Sri Sumarmi, S.K.M., M.Si, saat memberikan pelatihan kepada para modin di dua kecamatan di Sidoarjo, Selasa (5/11). (Foto: Binti Q. Masruroh)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sri Sumarmi, S.K.M., M.Si, dosen Universitas Airlangga (UNAIR), mengembangkan konsep preconception nutrition atau gizi prakonsepsi. Konsep tersebut sebagai upaya preventif dalam rangka menurunkan masalah anemia, komplikasi kehamilan, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), dan kematian ibu melahirkan.

Mamik, sapaan karibnya, mengembangkan konsep itu dalam sebuah sistem dengan nama Layanan Terpadu Pranikah (laduni). Tujuannya, menyelamatkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Agar bisa menyelamatkan masa kritis di awal kehamilan, program harus dimulai pada masa prakonsepsi.

Sebagai pilot project, dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR itu memberikan workshop dan pelatihan kepada para petugas laduni. Pelatihan yang diberikan kepada seluruh modin di Kacamatan Tarik dan Balungbendo, Kabupaten Sidoarjo ini, berlangsung Selasa (5/12) bertempat di Rumah Makan Ganjarane Hidayah, Sidoarjo.

“Generasi yang sehat diawali dengan persiapan yang sehat,” tutur Mamik. “Pada prinsipnya, program ini menjaring calon ibu untuk berupaya menungkatkan kesehatan lebih awal. Sehingga ketrika hamil, badan dan kandungannya sehat,” tambahnya.

Laduni adalah pelayanan yang bersifat menyeluruh kepada calon pengantin yang akan melangsungkan pernikahan. Layanan tersebut meliputi administratif, kesehatan, dan konseling. Sedang komponen yang terlibat dalam pelayanan meliputi aparat desa, petugas KUA, petugas puskesmas, bidan desa, petugas layanan keluarga berencana (PLKB), hingga petugas Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Selain mendapatkan pelayanan dari petugas, calon pengantin juga akan mendapatkan vitamin laduni, vitamin dengan 15 macam multifitamin yang didapat langsung dari lembaga kesehatan dunia UNICEF.

“Program pemberian tablet besi hanya kepada ibu hamil. Padahal, akan lebih baik lagi jika sebelum hamil sudah diintervensi,” ucap Mamik.

Sebelumnya, sistem laduni sudah Mamik kembangkan di sembilan kecamatan di Probolinggo. Project ini mendapat sokongan dana dari Danone Institute Indonesia. Program ini mendapat sambutan baik, bahkan Pemkot setempat turut memberikan dukungan. Respon positif itu muncul sebab mekanisme yang Mamik tawarkan membantu puskesmas untuk memonitoring ibu hamil.

Mengenai regulasi program di Sidoarjo, rencananya akan dibicarakan dalam sebuah payung hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Mamik berharap, konsep yang ia tawarkan dapat diterima di masyarakat. “Harapannya program ini bisa diterapkan di tempat lain. Syukur nanti bisa merata untuk jadi program unggulan di Jatim,” terangnya.

Sebelum pelatihan kepada para modin, Mamik bersama tim dosen telah menyelenggarakan dua kali workshop yang melibatkan petugas dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), Kementerian Agama (Kemenag), organisasi profesi, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, dan beberapa petugas terkait lainnya.

Workshop tersebut meliputi workshop pemantapan sistem layanan yang diselenggarakan pada 2 November, dan workshop penyusunan modul dan buku untuk petugas serta calon pengantin yang diselenggarakan pada 15 November lalu. Sesuai rencana, tanggal 8 Desember besok akan dilakukan pelatihan terhadap petugas dari kecamatan. (*)

Penulis : Binti Q. Masruroh

Editor    : Rio F. Rachman

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone