wisudawan
MIGUEL dengan bangga menunjukkan gordon Wisudawan Terbaik yang diraihnya, saat diwisuda Minggu (3/12) lalu. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sembilan tahun tinggal di Indonesia, membuat Miguel Angel Esquivias Padilla, merasakan bahwa Indonesia sudah seperti kampung sendiri. Laki-laki kelahiran Jelisco, Mexico, 10 September 1983 ini, menyatakan bersyukur dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Prodi Doktor (S3) Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga dalam wisuda hari Minggu (3/12) lalu. Miguel meraih IPK 3,95.

“Selama studi, saya tidak ada target untuk mencari penghargaan, apalagi studi S3 ini sebuah komitmen saya untuk menjalankan pendidikan yang sebaik mungkin,” kata Miguel, yang juga staf pengajar di almamaternya, FEB UNAIR.

Baginya, menempuh studi di Indonesia tidaklah mudah. Pada tahun pertama saja, beasiswa yang ia harap-harapkan tidak bisa “cair” karena berbagai sebab. Sehingga ia harus mengerahkan tabungannya sebagai biaya studi.

”Pada awalnya waktu saya sangat terbatas, karena harus membaginya antara untuk studi dan menjalankan penelitian,” jelas Miiguel keopada unair.news.

Dalam disertasinya, ia meneliti yang terkait ASEAN intergration, khususnya pada production sharing atau vertical specialization di kawasan ASEAN. Baginya, ASEAN sebagai wilayah yang potensial dengan integrasi India, Cina, dan negara lainnya telah menciptakan sebuah jaringan besar menjadi area perdagangan bebas terbesar di dunia untuk lima tahun kedepan.

wisudawan
SAAT Miguel menerima piagam penghargaan dari Rektor UNAIR Prof. M. Nasih. (Foto: Helmy Rafsanjani)

“Duka yang saya alami selama proses penelitian tentunya harus membaca puluhan artikel hingga belajar teknik baru. Bahkan sempat dua kali publikasi saya ditolak,” tutur pria yang dulu juga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik saat lulus S2 Ilmu Ekonomi UNAIR ini.

Setelah studi S3 ini, ia akan tetap melanjutkan karir di Indonesia. Baginya, Indonesia sudah menjadi layaknya rumah sendiri. Meskipun tidak mudah dalam hal imigrasi atau ketenegakerjaan, tetapi Miguel yakin hambatan itu akan dapat diatasi.

“Kedepan saya akan terus berusaha menjadi akademisi kelas dunia. Saya dibesarkan dalam keluarga dengan pemikiran, mimpi dan kerja yang tidak terbatas oleh suatu wilayah. Orang tua saya mendidik agar pergi kemanapun untuk memberikan manfaat dan kontribusi,” kata Miguel, mantab. (*)

Penulis: Siti Nur Umami

Editor: Nuri Hermawan/bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone