terbaik
NURMALASARI pada saat di suatu kebun pembibitan tanaman. (Foto: dok Pribadi)
ShareShare on Facebook164Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Termotivasi dari kurang maksimalnya penggunaan alat deteksi penyakit tanaman buatan luar negeri, mendorong peneliti dalam negeri mencari alternatif lain alat yang lebih cocok digunakan di Indonesia.

Berangkat dari itulah Nurmalasari, mahasiswa S3 Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga meneliti untuk disertasinya dengan judul “Pengembangan Metode Imunodiagnosis Penyakit Mosaik Tebu Menggunakan Antibodi Untuk Rekombinan Protein Kapsid Sugarcane Mosaic Virus”. Akhirnya ia dinyatalan lulus sebagai wisudawan terbaik dengan meraih IPK 3,91.

Menurut Nurmalasari, penelitian yang ia lakukan itu untuk memperoleh antibodi poliklanal spesifik. Hal itu sebagai uji cepat deteksi penyakit mosaik tebu yang dilakukan Sugarcane Mosaic Virus (SCMV) dari lima kabupaten di Jatim yaitu Magetan, Madiun, Lumajang, Jember, dan Bondowoso.

”Penelitian ini saya lakukan selama tiga tahun, dengan sampel berupa daun tebu yang menunjukkan gejala visual penyakit Mosaik dari lima kabupaten untuk mendapatkan sumber gen protein kapsid SCMV,” jelasnya.

terbaik
NURMALASARI ketika menerima piagam penghargaan dari Rektor UNAIR, seusai wisuda, Minggu (3/12). (Foto: Helmy Rafsanjani)

Disamping tanggungjawabnya menjadi staf urusan pembibitan tanaman, wanita asal Surabaya ini hanya berharap –saat itu—bisa menyelesaikan studi S3-nya dengan tepat waktu.

”Sebenarnya di PT Perkebunan Nusantara XI itu tidak ada tuntutan untuk harus kuliah lagi. Tetapi dengan kuliah, kemampuan kerja akan semakin terasah dan jauh lebih matang. Pendidikan sangat berguna, jadi jangan menganggap kuliah hanya untuk naik jabatan,” papar Nurmalasari.

Disamping menjadi seorang ibu rumah tangga dan dosen di sebuah universitas di Surabaya serta di Universitas Negeri Jember, motivasi untuk belajar pun tak ada pasang surutnya. Ia berprinsip untuk mencapai semua prestasinya itu adalah disiplin waktu.

”Pada kuliah ini pun saya tidak mau merepotkan banyak orang di sekitar saya, baik keluarga, rekan kerja dan lainnya. Dulu saya cuma ingin lulus tepat waktu, jadi tidak terbesit menjadi wisudawan terbaik,” kata Nurmalasari. Kendati demikian ia tetap mensyukurinya. (*)

Penulis: Disih Sugianti

Editor : Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook164Tweet about this on Twitter0Email this to someone