MENJELANG ujian semester, misalnya UAS, perpustakaan biasanya banyak dikunjungi mahasiswa. (Foto: Helmy Rafsanjani)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

MENJELANg akhir tahun 2017 ini, Ujian Akhir Semester (UAS) diselenggarakan. Setidaknya dalam masa sekitar dua pekan itu, mahasiswa idealnya mencurahkan pikiran, waktu, dan tenaga untuk belajar.

Mempersiapkan diri menghadapi soal-soal ujian, semakin rajin mengunjungi perpustakaan, mencari bahan bacaan, serta mengunjungi situs-situs penyedia jurnal penelitian, utamanya bagi mereka yang berhadapan dengan UAS dalam bentuk penugasan.

Umumnya, nilai yang diperoleh saat UAS itu memiliki porsi yang tinggi terhadap nilai akhir suatu mata kuliah yang telah dipelajari selama satu semester. Tidak heran, jika momentum UAS bagi sebagian mahasiswa menjadi sangat sacral, karena hasil yang diperoleh saat UAS sangat menentukan apakah seorang mahasiswa perlu mengulang kembali suatu mata kuliah atau bisa melangkah pasti pada semester berikutnya tanpa ada tanggungan mata kuliah yang harus diulang.

Itu berarti bahwa UAS sebenarnya adalah ujian kemampuan dan pengetahuan bagi mahasiswa tentang apa yang telah mereka pelajari dalam satu semester terakhir. Nilai yang diperoleh itu dianggap sebagai representasi pengetahuan dan kemampuan seorang mahasiswa.

Pertanyaannya, apakah nilai tersebut benar-benar mewakili kemampuan dan pengetahuan seorang mahasiswa? Pertanyaan ini muncul karena telah menjadi rahasia umum bahwa ada mahasiswa ber-IP (Indeks Prestasi) tinggi tetapi gagal membuktikan kemampuannya ketika dihadapkan pada tuntutan dunia kerja. Ada juga kenyataan lain bahwa dalam proses penyelesaian ujian, mahasiswa melakukan kecurangan, seperti mencontoh pekerjaan mahasiswa lain, bahkan melakukan plagiasi.

Fakta lainnya, sejumlah mahasiswa masih melakukan metode “SKS” (Sistem Kebut Semalam) dalam mempersiapkan diri mengahadapi ujian, maupun dalam menyelesaikan suatu penugasan take home. Akibatnya, memang ada yang berhasil meraih prestasi belajar dengan hasil bagus, tetapi apakah materi yang dipelajari dalam tempo sesingkat-singkatnya itu akan bisa diingat dalam jangka panjang?

Kemungkinan besar tidak, karena saat melakukan metode kebut semalam, sebenarnya seseorang hanya memasukkan suatu informasi ke dalam ingatan jangka pendek (short term memory). Dengan kata lain, meskipun segala bentuk upaya yang dilakukan, seperti mencontoh orang lain, plagiasi, maupun “SKS” tadi, bisa saja membuat mahasiswa mendapat prestasi yang tinggi (kuantitas bagus), tetapi kualitasnya dipertanyakan.

Hal ini sekaligus menjadi jawaban mengapa di luar sana masih bertebaran sarjana yang dianggap belum bisa mendayagunakan ilmunya. Mungkin saja permasalahan dulunya adalah mahasiswa yang hanya main-main dalam menjalani proses perkuliahan, seperti terurai diatas.

Dengan demikian, UAS selain sebagai ujian pengetahuan dan kemampuan juga adalah ujian kejujuran. Mahasiswa diuji untuk jujur terhadap diri sendiri tentang apakah usaha yang dilakukan selama ini memang sudah layak untuk diganjar dengan nilai yang tinggi? Juga, apakah ilmu yang dipelajari sudah benar-benar dipahami? Tentu, juga jujur apakah memang nilai yang diperoleh adalah murni hasil usaha sendiri?

Pastinya, UAS bukan hanya tentang lolos dari semester ini untuk menuju ke semester berikutnya. Atau UAS untuk meraih nilai tinggi demi membuat bangga orang tua, pacar, dsb, melainkan pertanggungjawaban jangka panjang tentang seberapa dalam pengetahuan yang telah dimiliki oleh para ilmuwan-ilmuwan muda. Padahal, ilmuwan muda inilah kedepan akan dibaktikan untuk menyegerakan kemajuan bangsa. Semoga. (*)

Editor : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone

Penulis adalah mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, tinggal di: nuraafif1616@gmail.com