keluarga
SERLIE Kristin Andriani Littik, menunjukkan Simpai sebagai wisudawan terbaik, saat wisuda di Gedung ACC Universitas Airlangga, Minggu (3/12). (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Serlie Kristin Andriani Littik, terbilang tangguh dan gigih dalam menuntaskan pendidikan S-3 prodi Ilmu Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Melalui penelitiannya model realized access bayi berdasarkan potential access, ia berhasil meraih predikat wisudawan terbaik dengan IPK 3,88.

“Hal mendasar mengangkat topik ini karena tingginya kasus kesakitan dan kematian bayi, sementara itu ditemukan rendahnya pemanfaatan fasilitas kesehatan bayi di daerah penelitian. Terlebih terbatasnya otonomi ibu dalam pengambilan keputusan,” terang Serlie.

Perjalanan Serlie menempuh S-3 ini tidak mudah. Tantangan terberatnya harus meninggalkan keluarga dan dua anaknya yang masih balita. Kesehariannya, ia harus sendiri tinggal di Surabaya. Tapi dukungan serta doa keluarga dan teman-temannya membuatnya tegar menjalani setiap proses. Tidak terlepas dorongan promotor dan ko-promotor yang terus memacu untuk maju.

“Saya bersyukur mendapatkan promotor dan ko-promotor yang sangat mendukung. Beliau menyediakan waktu membimbing dan memotivasi saya di tengah kesibukan dan kepadatan jadwal,” tambah perempuan asal Kupang NTT ini.

keluarga
REKTOR Universitas Airlangga Prof. M Nasih menyerahkan Piagam Wisudawan Terbaik kepada Serlie Kristin Andriani Littik, dalam wisuda di UNAIR, Minggu (3/12) lalu. (Foto: Helmy Rafsanjani)

Disamping itu, Serlie memiliki pandangan bahwa tak semua orang bisa melanjutkan studi. Jadi banyak hal yang harus dikorbankan dalam menempuh perkuliahan. Baginya, inilah motivasi untuk memberikan yang terbaik sebagai bentuk tanggungjawab kepada institusi, keluarga, dan Tuhan.

“Anak saya sempat jatuh sakit di Kupang, tentu sebagai ibu sulit untuk tetap fokus. Saya pun belajar menyerahkan diri dan anak-anak kepada Tuhan,” tutur Serlie.

Ia yakin tidak ada sesuatu yang instan, sehingga perlu memiliki target untuk membuat manajemen waktu menjadi lebih baik dan mengurangi stress karena lebih disiplin. Terakhir adalah berdoa dan bekerja keras tanpa patah semangat, namun tidak lekas puas akan pencapaian. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone