Ilustrasi
Ilustrasi guyanachronicle.com
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Orang dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus)-AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) (ODHA) tidak untuk dijauhi. Yang dijauhi adalah penyakitnya. Demikianlah yang disampaikan Direktur Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Prof. Dr. Nasronuddin, dr.,Sp.PD., KPTI-FINASIM., saat membuka seminar HIV-AIDS pada Selasa (5/12) di Aula Dharmawangsa.

Dalam seminar yang digelar mahasiswa angkatan 2015 Fakultas Keperawatan UNAIR itu, Prof. Nasronudin berharap agar masyarakat semakin peduli dengan ODHA. Salah satunya, dengan cara berani hidup berdampingan dengan mereka. Selain itu, tambahnya, ODHA mesti optimistis dan selalu menumbuhkan harapan dengan meningkatkan kekebalan tubuhnya.

“Salah satu caranya, ya seperti penampilan ini. Menyanyi dan menari. Menyehatkan itu,” ucapnya. “Ilmiahnya, setiap kesenangan itu akan diterima otak yang namanya sistem medik. Sistem ini akan menjangkau otak bagian tengah. Di sana, ada kelompok sel bernama PVN (Paraventricular nucleus) yang membawa pesan gembira tadi ke otak bagian depan. Di sana, ada kelompok sel bernama POMC (Propriomelanokortin). Di situ hormon ACTH (Adrenokotikotropik) sedikit dikeluarkan,” papar Prof. Nasron.

Selanjutnya, Prof. Nasronudin juga berpesan, meski mengidap penyakit, ODHA harus tetap berani tampil percaya diri dalam menatap masa depan. Termasuk bekerja. Sebab, menurut dia, bekerja sangat penting karena dapat membunuh waktu agar masa lalu yang buruk tidak teringat.

“Ini sesuai dengan tema Hari AIDS Internasional ‘Saya Berani, Saya Sehat’. ODHA harus berani memeriksakan dirinya. Berani menyatakan serta menunjukkan dirinya terinfeksi. Pasangannya atau lingkungannya juga harus berani hidup berdampingan dengan ODHA. Dan, masyarakat mesti berani mendukung dan mem-backup kegiatan-kegiatan semacam ini (terkait ODHA, Red),” tuturnya.

Sementara itu, Dr. Tri Pudy Asmaraswati, Sp. Pd., selaku pemateri dalam seminar tersebut menyampaikan bahwa Indonesia menghadapi epidemik, wabah, HIV terkonsentrasi di sebagian besar provinsi. Kecuali Papua dan Papua Barat yang menghadapi HIV pada populasi umum. Berdasar data Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan I (sampai Maret) 2016 Kementerian Kesehatan, penderita HIV mencapai 1.146 orang dan AIDS 305 orang.

“HIV diobati melalui terapi ARV selama enam bulan per satu tahun. Targetnya, 90 persen dari yang mendapat ARV mengalami supresi (penghentian, Red),” ujarnya.

Di sisi lain, Ketua panitia Seminar HIV-AIDS Arman Rosyadio Firmansyah menyatakan bahwa kegiatan itu merupakan bentuk kerja sama antara FKp UNAIR melalui mahasiswa angkatan 2015 dan RSUA. Selain mahasiswa, seminar tersebut dihadiri sejumlah anggota Couple Community, yaitu salah satu komunitas perempuan dengan penderita HIV di Kota Surabaya yang berdiri pada 2011, dan masyarakat umum. (*)

Penulis: Feri Fenoria

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone