,” tegasnya.

Pembina Majelis Rasulullah Jawa Timur itu juga mengisahkan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW. Ialah Haritsah yang kisah hidupnya perlu menjadi teladan pemuda hari ini. Menurut Habib Idrus, kecintaan kepada Allah SWT  yang sangat besar mampu mengantarkan haritsah mendapat derajat syahid.

“Saat cinta Haritsah begitu besar kepada Allah SWT, bukan dunia yang diminta tapi syahid di jalan Allah SWT,” jelas Habib Idrus.

Selanjutnya, ceramah kedua disampaikan oleh Habib Ali Zainal Abidin Al Hamid. Ulama dari Malaysia itu membuka ceramah dengan mengingatkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad di dunia adalah hadiah bagi umat manusia. Hadiah besar itu, bagi Habib Ali, merupakan hadiah dari Allah SWT yang manusia tidak bisa membalasnya.

“Selain menjadi hadiah bagi kita semua, Rasulullah SAW juga menjadi tauladan dalam setiap gerak hidup kita,” tegasnya.

Habib Ali juga menjelaskan bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pembaca ayat. Artinya, menurut Habib Ali, hal-hal yang dibacakan oleh Nabi merupakan semua hal yang bersandar dari Allah SWT. Selanjutnya, hadirnya nabi juga menjadi penyuci hati dan jiwa serta pembawa ilmu. Oleh karena itu, tambah Habib Ali, peradaban yang ditinggalkan oleh Nabi bukanlah kekuasaan melainkan ilmu dan akhlak.

“Ilmu dan akhlak ini tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, Nabi Muhammad diutus ke dunia ini tidak lain untuk menyempurnakan akhlak,” tandas Habi Ali.

Penulis : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone