orang tua
EMA Marantika disamping teman-temannya menunggu dikukuhkan sebagai wisudawan UNAIR, Sabtu (2/12) di Gedung ACC UNAIR. (Foto: Bambang bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Cerita mahasiswa tingkat akhir umumnya hampir sama, menyelesaikan tugas akhir dengan bolak-balik mengganti tema, judul penelitian, bahkan merombak isi skripsi. Itulah yang dialami Ema Marantika. Namun akhirnya berbuah manis. Wisudawan asli Kabupaten Nganjuk yang akrab disapa Ema itu, dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)  Universitas Airlangga dalam wisuda 2 Desember kemarin. Ia meraih IPK 3,77.

Tidak hanya itu. Ema sempat beberapa kali mengganti bagian teori dalam skripsinya, juga lokasinya. Tentu saja ia juga menemui berbagai tantangan, mulai dari mengalami kecelakaan yang ia alami sendiri, hingga ada beberapa kendala komunikasi dengan lokasi penelitiannya.

“Kalau masalah teori memang saya gonta-ganti, karena waktu itu pemahaman saya yang keliru dan akhirnya diarahkan oleh dosen pembimbing saya,” kenang Ema Marantika.

Aktivis yang selama dua periode ikut mengabdi pada Organisasi Bidikmisi Universitas Airlangga (AUBMO – Airlangga University Bidik Misi Organization), merasa senang karena telah berhasil mewujudkan keinginan dan kebahagiaan orang tuanya, yaitu menjadi wisudawan terbaik S1 FISIP UNAIR.

”Ini memang mimpi dan keinginan belau (orang tua – red), dan alhamdulillah saya bisa memenuhinya,” katanya terharu.

Ditanya tips bisa menjadi yang terbaik? Ema mengatakan, kepada mahasiswa tingkat akhir hendaknya perlu bekerja keras untuk mencari topik atau tema. Kemudian hal-hal yang perlu diperhatikan adalah tidak boleh takut ketika akan menemui dosen pembimbing, meskipun dosen itu killer.

”Perihal menemui dosen pembimbing, jika ia killer, bisa diatasi dengan banyak bekal. Salah satunya dengan memperbanyak membaca referensi, baik referensi dari dalam ataupun luar negeri,” imbuhnya.

Pada akhir tipsnya, Ema kembali mengingatkan bahwa hal-hal yang sering dialami oleh mahasiswa adalah rasa malas. Kemudian jika kebetulan pas rasa malas datang, maka perlu untuk sejenak mencari hiburan, refreshing untuk melepaskan penat. (*)

Penulis : Akhmad Janni.

Editor : Nuri Hermawan.

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone